Featured

Forum Guru, Gotong Royong Wujudkan Sekolah Ramah Anak

Dalam perjalanannya, Yayasan Setara berkomitmen untuk menegakkan hak-hak anak.Upaya-upaya terus dilakukan, baik dalam mengedukasi anak-anak maupun orangtua serta guru. Yayasan Setara mendampingi 5 Kampung dan 8 Sekolah Dasar di daerah merah di Kota Semarang.

Guru merupakan salah satu pilar penting dalam tumbuh kembang anak, apalagi di daerah merah. Kerawanan mengenai kekerasan tidak hanya bisa terjadi di lingkungan rumah, namun juga di sekolah. Oleh karena itu, Yayasan Setara merangkul guru untuk membentuk suatu forum dari 8 sekolah, di mana akan ada pertemuan yang tujuannya memberi edukasi kepada guru mengenai seputar dunia anak.

Yayasan Setara telah bekerjasama dengan 8 Sekolah Dasar di Kota Semarang dalam rangka membangun dan mengembangkan Sekolah ramah anak sejak tahun 2012 yang merupakan satu gagasan yang dimunculkan dalam Rencana Aksi Nasional Penanganan Kekerasan Terhadap Anak (RAN PKTA) yang diatur dalam Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 2 tahun 2010.

Beberapa kegiatan rutin dilakukan bersama 8 Sekolah Dasar yaitu kegiatan kelompok anak, sosialiasi ke orang tua murid, dan diskusi internal guru. Yayasan Setara juga mengembangkan forum guru yang terdiri dari perwakilan 8 Sekolah Dasar sebagai wadah untuk sharing antar sekolah dan peningkatan kapasitas untuk guru dari 8 Sekolah Dasar tersebut. Setiap pertemuan, tiap sekolah mengirimkan 3 perwakilannya, yang kemudian dari 3 perwakilan tersebut akan menyebarkan materi yang di dapat kepada guru-guru lain di sekolahnya masing-masing.

Dalam forum guru, materi yang diberikan merupakan hasil diskusi dan kesepakatan antar guru. Jadi, dipastikan bahwa materi-materi yang Yayasan Setara berikan merupakan apa yang dibutuhkan oleh guru. Narasumber yang Yayasan Setara datangkan pun sesuai dengan bidangnya dan berkompeten.

Beberapa agenda forum guru yang pernah dilaksanakan;

No Lokasi Materi Pemateri
1. SDN 04 Jomblang Hak-hak Anak sebagai bagian penting Hak asasi manusia Mohammad Farid (Mantan anggota KOMNASHAM)
2. SDN 02 Kuningan Semarang Kebijakan Sekolah Ramah anak di Kota Semarang Dinas Pendidikan Kota Semarang
3. SDN 03 Jomblang Mengenal Perilaku anak di Sekolah dan Bagaimana menghadapinya dengan tepat Frieda NRH (Psikolog dan Dosen UNDIP)
4. SD Islam Al-iman Mekanisme penanganan Kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang Ninik Jumonita (Fulltimer PPT Kota Semarang)
5. SD Islam Muhamadiyah Memahami Bahaya Penyalahgunaan Narkotika Dr.Puspita Jauharil Fara (Bagian Rehabilitasi BNN Provinsi Jawa Tengah)
6. SD PL Servatius Memahami pendidikan partisipatif anak melalui program sekolah ramah anak Bahrudin ( aktivis dan penggerak sekolah alternative Qhoriyah Toyibah )
7 SD N Kuningan 01 Berbagi pengalaman  tentang Perlindungan anak berbasis masyarakat Suranto (aktivis anak , mantan mitra PLAN Rembang dan Kebumen
8 SD N Kuningan 01 Mekanisme dan prosedur penanganan kasus Ninik Jumonita (Fulltimer PPT Kota Semarang)
9. SD N Jomblang 03 Pengembangan peraturan tanpa penghukuman fisik disekolah Odi Shalahudin (direktur SAMIN Jogyakarta.
10 SD N Jomblang 04 Metode penanganan kasus Anak Kuriake Kharismawan,Psi.Msi

Dosen Psikologi UNIKA Semarang

Kegiatan ini sendiri berjalan dengan lancar sejak 2014 – April 2017 dengan pertemuan rutin setiap bulannya.

Dengan berakhirnya program, bukan berarti komitmen 8 sekolah ini dalam mewujudkan sekolah ramah anak berakhir juga. Yayasan Setara tetap melakukan pendampingan di 8 sekolah tersebut.

Pun 8 Sekolah dasar tersebut telah menghasilkan kebijakan mengenai sekolah ramah anak di sekolahnya masing-masing, misalnya hukuman fisik yang telah diganti menjadi sanksi bermanfaat untuk anak, serta tidak ada lagi kekerasan di sekolah.

Hal ini merupakan salah satu langkah besar untuk sekolah-sekolah dasar di daerah merah kota Semarang. Bahwa di manapun, sekolah ramah anak bisa diwujudkan dengan kerjasama dan komitmen yang kontinu.

Mari, wujudkan sekolah ramah anak! (irk)

Featured

Lokakarya Investasi Pembiayaan Pembangunan untuk Perlindungan Anak bagi Masa Depan Anak dan Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah

Pemerintah telah menyatakan komitmennya bagi Perlindungan Anak. Hal ini tercantum dalam Peraturan Presiden No. 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019, dimana tujuan pembangunan perlindungan anak  adalah terpenuhinya Hak Anak dan terlindunginya anak dari berbagai tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan perlakuan salah lainnya. Ada tiga sasaran RPJMN terkait dengan Perlindungan Anak, yaitu meningkatnya akses dan kualitas layanan kelangsungan hidup, tumbuh dan kembang anak, termasuk anak dengan kondisi khusus terhadap layanan yang dibutuhkan; Menguatnya sistem perlindungan anak yang mengedepankan layanan; dan Meningkatnya efektivitas kelembagaan perlindungan anak, baik di tingkat pusat maupun daerah

Namun demikian, komitmen Pemerintah dan sasaran yang sudah ditetapkan juga harus diikuti dengan komitmen dalam penyediaan anggaran yang memadai dan mendukung arah tujuan bagi Perlindungan Anak secara komprehensif. Studi yang

dilakukan oleh Kantor Regional Asia Pasifik UNICEF pada tahun 2014 memperkirakan kekerasan terhadap anak menimbulkan biaya sampai sebesar 2 % dari Pendapatan Domestik Bruto negara-negara di Asia Pasifik. Dengan demikian, investasi pada pencegahan maupun penanganan kekerasan terhadap anak menjadi hal penting.

Berbicara investasi, tentunya ini berkaitan dengan masa depan Negara, salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia ke depan.  Berdasarkan studi diatas, sangat penting bagi Negara untuk melakukan investasi bagi pembangunan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan kualias hidup khususnya bagi anak – anak Indonesia, dan hal ini harus disiapkan dari sekarang mengingat ke depannya persaingan antar Negara, individu semakin ketat dan anak adalah kelompok strategis keberlanjutan bangsa Indonesia. Sehingga harus ditingkatkan mutunya menjadi anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan terutamanya adalah terlindungi. Mengingat Negara melalui ratifikasi Konvensi Hak Anak telah berkomitmen dan berkewajiban untuk menghormati, memenuhi, dan menjamin hak anak. Masyarakat dan orangtua turut serta bertanggungjawab dalam memenuhi hak anak. Prioritas Negara/Pemerintah untuk memastikan anak mendapat pengasuhan yang memadai dan terlindung dari kekerasan akan mempengaruhi bagaimana anak – anak ketika dewasa akan membawa Bangsa ini di masa depannya.

Dengan demikian, investasi tidak hanya terkait dengan ekonomi atau bisnis, namun investasi bagi pembangunan sumber daya manusia seperti yang disampaikan diatas menjadi penting dan strategis bagi Indonesia ke depan. Selanjutnya isu utama peningkatan kualitas hidup manusia suatu negara khususnya bagi anak adalah bagaimana negara tersebut mampu melakukan perlindungan anak yaitu, mampu memahami nilai-nilai hak-hak anak, mampu mengiplementasikannya dalam norma hukum positif agar mengikat, mampu menyediakan infrastruktur, dan mampu melakukan manajemen agar perlindungan anak di suatu negara tercapai. Salah satu harapannya dengan fokus pada anak maka sekaligus percepatan pencapaian target mencapai kualitas hidup manusia sebagaimana tujuan bersama Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030 dapat tercapai.

Pada tahun 2015, UNICEF menguji coba piranti child protection financial benchmarking atau acuan keuangan publik untuk pencegahan dan dan penanganan kekerasan, perlakuansalah, eksploitasi dan penelantaran anak atau anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Perhitungan tolok ukur (benchmark) untuk Indonesia merupakan langkah penting untuk mengatasi hambatan data ke akuntabilitas keuangan publik untuk melindungi anak-anak.

 

Studi child protection financial benchmarkingdi Indonesia dilakukan di tingkat Nasional dan di Provinsi Jawa Tengah. Hasil dari studi tersebut dapat memberikan gambaran serta masukan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk investasi pembangunan dalam menyusun langkah – langkah aksi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia khususnya anak.  Hasil studi tersebut juga dapat menjadi dokumen pijakan penting bagi pemangku kepentingan dalam Perencanaan Program Perlindungan Anak khususnya pembiayaan Perlindungan Anak di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah khususnya di 35 Kabupaten/Kota dalam mendukung pencapaian arah dan tujuan Nasional Perlindungan Anak Indonesia sebagaimana tertulis dalam RPJMN 2015 – 2019 serta mendukung Provinsi Jawa Tengah menuju Provinsi Layak Anak.(21 agustus 2017)

 

 

Featured

Jambore Anak Merdeka Semarang, Libatkan 250 Anak

Kota Semarang memang sudah tidak kumuh lagi, pembenahan sarana dan pra sarana oleh pemerintah semakin membuat Kota Semarang semakin apik. Tapi, bagaimana dengan sumber daya manusianya? Tentunya sudah tidak asing lagi dengan anak-anak penjaja koran di sebagian besar traffic light Kota Semarang. Tidak hanya itu, beberapa diantaranya juga ada yang menjual kue atau kerajinan tangan ala kadarnya, bahkan tidak jarang juga terlihat anak yang menjadi pengamen dan bekerja.

Tahukah bahwa hal tersebut merupakan eksploitasi ekonomi anak. Apa itu eksploitasi ekonomi anak? Eksploitasi ekonomi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan anak yang menjadi korban yang meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan, pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan anak oleh pihak lain untuk mendapatkan keuntungan materiil.

Pemerintah Kota Semarang telah melakukan beberapa upaya untuk pencegahan anak-anak di wilayah rentan turun ke jalan. Tidak hanya itu, langkah pencegahan juga dituangkan dalam Peraturan daerah Kota Semarang. Dalam Perda Nomor 5 tahun 2014 tentang Penanganan Anak Jalanan, Gelandangan, dan Pengemis di Kota Semarang, pasal 24 diatur larangan memberikan uang atau barang kepada anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di jalan umum. Ancaman hukumannya bisa pidana kurungan selama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Namun pada kenyataannya, masyarakat belum sepenuhnya memahami Perda tersebut. Masih banyak masyarakat yang memberi uang pada anak-anak yang turun ke jalan. Selain itu, di Kota Semarang juga masih ada beberapa titik yang menjadi tempat ‘strategis’ terjadinya praktik eksploitasi ekonomi. Dinas Sosial bekerja sama dengan Yayasan Setara dan Forpajas (Forum peduli anak jalanan kota Semarang) serta beberapa lembaga lain yang berkaitan dengan anak rentan turun ke jalan, mengambil langkah positif dengan menggelar acara Jambore Anak Merdeka bertemakan “Anak Hebat, Bebas Eksploitasi Ekonomi!”

Tujuan utama acara Jambore Anak Merdeka adalah untuk mencegah dan memberikan pendidikan pada anak rentan turun ke jalan mengenai resiko dan bahaya turun ke jalan agar mereka tidak menjadi korban eksploitasi ekonomi. Acara yang akan dilaksanakan di Puri Maerakaca pada 21 Mei 2017 melibatkan 250 anak.

Tidak hanya itu, anak-anak juga akan diperkenalkan pada resiko turun ke jalan, pencegahan kekerasan yang terjadi serta digali potensi dirinya untuk menyadari betapa pentingnya pencegahan turun ke jalan dan kemungkinan menjadi korban eksploitasi ekonomi.

 

 

BERMAIN SAMBIL BELAJAR

Sebanyak 250 anak rentan turun ke jalan dari berbagai wilayah di Kota Semarang yang mengikuti acara Jambore Anak Merdeka kemarin dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok anak usia di atas 12 tahun dan kelompok anak usia di bawah 12 tahun.

Anak usia dibawah 12 tahun (sebanyak 107 anak) diajak bermain di anjungan. Mereka melakukan body mapping, menggambar, dan menyusun puzzle untuk mengenali berbagai macam kekerasan.

Sementara, anak usia di atas 12 tahun (sebanyak 93 anak) harus berpetualang dari pos ke pos untuk menyelesaikan perjalanan. Pos-pos tersebut ditempatkan di beberapa anjungan yang ada Taman Puri Maerakaca.

Pos I terletak di Plasa Banyumas, 93 anak yang terbagi dalam 11 kelompok ini harus membuat yel-yel. Pos II di anjungan Kabupaten Brebes, anak diminta untuk menggambar situasi di jalan yang biasa mereka temui, dari hasil gambar tersebut, terlihat rata-rata mereka menggambar situasi di traffic light atau pasar. Pos III di anjungan Kota Pekalongan, disini anak untuk menuliskan kemampuan, cita-cita, dan upaya, hal ini diharapkan anak lebih mengenali potensi dirinya masing-masing dan dapat mengetahui cara untuk menggapai mimpi mereka masing-masing. Pos IV adalah di anjungan Kabupaten Magelang, mereka diminta untuk mengenali dampak, penyebab dan solusi jika turun ke jalan.

Terakhir, Pos V kembali lagi ke Plasa Banyumas. Disini semua anak menulis “Pesan Untuk Walikota” di kertas warna-warni kemudian ditempelkan di bentangan kain hitam. Apa saja pesan untuk Walikota Semarang? Banyak! Kebanyakan dari anak-anak ini mengeluhkan biaya sekolah dan keperluan sekolah mereka yang sangat kurang.

Acara Jambore Anak Merdeka ini ditutup dengan berfoto bersama. Dinas Sosial Kota Semarang sangat berharap acara ini bisa memberikan pelajaran dan kesan untuk anak-anak rentan yang hadir. Yayasan Setara yang menerjunkan 23 fasilitator dalam acara tersebut juga terus memegang komitmen untuk terus melakukan sosialisasi pencegahan terhadap anak-anak rentan dan juga wilayah tertentu agar anak tidak lagi menjadi korban eksploitasi ekonomi.

 

Featured

Delapan Sekolah di Semarang Berkomitmen untuk Sekolah Ramah Anak

Sekolah selalu dikaitkan dengan pendidikan. Namun sebenarnya pendidikan dan sekolah merupakan dua hal yang berbeda. Sekolah hanya menjadi salah satu sarana saja dalam pendidikan. Sementara anak bisa mendapatkan pendidikan di rumah atau lingkungan sekitarnya.

Sekolah Ramah Anak  adalah sekolah atau tempat pendidikan yang secara sadar menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. Prinsip utama adalah tidak membedakan kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak. Sebagaimana dalam bunyi pasal 4 UU No.23/2002 tentang perlindungan anak yang mengatakan bahwa anak mempunyai hak untuk dapat hidup tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Jadi dapat dipahami bahwa salah satu hak anak adalah berpartisipasi yang dijabarkan sebagai hak untuk berpendapat dan didengarkan suaranya. Sekolah Ramah Anak memberikan peluang yang terbuka bagi anak agar berpartisipasi dalam segala kegiatan, kehidupan sosial, serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak.

Dalam salah satu programnya, Yayasan Setara bekerja sama dengan 8 sekolah dampingan di beberapa wilayah di Kota Semarang guna mengembangkan Sekolah Ramah Anak. Sekolah tersebut adalah; SD Kuningan 01, SD Kuningan 02, SD Jomblang 03, SD Jomblang 04, SD PL Servatius, SD PL Vincentius, SD Islam Al-Iman, dan SD Muhammadiyah 01. Dalam realisasinya, Yayasan Setara memberikan sosialisasi serta intervensi dan edukasi pada sekolah-sekolah tersebut untuk perlahan-lahan mewujudkan Sekolah Ramah Anak.

Yayasan Setara menyadari bahwa Sekolah Ramah Anak tidak dapat terwujud dalam waktu yang singkat dan kilat. Tidak bisa juga hanya dalam waktu sebulan atau dua bulan.

Dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun, Yayasan Setara bersama 8 sekolah tersebut telah mengembangkan program Sekolah Ramah Anak. Mulai dari pendidikan anti kekerasan pada anak sampai disubtitusinya hukuman fisik di sekolah bagi anak. Delapan sekolah tersebut telah berkomitmen untuk terus mengembangkan sekolahnya menjadi Sekolah Ramah Anak. Penerapan dilakukan dari hal-hal yang sangat kecil. Semisal; berbaris sebelum masuk kelas, berdoa bersama, melibatkan anak dalam berbagai kegiatan di sekolah, dan lain-lain.

Sekolah-sekolah yang didampingi Yayasan Setara ini ada di beberapa wilayah rentan; rentan kekerasan dan anak jalanan. Maka, untuk mewujudkan Sekolah Ramah Anak, tidaklah mudah. Namun, komitmen sekolah terus mendorong kami untuk tidak menyerah walau banyak rintangan. Sekolah yang Yayasan Setara dampingi tidak berubah drastis tidak juga stagnan, hanya perubahan-perubahan kecil yang signifikan dan juga berrati untuk anak-anak.

Perubahan yang paling terlihat adalah; sudah tidak adanya guru yang melakukan kekerasan (berteriak, mencubit, memukul) pada anak ketika anak melakukan kesalahan, banyak anak yang melepaskan emosinya pada hal-hal positif seperti menggambar dan berkarya, sudah dibuatnya kebijakan sekolah yang lebih baik, anak yang turun ke jalan (menjadi anak jalanan untuk menjajakan koran atau mengamen) sudah sangat berkurang, partisipasi anak meningkat, dan orangtua turut serta dalam pengawasan anak.

Sekolah Ramah Anak bukan lagi menjadi mimpi jika pihak-pihak yang terkait saling bekerja sama danmemberi support positif. Yayasan Setara telah melakukannya di 8 Sekolah Dasar dan hal itu bekerja dengan baik.

Featured

Sekolah Anggap Remeh Praktik Bullying

Sudah tidak asing lagi kan dengan kata bullying? Apa sebenarnya bullying? Ada yang mengatakan bahwa bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Ada banyak jenis bullying. Bisa menyakiti dalam bentuk fisik, seperti memukul, mendorong, dan sebagainya. Dalam bentuk verbal adalah menghina, membentak, dan menggunakan kata-kata kasar.

Bullying paling sering terjadi pada usia sekolah. Namun, setiap tempat dimana terdapat manusia saling berinteraksi punya potensi terjadi bullying seperti di sekolah, keluarga, tempat kerja, rumah, atau lingkungan sekitarnya dan di era informasi global ini bullying juga dilakukan melalui internet.

Semakin hari, tindakan bullying semakin membuat ngilu dan miris, tidak perlu contoh kasus, sudah banyak kasus yang berseliweran bahkan ada yang berujung pada kematian korban, tidak jarang juga korban stress sampai memutuskan untuk bunuh diri.

Yayasan Setara bersama Unicef akan melaksanakan project anti bullying di beberapa sekolah. Maka, sebagai langkah awal, Yayasan Setara melakukan assessment ke beberapa sekolah yang direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang. Ada 8 SMP yang masuk dalam daftar Yayasan Setara. Assessment dilakukan ke 8 SMP tersebut dalam kurun waktu 5 hari.

Hasilnya, Yayasan Setara menemukan kasus bullying di beberapa sekolah. Bullying yang terjadi biasanya dalam bentuk verbal, tidak sampai ke fisik. Pihak sekolah pun telah melakukan langkah penyelesaian untuk korban maupun pelaku, sehingga pelaku tidak mengulangi perbuatannya tersebut. Pencegahan bullying di sekolah-sekolah yang Yayasan Setara kunjungi masih minim, hal ini dikarenakan bullying masih dianggap biasa. Bahkan kadang anak-anak sendiri tidak menyadari bahwa dirinya sedang melakukan bullying, semua yang dilakukan hanya dianggap guyon.

Walau demikian, menurut data KPAI  (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), sepanjang 2015 lalu angka pelajar yang melakukan tindakan bullying meningkat dibanding tahun sebelumnya. Apa saja sih hal yang dianggap sepele tapi termasuk bullying di sekolah?

  1. Tidak memperbolehkan adik kelas/siswa untuk melewati jalur tertentu atau nongkrong/jajan di suatu tempat.
  2. “Menertibkan” sendiri penampilan adik kelas. Seperti mendedel rok, memerintahkan ganti sepatu/baju, mencukur paksa rambut. Atau bisa juga dengan “menegur” adik kelas yang seragamnya tidak sesuai aturan, tapi dengan teriakan dan omongan kasar.
  3. Menyuruh adik kelas melakukan permintaan, seperti memesankan dan mengambilkan makan, mengembalikan buku, dan lainnya.
  4. Meminta jajan (memalak) dengan menggunakan kekuasaan.
  5. Mewajibkan pakai atribut tertentu, di luar atribut sekolah, membuat name tag yang ribet, menyuruh membawa barang/produk yang tidak terkait dengan belajar mengajar dalam rangka kegiatan ekstrakulikuler. Jangan lupa, masa pembekalan kini diatur oleh Menteri Pendidikan.
  6. Melakukan briefing ke adik kelas di luar sekolah, tanpa seizin sekolah.
  7. Menyuruh adik kelas melakukan tugas yang sifatnya konyol, tidak mendidik, dan bisa memepermalukan, sebagai bagian dari proses kegiatan ekstrakulikuler. Misalnya, merayu senior, bicara dengan tiang bendera, dan lain sebagainya.
  8. Berkata kasar, memberi hukuman fisik, serta sanksi yang tidak mendidik terhadap adik kelas. Push up 100 kali?
  9. Mencela, mempermalukan, memusuhi, serta mengucilkan siswa di sekolah. Termasuk memberikan nama julukan.

 

Hal-hal di atas mungkin dianggap sepele, namun itu dikategorikan sebagai tindakan bullying. Jika menemukan hal tersebut terjadi di sekolah, maka ada baiknya jika menasihati dan memberikan pengertian pada pelaku. Segala hal yang besar dimulai dari hal kecil. Bullying yang menyebabkan korbannya stress berkelanjutan pun bisa dimulai dari bullying yang dianggap sepele seperti di atas.

 

Featured

Membaca Trauma Anak dari Gambar

Indonesia merupakan salah satu negara yang rutin mengalami bencana alam, mulai dari gempa bumi sampai banjir. Bencana alam tidak hanya menyebabkan banyak korban jiwa atau menimbulkan kerusakan, namun juga meninggalkan trauma yang luar biasa.
Masyarakat paska bencana alam biasanya akan lebih sensitif. Hal yang paling terlihat jelas adalah kepanikan yang berlebihan ketika ada sesuatu yang menjadi pertanda akan adanya bencana alam lagi.
Diantara para korban, sudah pasti ada anak-anak. Anak-anak juga mengalami trauma yang sama seperti orang dewasa, bahkan tingkat trauma bisa lebih parah. Penanganan trauma pada anak biasanya membutuhkan metode khusus sesuai dengan perkembangan kepribadian anak dan tingkat traumatisnya.

Pada bulan Februari 2017 lalu, terjadi banjir yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi kemudian jebolnya tanggul di sekitar pemukiman warga di salah satu perumahan di Kecamatan Meteseh. Yayasan Setara melakukan assessment pada masyarakat yang mengungsi.  Kurang lebih ada 15 anak di pengungsian, sebagian besar sudah bersekolah dengan rentang usia antara 5-11 tahun.
Yayasan Setara melakukan assessment terkait trauma yang dialami oleh anak-anak di pengungsian. Hasilnya, Yayasan Setara menemukan beberapa anak yang mengalami trauma; tidak mau kembali ke rumah, jadi tidak menyukai hujan, dan takut jika melihat sungai. Assessment dilakukan dengan berbagi cerita dan menggambar ‘lingkungan sekitar’.

Seorang anak menampilkan rumah yang dikelilingi oleh genangan air cokelat, ada juga anak lain yang menampilkan gambar nyaris serupa dengan titik-titik hujan di langit. Secara tidak langsung, gambar-gambar tersebut lebih berbicara jujur. Secara sadar ataupun tidak, anak mengalami trauma terhadap lingkungannya karena banjir yang terjadi walau hanya sebentar.
Penanganan trauma pada anak bisa dilakukan dengan banyak metode, namun Yayasan Setara memulai upaya trauma healing dengan menggunakan permainan sekaligus memberikan edukasi tangguh bencana.
Anak-anak biasanya mudah melupakan trauma melalui berbagai permainan olah fisik dan pancingan mengenai pemikiran-pemikiran sederhana. Metode bermain sambil bernyanyi dan menggambar sangat disukai. Pada interaksi selanjutnya, anak-anak secara tidak langsung mendapat dorongan pemulihan dari trauma pada lingkungan.

Featured

Suara Anak Gunung Sari

Kampung Gunung Sari merupakan salah satu kampung di Semarang yang terletak di wilayah Kota, namun keberadaannya tidak terlalu dieprhatikan. Kampung yang berada di Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari ini adalah tempat relokasi untuk orang-orang jalanan yang dulunya tinggal di daerah Ampera (semacam lokasi untuk tinggal orang jalanan).
Tidak jauh-jauh dari pusat kota, hanya 25 menit.Namun, tidak jauh dari kehidupan jalanan, Kampung Gunung Sari masih menjadi tempat yang akar kehidupannya sudah lekat dengan miras, narkotika dan premanisme. Jika kamu berkunjung ke Kampung Gunung Sari, maka jangan heran jika menjumpai orang-orang sedang berpesta miras dan berjudi secara terang-terangan.

Yayasan Setara melakukan pendekatan untuk menyuarakan pemberantasan miras, narkotika dan premanisme di lingkungan tersebut. Tidak terkecuali kekerasan anak yang sudah pasti menjadi hal biasa di Kampung Gunung Sari. Walau pada kenyataan di lapangan, beberapa hal yang Yayasan Setara lakukan terbentur oleh hal-hal yang tidak sepaham. Misal, kebiasaan yang sudah sangat mengakar ini sangat sulit dihilangkan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulihaknnya kembali. Namun, Yayasan Setara secara kontinu memberikan edukasi dan melakukan pendekatan kepada masyarakat Kampung Gunung Sari.
Seiring berjalannya waktu, Kampung Gunung Sari perlahan pulih. Angka kekerasan anak dan hal negatif lainnya berkurang. Yayasan Setara melakukan kegiatan Kelompok Anak bersama anak-anak Kampung Gunung Sari. Kelompok anak ini bertujuan untuk memberikan edukasi, pemahaman dan membentengi anak-anak kampung Gunung Sari. Hal tersebut disampaikan melalui kegiatan dan permainan yang menyenangkan.

Sama seperti anak-anak pada umumnya, walau anak-anak Kampung Gunung Sari terpapar hal negatif dari lingkungan sekitar, namun mereka tidak pernah berhenti untuk bercita-cita dan mengobarkan semangat belajar. Seperti Kanaya (12 tahun) yang menuliskan ‘suara’nya di selembar kertas ketika kegiatan kelompok anak.

“AKU INGIN GUNUNG SARI ADA PERPUSTAKAAN KELILING, BIAR ANAK GUNUNG SARI YANG TIDAK BISA SEKOLAH, BISA MEMBACA.”

Gunung Sari hanya satu diantara sekian banyak kampung di wilayah Kota Semarang yang suaranya jarang didengar. Mereka sama seperti anak-anak lainnya, punya mimpi yang besar dan harapan-harapan sederhana yang membuat bahagia.

Featured

Pak Ganjar Ngajar

Lekat di benak kita sosok Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang sangat dekat dengan masyarakat dan mencintai anak-anak. Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat yang telah memulai gerakan memajukan hak-hak anak sejak tahun 1993 di kota Semarang, Yayasan Setara menjadi pelaksana Kegiatan ‘Ganjar Mengajar’.
Kegiatan yang bertemakan “Pencegahan Kekerasan di Lingkungan Sekolah dan Penggunaan Internet Sehat” ini digelar di SD Kuningan 01 Kelurahan Kuningan, Semarang pada Sabtu, 26 November 2016 mulai pukul 7 pagi.  ‘Ganjar Mengajar’ sendiri merupakan program Gubernur Jawa Tengah yang bertujuan memberikan  motivasi kepada  masyarakat, para pendidik, dan anak-anak mengenai  pencegahan kekerasan dan penggunaan internet sehat. Lebih dari 500 anak-anak akan turut berpartisipasi dalam kegiatan ini.
Kuningan merupakan salah satu wilayah di Semarang yang masih memiliki imej ‘hitam’ di mata masyarakat. Tidak jarang, kekerasan fisik, psikis dan seksual terjadi di daerah tersebut. Tidak hanya di Kuningan, dari catatan Yayasan Setara, kasus kekerasan selama 2016 terjadi 90 kasus dengan korban jenis kelamin perempuan 31 orang, laki-laki 59 orang. Dengan rincian, kasus kekerasan seksual 34 kasus (16 perempuan, 18 laki-laki), kekerasan lainnya 56 kasus (15 perempuan, 41 laki-laki). Oleh karena itu, kehadiran tokoh diharapkan dapat memberikan perubahan sekecil apapun terhadap upaya memerdekakan anak atas kehidupannya.
Tahun 2016 menjadi tahun ke-tiga kalinya Yayasan Setara melaksanakan kegiatan ‘Ganjar Mengajar’ setelah dua tahun sebelumnya dilaksanakan di tempat yang berbeda-beda. Peserta di kegiatan ‘Ganjar Mengajar’ adalah dari berbagai Sekolah Dasar di Semarang; SD Kuningan 01- 04, SD Bhineka, SD Miftahul Huda, SD Vincentius dan SD Al- Iman.
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Peringatan Hari Anak Internasional, dimana Yayasan Setara mengumandangkan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak yaitu sejak tanggal 20 November – 10 Desember 2016. Dalam rangkaian kampanye ini, Yayasan Setara menggencarkan sosialisasi serta penolakan terhadap kekerasan anak. Hastag #SaringSharingmu juga diluncurkan di berbagai media sosial sejak pembukaan acara Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Anak dengan tagline “Saring apa yang kamu sharing, saring apa yang kamu browsing.”
Hastag dan Tagline tersebut diharapkan dapat mendorong semua pihak  agar  memberikan perhatian ke anak-anak untuk lebih bijaksana lagi dalam mengakses internet, mereka bisa menyaring kembali apa yang selayaknya mereka sharing dan apa yang seharusnya mereka browsing di internet ataupun media sosial. Mengingat bahwa anak mempunyai kerentanan berbagai ancaman dan kepekaan dalam proses tumbuh kembangnya.

Featured

Memperingati Hari Anak Sedunia dengan Pesta

Hari Anak Sedunia! Sudah pasti tidak asing lagi buat kita. Ya, hari anak sedunia sudah diperingati sejak tahun 1959. PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat peringatan Hari Anak Sedunia dengan mengadopsi deklarasi hak-hak anak.
Kenapa, sih, harus ada Peringatan Hari Anak Sedunia? Ditujukan untuk menghormati dan menjunjung tinggi serta mengingatkan lagi pada kita semua mengenai hak-hak anak. Walau adopsi Konvensi Hak Anak sudah mencapai kemajuan yang baik, tapi masih ada jutaan anak diluar sana yang terabaikan. Indonesia pun termasuk salah satu negara yang menandatangani KHA, namun nasib anak-anak pun masih banyak yang belum terpenuhi.
Tapi, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan mengenai hak dan kewajiban anak. Misalnya; kematian anak di bawah usia lima tahun sudah sangat berkurang, hampir 98% anak-anak berusia 7-12 tahun mendapat pendidikan sekolah dasar, dan angka kemiskinan pun sudah berkurang.

Masih teringat jelas beberapa kasus kekerasan seksual yang belakangan ini terus mengisi headline berita. Kasus kekerasan seksual dengan cara yang sadis membuat hati ngilu, lebih miris lagi ketika mengetahui yang menjadi korban kekerasan seksual itu adalah anak-anak.
Pada realitanya, anak-anak memang selalu dekat dan rentan pada kekerasan dan eksploitasi. Kekerasan ini terjadi di lingkungan terdekat, baik sekolah maupun keluarga. Anak juga rentan terhadap pada penjerumusan ke prostitusi dan perdagangan untuk tujuan seksual.
Sementara itu, di era yang  serba modern akan kemajuan teknologi, anak makin menjadi mangsa empuk bagi para predator untuk dijadikan pemuas nafsu dan bisnis perdagangan manusia.  Acapkali perlindungan terhadap anak makin susah dilakukan oleh para orang tua dengan adanya salah satu gadget berjenis ponsel pintar yang seolah dibutuhkan oleh setiap anak. Salah satu bentuk kejahatan online (cyber crime) adalah seluruh kegiatan yang bersifat seksual, mulai dari percakapan seksual, memosting foto baik secara sukarela ataupun paksaan, dan banyak lagi.
Yayasan Setara sebagai salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang telah memulai gerakan memajukan hak-hak anak sejak tahun 1993 di kota Semarang, memperingati Hari Anak Sedunia dengan menyelenggarakan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak yaitu sejak tanggal 20 November – 10 Desember 2016. Dalam rangkaian kampanye ini, Yayasan Setara menggencarkan sosialisasi serta penolakan terhadap kekerasan anak. Hastag #SaringSharingmu juga diluncurkan di berbagai media sosial sejak pembukaan acara Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Anak dengan tagline “Saring apa yang kamu sharing, saring apa yang kamu browsing.”

Pesta Anak Merdeka ini merupakan salah satu langkah untuk menghormati hak-hak anak, karena dalam acara tersebut, berbagai karya anak ditampilkan. Tidak lupa, anak-anak yang ingin mengekspresikan dirinya di panggung pun diberi ruang.
Selain panggung dan booth, anak-anak yang berasal dari sekolah dasar di berbagai wilayah Kota Semarang ini juga disediakan berbagai mainan tradisional. Dalam acara Pesta Anak Merdeka, anak-anak diajak untuk mengingat lagi hak-hak mereka tanpa melupakan kewajiban.

Featured

Lewat Radio, Ajak Orangtua Cegah Kekerasan Anak

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.”
( HR. Muslim )

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa kekerasan terhadap anak belum sepenuhnya menghilang dari pandangan kita. Sehari-hari, mungkin masyarakat sudah terlalu terbiasa melihat orangtua yang melakukan kekerasan pada anaknya. Mengapa hal ini terjadi? Karena masyarakat belum sadar bahwa itu adalah kekerasan. Bahkan orangtua, yang notabene melakukan hal tersebut mungkin tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah bentuk kekerasan terhadap anak.
Tidak hanya menjadi korban kekerasan, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan. Ada 3 lingkungan yang bisa menjadikan anak sebagai pelaku atau korban kekerasan; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Data berbicara bahwa 91% anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga. Padahal, keluarga merupakan lingkungan terdekat dan seharusnya menjadi pelindung utama anak.
Pada kenyataannya, beberapa keadaan menyulitkan orangtua dalam menghadapi anaknya sehingga tanpa disadari orangtua melakukan kekerasan berupa fisik. Hal tersebut dapat terjadi jika orangtua; tidak realistis terhadap perilaku anak, tidak mampu mengendalikan emosi, terpengaruh problem lain, ataupun terpengaruh alkohol/obat terlarang.
Yayasan Setara dalam Rangkaian 20 Hari Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Anak tidak lupa menggemakan “Peran Orangtua dalam Pencegahan Kekerasan pada Anak. Dalam Talk Show On Air di beberapa radio; Radio RRI, Rasika FM, Sindo Trijaya FM, Good News FM, dan Imelda FM. Talkshow juga dilaksanakan di TVku.
Dalam Talk Show tersebut, Yayasan Setara mengimbau bahwa banyak sekali hal yang dapat dilakukan untuk melakukan pencegahan kekerasan mulai dari lingkungan keluarga, dan orangtua sebagai aktor utama.
Dimulai dari orangtua yang selalu sadar bahwa usia anak memang masa-masa yang penuh dengan rasa keingintahuan, maka harus dikendalikan dengan lebih bijak dan penuh pengertian. Selain itu, orangtua juga harus tahu karakter anak untuk lebih mudah mengatakan ‘tidak’.
Sebagai orangtua, upaya agar kekerasan terhadap anak dapat dicegah dan diatasi adalah; membantu anak melindungi diri dengan memberi pengertian mengenai pendekatan orang asing atau perbuatan tidak senonoh untuk menghindari kekerasan seksual. Ciptakan komunikasi yang harmonis dua arah, dengan begitu anak akan lebih terbuka pada orangtua dan tidak perlu intervensi atau mendikte anak, sehingga jika ada hal-hal yang terjadi pada anak, maka ia otomatis akan bercerita tanpa diminta.
Dalam UU No. 35 tahun 2014 pun disebutkan bahwa orangtua menjadi salah satu yang harus melakukan pemenuhan terhadap hak anak. Maka, kekerasan anak pun bisa dicegah dan diatasi dari lingkaran dan lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.

Featured

Focus Group Discussion “Anak Merdeka, Bebas dari Segala Bentuk Kekerasan” Bersama Forum Orang Tua dan WBP Anak Lapas Kelas 1 Semarang

Hari Anak Internasional  dan  peringatan 20 hari anti kekerasan terhadap anak merupakan momentum yang tepat dalam menyuarakan dan mengabarkan  kepada publik mengenai   “ ANAK MERDEKA, BEBAS DARI SEGALA BENTUK KEKERASAN”  Menjadi sangat berarti jika  27 tahun KHA menjadi refleksi yang melibatkan komponen anak, Masyarakat, lembaga peduli anak, media masa dan Pemerintah untuk  bersama-sama melakukan hal terbaik bagi anak-anak sesuai dengan peranannya.

Pada kesempatan kali ini, Yayasan Setara mengajak berbagai lapisan pemerintah dan masyarakat  dalam  Serangkaian kegiatan  Yearly Event  yang ke VII  melalui “Kampanye Peringatan Hari Anak Internasional dan  20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak 2016” yang  akan dilaksanakan  antara  tanggal  20 November  sampai dengan 10 Desember 2016 melalui serangkaian  agenda kegiatan, yang di selenggarakan di kota Semarang  ibukota provinsi Jawa Tengah.  

 

Yayasan Setara bersama UNICEF telah melaksanakan pendampingan kepada ABH yang saat ini menjalani masa pembinaan di  Lapas kelas 1 Semarang sejak Oktober 2014 hingga sekarang ini masih berjalan. Berdasarkan dampingan kami banyak alasan mengapa anak melakukan tindakan berkonflik dengan hukum. Kebanyakan anak yang terlibat kasus tindak pidana disebabkan karena  permasalahan yang sepele seperti perkelahian atau pun tawuran, hanya coba-coba mengikuti orang dewasa mencuri, dan lain sebagainya.  Mereka melakukan hal itu hanya untuk tetap bertahan hidup tanpa melihat apa resikonya karena seorang anak belum dapat membuat keputusan yang benar. Anak-anak yang berkonflik dengan hukum dan yang dicabut kebebasan sipilnya ini, memiliki hak untuk diperlakukan dengan cara-cara yang sesuai untuk meningkatkan martabat dan harga dirinya, yang dapat memperkuat penghargaan anak pada hak-hak azasi manusia dan kebebasan dasar orang lain sesuai dengan usianya. 

 

Berdasarkan konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh dan komprehensif, negara, pemerintah dan masyarakat berkewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan azas Non diskriminasi, Kepentingan yang terbaik bagi anak, Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak.

 

Dari uraian latar belakang diatas Yayasan Setara menginisiasi kegiatan FGD (Focus Group Discution) dengan tema “ANAK MERDEKA, BEBAS DARI SEGALA BENTUK KEKERASAN” bersama anak Warga Binaan Lapas dan Forum Orang Tua warga Binaan Lapas Klas 1 Semarang.  

 

Lebih lanjut kegiatan FGD yang telah dilakukan bersama WBP Anak sebagai berikut :

 

  • Menurut anak-anak apa itu arti kekerasan?

Jawab :

NF   : Tindakan yang melakukan main tangan

FI : Suatu tindakan yang melukai seseorang

IQ : Jotos-jotosan

JH : Bully, penganiayaan, perkosaan, Pembacokan, narkoba

EK : Perilaku yang dilakukan pada anak yang berumur kurang dari 18 tahun

AF : Pengroyokan, penganiayaan, pembunuhan pada anak, memberi narkoba pada anak

AG : Kepruk-keprukan, bacuk-bacukan, pengroyokan, begal, pancal-pancalan

EL : Pemukulan, penghinaan, begal, narkoba, pengroyokan

 

  • Pernah atau tidak mengalami atau melakukan tindak kekerasan ?

FI : Pernah melakukan;  memukul orang

   Pernah mengalami;  dipukul orang

   Dimana;  di unnes dan disekolahan

EL : Mengalami; dipukul sabuk kapel

   Melakukan; memukuli orang

AF : Pernah memukul orang dan pernah dipukuli orang

EK : Sering di bully di sekolah, dan membully teman karena nilainya jelek

AG : Pernah memukul dan dipukul orang lain

RF : Pernah emukul dengan ikat pinggang di suatu acara keramaian

Pernah dipukuli orang di jalanan

IQ : Pernah mengalami dan melakukan persetubuhan di jalan raya

ND : Pernah mengalami kekerasan di jalan raya tembalang

JD : Pernah melakukan kekerasan di jalan raya pucang gading

 

  • Dampak yang kalian rasakan paska melakukan tindakan kekerasan ?

 

EK : Mentalnya down, sering menyendiri karena sering dibully

FI : Temenku meninggal, merugikan diri sendiri, masuk pejara, diasingkan orang lain,      didiamkan orang lain

 

IQ : Merugikan diri sendiri, bisa masuk penjara

ND : Bisa masuk penjara dan banyak musuh

AQ : Akibat perbuatan kekerasan terhadap anak merugikan diri sendiri dan akhirnya masuk

penjara

RF : Menjadi kriminal, merugikan diri sendiri yang akhirnya bermasalah dengan hukum dan

 akhirnya masuk penjara

 

  • Harapan paska keluar dari lapas, apa yang menjadi cita-cita kalian dan hambatan nya?

 

IQ : Tidak akan mengulangiperbuatan kekerasan lagi

 Cita-cita: keluar dari lapas akan bekerja dengan benar

Hambatan: dipandang orang sebelah mata

 

FI : Tidak mengalami kesalahan dan ingin menjadi orang sukses

 melanjutkan sekolah/ kuliah,  kerja, bahagiain orang tua dan menikah

   hambatan: diasingkan masyarakat dan banyak musuh dipancing emosi sama orang

 

AF : Ingin mempunyai orang dan menjadi orang yang sukses

Akan menjadi orang yang lebih baik dan tidak nakal dari sebelumnya

 

EK : Tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang menentang hukum

Cita-cita ingin membahagiakan orang  tua

 

AG : Ingin menjadi orang yang lebih baik dan sukses dan ingin membahagiakan orang tua

 Hambatan: dipandang buruk orang saat keluar dari lapas

 

RF : Ingin menjadi orang yang sopan kepada orang tua, tidak nakal, berbakti pada orang tua

 Cita-cita ingin bekerja

 

NF : Menjauh dari kekerasan, dan tidak mengulangi perbuatan kekerasan lagi

 Cita-cita: ingin melanjutkan sekolah sampai lulus

   Hambatan: dipandang sebelah mata karena mantan napi

 

Kegiatan FGD yang telah dilakukan bersama Forum Orang Tua WBP Anak sebagai berikut :

 

Bu Ika Apakah sudah pernah melakukan kekerasan?
Orangtua Mencubit, membentak, memukul. Mempermalukan anak.
Bu Ika Mempermalukan itu seperti apa?
Orangtua Memarahi di depan umum.
Bu Ika Jika kita bicara mengenai kekerasan tadi; mencubit, menampar, menendang. Ini nama ya adalah kekerasan fisik, merupakan kekerasan secara langsung yang terlihat, biasanya lukanya langsung kelihatan missal memaerah tau merah.

Kalau membentak dan mempermalukan, itu adalah kekerasan psikis. Biasanya berdampak langsungkah? Yang sakit biasanya apa? Hatinya. Dan biasanya kita tidak sadar bahwa kita telah menyakiti hatinya.

Yang memiliki anak lebih dari satu, apakah pernah membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya? Pasti pernah ya…… Maksudnya adalah agar memberi contoh yang lebih baik. Namun hal ini sebenarnya termasuk dalam kekerasan.
Kira-kiraapapenyebabmelakukankekerasan?

Orangtua Anak tidak menurut,

Ingin memberi contoh pada anak (membanding-bandingkan)

Emosi

Anak susah diatur

Bu Ika Dari alasan di atas, kenapa yang muncul adalahkekerasan? Kenapa harus mencubit, memarahi, memukul, dan lain sebagainya tadi?

Rata-rata kita sendiri adalah korban kekerasan dari orang tua kita sendiri. Maka, hal itu seharusnya menjadi referensi kita untuk mendidik anak tanpa kekerasan.

Apakah Anda bisa membayangkan bagaimana anak bapak ibu nanti memarahi anakny amereka bagaimana? Ya, dengan kekerasan juga.

Orangtua Tapi, saya menggunakan kehalusan untukmendidik anak, anak saya semakin melunjak. Tapi jika saya cubit saya marahi, dia baru mau nurut
Bu Ika Ya, sekarangan ak sudah dilindungi oleh undang-undang. Melakukan kekerasan keanak bisa  di tindak pidana.

Didiklah anak pada jamannya. Sekarang anak lebih pintar dari kita, bisa diajak untuk berdiskusi.  Jika kita tidak melakukan kekerasan, bukan berarti menuruti semua keinginan anak, tapi bagaimana member pendidikan keanak-anak dengan cara yang positif.

Ajak anak diskusi dan berbicara lebih banyak.

Mulailah membuka ruang komunikasi di tingkat keluarga.

Orangtua Anak sekarang cenderung tertutup dan jarang mau bicara.
Bu Ika Kenapa anak sering tertutup?

Apa pengaruh terbesar dari lingkungan luar atau keluarga?

Orang tua Di luar, karena lebih luas kemana-mana
Bu Ika Mana yang terpenting? DI rumah atau mana?

Keluargaya.

Jika di rumah pengasuhannya sudah benar, maka bisa memberikan benteng untuk anak. Jadi anak main kemanapun, anak sudah memiliki benteng sendiri.

Sekarang ini adalah bagaimana anak tidak hanya menjadikan orangtua sebagai orangtua, tapi juga sebagai teman.

Orangtua Anak biasanya takut dengan orangtua karena dimarahi.
Bu Ika Jadi yang harus dirubah adalah polanya.

Anak lahir sepertikertasputih, jadi kita coret denga nwarna apapun dia akan mengikuti.

Apa yang kita ajarkan harus kita lakukan juga.

Bolehkah kita memberikan sanksi ketika anak salah? Harus. Tapi harus dijelaskan juga mengapa bapak ibu memberikan sanksi.  
Ketika anak bapak ibu masuk kesini (lapas) yang salah siapa?

Kenapa anak bisa mendapat kesempatan untuk melakukan itu? Anak anda itu korban juga. Berarti kita kurang siap, sehingga anak kita mengenal hal-hal sepert iitu.

Ketika nantianak anda pulang, peer anda adalah untuk menerima anak anda kembali dengan pola pengasuhan anda.

Orangtua Dari keluarga kami sudah baik, tapi lingkungan sangat kuat sekali pengaruhnya.
Bu Ika Media lewat hape itu juga sangat berpengaruh. Maka, damping mereka untuk menggunakan media-media tersebut.
Saat ini banyak kasus kekerasan lewat media sosial. Misal di indtagram, apapun di upload di sana. Di internet sekarang segalanya ada. Jadi, ketika ibu dan bapak mengetahuiresikonya.

 

Tujuaan yang diharapkan dengan dilakukannya FGD dengan forum orang tua & WBP Anak :

 

  • Mengajak Adik Warga Binaan Pemasyarakatan  merefleksi dan sharing atas kasus-kasus yang telah dialami,   bersama untuk mencari solusi penyelesaian dan bangkit menjadikan diri sebagai agen perubahan.
  • Memberikan pemahaman kepada Adik Warga Binaan Permasayarakatan tentang pencegahan kekerasan
  • Memberikan pemahaman kepada orang tua terkait dengan pola pengasuhan ramah anak
  • Memberikan pemahaman kepada orang tua untuk tetap memberikan pemenuhan hak-hak dasar anak berdasarkan azas Non Diskriminasi, Kepentingan yang terbaik bagi anak, Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak.
  • Media massa  dapat berpartisipasi mengabarkan dan menyebarluaskan  isu  perlindungan anak , khususnya pencegahan dan penanganan korban  kekerasan, eksploitasi seksual  anak dan Proses pendampingan ABH Warga Binaan Lapas kelas 1 Semarang  kepada stakeholder terkait  dan  seluruh lapisan masyarakat, sehingga  bersama –sama  dapat bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan  perlindungan anak.

15349623_10205970425779619_9021736232915684787_n 15390649_10205970424659591_6751228676018381515_n 15400995_10205970428579689_5217878603889808758_n

Featured

PEMBUKAAN KAMPANYE 20 HARI ANTI KEKERASAN TERHADAP ANAK

Minggu, 20 November 2016 adalah Hari anak sedunia sekaligus menandai hari dimulainya agenda tahunan Yayasan Setara yang biasa disebut dengan Yearly Event. Kesempatan tahun ini Yayasan Setara menjadikan Yearly Event sebagai Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Pada Anak. Minggu yang ceria di Joglo Taman Budaya Raden Saleh ditunggu sebagai perayaan kemerdekaan anak.

Dipandu oleh mas Yuli Bdn dengan penuh semangat membawakan acara ini lebih semangat

Pembawa Acara Pembukaan YE 2016
Selain itu sambutan dari Ketua Yayasan Setara Bapak Dedy Prasetyo yang menjadi semangat Yayasan Setara dalam melaksanakan berbagai program
Ketua Yayasan Setara
Lalu ada Daffa pendamping Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual Anak yang memberikan sambutan dan ajakannya terhadap rekan sebaya untuk selalu aktif dalam menanggulangi bahaya Eksploitasi Seksual Anak
Pendamping Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual Anak
Sebagai penanda dimulainya Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak, para peserta dan seluruh panitia melakukan selfie lima jari. Lima jari digunakan sebagai tanda penolakan terhadap kekerasan anak.
Direktur Program Yayasan Setara
Direktur Program Yayasan Setara, Ika Kamelia mengawali proses selfie lho!

Selfie di pembukaan kampanye 20 hari img_5335 img_5338 img_5347

Pembukaan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak belum selesai, masih ada Workshop pengembangan media kampanye sosial yang diikuti oleh berbagai Forum Anak yang diselenggarakan oleh Yayasan Setara.

Workshop Musik oleh Catur Adi Laksono atau yang sering akrab disapa Wak Yok

img_5388

 

 

 

 

Ada juga Workshop Kolase oleh mbak Debby Selviana atau mbak Jane Nate

img_5395 img_5397

Lalu ada juga workshop Teater oleh mas Akhriadi Sofyan

img_5399 img_5401

 

Rangkaian acara pembukaan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak belum selesai. Yayasan Setara bekerja sama dengan DKV Udinus mengadakan Workshop Kolase yang diikuti oleh para mahasiswa Udinus.

img_5452img_5491 img_5496 img_5592 img_5595 img_5596 img_5600 img_5603 img_5599

 

 

Dengan berakhirnya Workshop kolase oleh DKV Udinus maka rangkaian acara pembukaan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan terhadap Anak dan Perayaan Hari Anak juga berakhir, masih ada rangkaian acara yang lain.

Tak lupa kami ucapkan bagi para Fasilitator dan rekan-rekan yang sudah membantu. Terima kasih

Featured

SECUIL PERSIAPAN PESTA ANAK MERDEKA

Pesta Anak Merdeka, merupakan salah satu agenda 20 hari anti kekerasan terhadap anak yang akan diselenggarakan 27 November 2016 di Wisma perdamaian. acara ini merupakan bentuk partisipasi dan apresiasi anak dalam mengkampanyekan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap anak. Acara tersebut akan mengikutsertakan berbagai komunitas yang bergerak di bidang anak, mulai dari berbagai komunitas yang bergerak di bidang anak hingga badan pendidikan pemerintah.

Sedikit dari sekian banyak cuplikan persiapan pesta anak merdeka, berikut adalah salah satu acara dalam kampanye 20 hari anti kekerasan thd anak. Koordinasi dengan 16 UPTD kota semarang tentang keterlibatan sekolah SD dan SMP di kota semarang dalam kampanye 20 hari anti kekerasan terhadap anak dan akan hadir memeriahkan acara di pesta anak merdeka dan menjadi peserta aktif dalam seminar pencegahan kekerasan di sekolah.

Tak lupa, agar semakin memeriahkan Pesta Anak Merdeka, beberapa grup Band SMP dan SMA terlibat dalam parade band yg akan dilaksanakan di Wisma Perdamaian tgl 27 sebagai rangkaian acara ini.

prepare dengan uptd 3 prepare dengan uptd kota semarang 2 prepare dengan uptd 4

Featured

Jingle Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak

Ketua TP-PKK Provinsi Jawa Tengah Atiqoh Ganjar PranowoSiapa yang tidak kenal dengan Ketua TP-PKK Provinsi Jawa Tengah, Ibu Atiqoh Ganjar Pranowo yang merupakan Istri dari Gubernur Provinsi Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo?

Pada Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak tahun ini, Yayasan Setara sangat berterimakasih ke pada Ibu Atiqoh yang akan aktif berperan serta dalam memberi seruan dan ajakan pada seluruh masyarakat Jawa Tengah untuk melindungi anak dari bahaya kekerasan terhadap anak dan mengajak seluruh lapisan masyarakat menciptakan Jawa Tengah Ramah Anak. Suara Ibu Atiqoh akan selalu didengar dalam Jingle lagu Kampanye Anti Kekerasan yang diciptakan oleh Yayasan Setara dan diputar di seluruh radio di Jawa Tengah.

Terimakasih untuk KPID Provinsi Jawa Tengah yang sudah mendukung penuh dengan memberikan surat himbauan kepada seluruh radio di Jawa Tengah untuk memutarkan Jingle Lagu anti kekerasan terhadap anak selama 20 hari dari tanggal 20 November sampai 10 Desember 2016 dan merencanakan untuk mengadakan talkshow literasi ramah anak.

Yayasan Setara juga mengucapkan terima kasih ke pada ketua KPID Provinsi Jawa Tengah Bapak Budi Setyo Purnomo dan salah satu Komisioner Ibu Takziatul Iin, atas diskusi yang diselenggararakan tanggal 09 November 2016. KPID Provinsi Jawa Tengah yang sudah mendukung penuh dengan memberikan surat himbauan kepada seluruh radio di Jawa Tengah untuk memutarkan Jingle Lagu anti kekerasan terhadap anak selama 20 hari dari tanggal 20 November sampai 10 Desember 2016 dan merencanakan untuk mengadakan talkshow literasi ramah anak.

Atas kerja sama ini, maka PKK Provinsi Jawa Tengah melalui Ketua TP-PKK Provinsi Jawa Tengah Ibu Atiqah Ganjar Pranowo, KPID Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Ketua KPID Jateng Bapak Budi Setyo Purnomo dan salah satu Komisioner Ibu Takziatul Iin, dan Yayasan Setara bersama-sama mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan Jawa Tengah Ramah Anak karena anak-anak tidak hanya rentan terhadap kekerasan (kekerasan fisik, kekerasan psikologi, kekerasan seksual, dan penelantaran) tapi juga rentan terhadap eksploitasi seksual melalui media online. Lindungi anak kita demi masa depan bangsa yang lebih baik!

“saring yang kamu browsing dan saring yang kamu sharing”

Featured

Saring apa yang Kamu Browsing dan Sharing apa yang Kamu Sharing

Yayasan Setara, forum anak anti Eksploitasi Seksual Anak kota Semarang, Forkom PSP dan beberapa komunitas di Semarang Melaunching kampanye 20 hari anti kekerasan terhadap anak di RRI Pro 1 FM Frekuensi 89.00 tanggal 10 November 2016. Kampanye tahun ini bertemakan “Peran Keluarga dalam Pencegahan Kekerasan dan Ekploitasi Seksual terhadap Anak yang disebabkan oleh Konten Negative Internet dan Sosial Media” rangkaian kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 20 November sampai 10 Desember 2016.

berikut adalah agenda Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak:

20 November 2016

Workshop Kolase, Musik dan Teater

21 November 2016

Talkshow di Cakra TV

22 November 2016

Talkshow di RRI

23 November 2016

Sosialisasi Komunitas

24 November 2016

Sosialisasi Komunitas

26 November 2016

Ganjar Mengajar di Kelurahan Kuningan

Workshop CSO

27 November 2016

Pesta Anak Merdeka di Wisma Perdamaian

Parade Musik dan Teater

Diskusi dengan Ibu Tia Hendi

30 November 2016

Dialog APH Provinsi

01 Desember 2016

Talkshow bersama Bapak Gubernur di TVRI

03 Desember 2016

Launching buku Kumpulan Puisi MAKTA dan seminar Kekerasan Terhadap Anak

04 Desember 2016

Karnaval Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual bersama Komunitas Difable di Car Free Day

05 Desember 2016

Roundtable Meeting bersama pemerintah yang membicarakan tentang kebijakan eksploitasi seksual anak melalui media online

10 Desember 2016

Refleksi Hari Anak

Dalam Kampanye ini kami mengajak seluruh lapisan masyarakat yang peduli dengan anak untuk ikut berpartisipasi. Mari kita lindungi anak-anak dari Kekerasan! dan ingat, “Saring apa yang kamu Browsing dan Saring apa yang kamu Sharing!”

RRI, 08 November 2016
RRI, 08 November 2016

CP: ika 085 876 179 406

Featured

AUDIENSI YAYASAN SETARA DENGAN KETUA PPT KOTA SEMARANG

Dalam rangka Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan terhadap Anak yang akan berlangsung pada tanggal 20 November hingga 10 Desember 2016. Yayasan Setara mengadakan audiensi dengan Ibu Tia Hendi selaku ketua PPT Kota Semarang (17 Oktober 2016).

Yayasan Setara berdikusi membahas rencana Kampanye 20 Anti Kekerasan terhadap Anak (20 November-10 Desember). Kampanye tersebut diselenggerakan dalam merayakan Hari Anak Internasional (20 November) sekaligus untuk mengampanyekan Anti Kekerasan terhadap Anak baik kekerasan secara Fisik, Psikis, Pembiaran, maupun kekerasan Seksual terhadap Anak.

Dalam Audiensi bersama Ibu Tia Hendi selaku Ketua PPT Kota Semarang, memberikan sambutan yang hangat dan mendukung Yayasan Setara mengenai rencana Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak. Direktur Program Yayasan Setara, Ika Kamelia, menceritakan berbagai macam kekerasan yang rentan dialami anak-anak di Kota Semarang. Jenis kekerasan yang anak yang paling rentan saat ini adalah kekerasan seksual karena mudah dan murahnya akses internet yang bisa dijangkau siapa saja dan kapan saja.

Media sosial merupakan gerbang utama terjadinya kekerasan seksual dan eksploitasi anak yang akan berimbas pada perkembangan psikis dan masa depan anak. Pada kesempatan diskusi tersebut Ika Kamelia memberikan contoh salah satu media sosial yang menyediakan layanan seksual secara murah yang disebarkan masal tanpa memandang usia pengguna media sosial tersebut. Ibu Tia Hendi juga menuturkan bahwa lingkungan terdekat anak harus terbuka dengan perkembangan anak.

Dukungan Ibu Tia merupakan semangat besar Yayasan Setara dalam mempersiapkan Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan terhadap Anak.

Besar harapan kami bisa mengajak seluruh lapisan masyarakan dan mendukung Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan terhadap Anak (20 November-10 Desember 2016).  Mari bersama-sama lindungi dan bebaskan anak dari kekerasan!

dari Kiri ke Kanan: Bintang, Ika Kamelia, Ibu Tia Hendi, Ima, Uut, Soni
dari Kiri ke Kanan:
Bintang, Ika Kamelia, Ibu Tia Hendi, Ima, Uut, Soni
Ibu Tia bercengkrama tentang perilaku anak
Ibu Tia bercengkrama tentang perilaku anak
Menjelaskan latar belakang Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak
Menjelaskan latar belakang Kampanye 20 Hari Anti Kekerasan Terhadap Anak
Ika Kamelia sedang memberikan salah satu media online yang digunakan dalam eksploitasi seksual anak
Ika Kamelia sedang memberikan salah satu media online yang digunakan dalam eksploitasi seksual anak
Featured

“MELEK” MEDIA

Mulyo HP

Yayasan Setara melakukan pendampingan terhadap guru dengan Ketua KPID Jateng di SD Pangudi Luhur Servatius, Gunung Brintik, Randusari Semarang, Selasa (26/07/2016). 

Yayasan Setara tidak hanya melakukan pendampingan terhadap anak. Salah satu kegiatan pendampingan adalah Diskusi Internal Guru yang merupakan ruang diskusi guru menyikapi berbagai masalah yang terjadi di sekolah khususnya ditimbulkan oleh media. Pada kesempatan tersebut Yayasan Setara mengundang Ketua KPID Jateng, Mulyo Hadi Purnomo.

Media sebagai industri baik cetak, televisi, radio, dan internet memiliki peran besar dalam pendidikan, informasi, hiburan, dan kontrol sosial. Munurut Mulyo Hadi Purnomo media yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia adalah Televisi, selain mendapatkan siaran secara gratis merupakan media yang memiliki pengaruh sangat besar. banyak kasus kekerasan baik seksual, fisik maupun verbal yang ditimbulkan dari perilaku keseharian anak yang mencontoh siaran yang ada di televisi.

IMG_0526

Pada dasarnya siaran televisi kali pertama ada di Indonesia digunakan sebagai media pendidikan masyarakat, namun perkembangannya media televisi lebih banyak mengarah pada hiburan yang berpengaruh secara negatif terhadap perkembangan anak. Selain itu media pertelevisian digunakan secara intens sebagai media utama politik yang tentu saja tidak bermanfaat untuk perkembangan anak. Mulyo Hadi mencontohkan salah satu media kampanye melalui lagu di televisi dan disiarkan berulang lebih mudah dihafalkan anak daripada lagu anak.

Menurut ketua KPID Jateng efek media ada lima macam:

  1. Efek Kognitif yaitu pengaruh media terhadap kognitif dengan menanamkan ide atau informasi tertentu.
  2. Efek Sikap merupakan bentukan media terhadap sikap seseorang atas sesuatu, misalnya setuju atau tidak atas keputusan tertentu.
  3. Efek Emosional adalah pengaruh media terhadap emosi seseorang sehingga menyebabkannya senang, bangga, benci, marah, dll.
  4. Efek Fisiologis yaitu pengaruh media terhadap kondisi fisik seseorang, misalnya membuat jantung berdebar cepat.
  5. Efek Perilaku. Efekmemicu tindakan tertentu setelah menyimak pesan media.

IMG_0582

Menurutnya, masyarakat perlu memiliki Literasi Media atau pengetahuan dan kemampuan yang perlu dimiliki agar dapat menggunakan media dengan benar sehingga tidak mudah terpengaruh oleh media yang berkembang sangat cepat.

Banyak hal dapat dilakukan dan dihimbaukan kepada wali murid atau orang tua untuk mengurangi dampak televisi, seperti mematikan tv, memilih tayangan bermutu, mentradisikan kritik dengan memanfaatkan media sosial, mengadukan ke Dewan Pers atau mengadukan ke KPI atau KPID Jateng melalui situs: kpid.jatengprov.go.id

 IMG_0537 IMG_0578 IMG_0583 IMG_0590 IMG_0614

Featured

FORUM ANAK ANTI EKSPLOITASI SEKSUAL ONLINE BERGEMING MELALUI SIARAN RADIO RRI SEMARANG

Kejahatan di dunia internet atau yang sering disebut dengan cyber crime sangat sulit dibendung, perlu ada pengawasan khusus dari orang tua dan kesadaran diri mengenai penggunaan internet yang kerap kali menjadikan anak sebagai korban eksploitasi seksual. Anak-anak bahkan tidak sadar bahwa mereka adalah korban kejahatan eksploitasi seksual melalui media internet (online). Ada banyak pilihan atau cara dalam mengakses internet, banyak layanan yang mudah dan murah bahkan gratis dalam menggunakan layanan internet terlebih hampir setiap anak sudah mahir memakai piranti internet atau akrab disebut dengan gadget, dengan begitu anak dengan mudah terjerumus dalam kejahatan online, salah satunya eksploitasi seksual.

Tanpa lelah Yayasan SETARA terus berupaya untuk menyadarkan anak bahwa melalui media sosial ancaman besar bagi mereka terbuka sangat luas. Dampingan yang dilakukan tanpa henti menghasilkan peran aktif anak dalam memerangi eksploitasi seksual online. Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual Online Kota Semarang yang merupakan dampingan Yayasan SETARA memiliki peran aktif dan penting untuk penyadaran masyarakat luas bahaya penggunaan internet. Pukul 20.00 WIB tanggal 21 Juli 2016 tiga anggota Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual melalui media Online, Adit, Purnomo dan Dafa mengudara melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang menyuarakan untuk terus mewaspadai ciber crime berupa Eksploitasi Seksual pada Anak.

Dijelaskan oleh Adit, Ketua Pertama Forum Anak Anti Eskploitasi Seksual Online Kota Semarang, bahwa bahaya internet melalui media sosial memang jarang dirasakan oleh anak sebagai pengguna, namun harus sangat diwaspadai. Media sosial yang akrab digunakan seperti BBM, Sype, Instragram, Path, Twitter, Facebook, Bigo, dan masih banyak lagi, merupakan harus sangat diwaspadai karena sering digunakan sebagai gerbang pertama dilakukannya eksploitasi seksual terhadap anak.

Ditambahkan oleh Purnomo, Ketua Dua Forum Anak Anti Eksploitasi Seksual Online bahwa hampir semua pemegang piranti internet berjenis ponsel pintar memiliki aplikasi media sosial, yang merupakan akses paling mudah untuk memulai Online GroomingOnline Grooming adalah kegiatan yang bersifat seksual secara online baik berupa percakapan maupun gambar. Orang tua maupun anak seharusnya memiliki kesadaran tentang bahaya tersebut, terlebih untuk orang tua yang harusnya memiliki pengawasan terhadap kegiatan anak.

Suara mereka bergeming selama satu jam di udara, mengabarkan bahaya ber-media sosial. Dengan keceriaan mereka mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk selalu berhati-hati karena Indonesia sedang mengalami darurat kejahatan seksual. Sebagai penutup, Dafa mengajak semua pendengar Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang untuk ikut dalam aksi simpatik bertajuk Anti Eksploitasi Seksual Anak “Anak Bukan Obyek Seks!” pada hari Minggu tanggal 24 Juli 2016 di Bundaran Jalan Pahlawan saat Car Free Day. Selain itu Dafa juga mengajak peran aktif anak di Kota Semarang untuk bergabung di Forum Anak Anti Eksploitasi Seks Online.RRI Semarang 1 IMG_9702 RRI Semarang 3

(dari kiri) Mbak Ira, Adit, Dafa, Purnomo, dan Mbak Ika
(dari kiri) Mbak Ira, Adit, Dafa, Purnomo, dan Mbak Ika
Featured

WASPADA EKSPLOITASI SEKSUAL ANAK

 

 

WASPADAI ANAK DARI EKSPLOITASI SEKS MELALUI MEDIA ONLINE
WASPADAI ANAK DARI EKSPLOITASI SEKSUAL ANAK

Eksploitasi Seksual Anak (ESA), dalam berbagai bentuknya telah terjadi di Indonesia. Berbagai kasus prostitusi anak, perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak sering diangkat. Indonesia sebagai tujuan wisata, juga telah memberikan kontribusi terhadap target Pedopil yang melakukan perjalanan wisata seks.

Anak-anak dilacurkan, meskipun data terbaru belum diperoleh, berdasarkan hasil dari analisis situasi pada tahun 1998, diperkirakan 30% dari pekerja seks komersial adalah anak. Perkiraan ini masih digunakan dalam banyak studi Eksploitasi Seksual dari anak-anak atau pelacuran anak di tahun-tahun berikutnya. Sejak, telah terjadi perubahan dalam modus prostitusi di Indonesia di mana ada kecenderungan praktek yang dilakukan secara individu atau kelompok-kelompok kecil, diyakini jumlah anak yang dilacurkan meningkat.

Anak-anak yang menjadi korban perdagangan manusia di Indonesia oleh UNICEF memperkirakan, 100 ribu anak. Perlindungan Komisi Anak Indonesia (KPAI) mencatat peningkatan kasus dari data yang disajikan pada tahun 2010-2012 sebagai berikut: Pada tahun 2010 tercatat 410 kasus dan meningkat menjadi 480 kasus pada tahun 2011 dan menjadi 673 pada tahun 2012. Sementara ECPAT Indonesia berdasarkan hasil penelitian di tahun 2013 menemukan sekitar 150 ribu anak-anak korban perdagangan untuk tujuan seksual (Okezone.com, 26 Januari 2015)

Anak terlibat dalam prostitusi atau untuk tujuan seksual di daerah wisata di Indonesia, menjadi target pedofil asing yang melakukan pariwisata seks. Kasus tersebut tidak pernah terungkap misalnya terjadi di Bali dan NTB

Mengenai pornografi anak, sejauh ini tampaknya tidak mengalami studi khusus yang menggambarkan situasi dan besarnya masalah. Secara umum, anak-anak yang menjadi korban pornografi anak diketahui ada tanpa sejumlah kecil kasus. Apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan teknologi, di mana akses ke internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dengan mudah ketersediaan peralatan yang dimiliki gadget termasuk oleh anak-anak

Sebagai ilustrasi yang menunjukkan eksploitasi seksual terhadap anak secara online dianggap sangat tinggi, terutama melalui media sosial, terutama Facebook yang sangat populer di Indonesia. Kata Jeff Wu, sebagai Kepala Pemerintahan & Penegakan Hukum Hubungan Facebook di Konferensi Kejahatan Seksual Terhadap Anak Online: Penegakan Hukum dan Koordinasi Regional pada tanggal 29 Oktober 2012 di Jakarta menyatakan: Di Indonesia ada 55 juta pengguna aktif di FB. 50 persen dari mereka log-in setiap hari. pengguna FB di Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara yang sering melanggar untuk meng-upload gambar yang berhubungan dengan eksploitasi seksual terhadap anak. Mengacu data NCMEC untuk Eksploitasi Anak periode 1 Juni – 15 September 2012, ada 18,747 gambar yang diupload pengguna di Indonesia di mana indikasi 90,2% menggunakan bahasa Indonesia.

Menurut data yang diterbitkan KPAI, sejak 2011 hingga 2014, jumlah anak korban pornografi dan secara online kejahatan di Indonesia telah mencapai jumlah 1.022 anak. Secara rinci disajikan, anak-anak yang menjadi korban pornografi online dengan 28%, 21% dari pornografi anak online, prostitusi online anak 20%, 15% cd porno objek serta anak-anak korban pelecehan seksual secara online dari 11%. (Lihat http://kpai.go.id)

Kehadiran berbagai media sosial dan situs yang digunakan sebagai media untuk melakukan Eksploitasi Seksual Anak, korban tidak hanya di kalangan orang miskin, tetapi ancaman bagi semua anak. Gaya hidup, menjadi faktor dominan yang menyebabkan anak-anak menjadi rentan.

Eksploitasi seksual terhadap anak adalah kejahatan yang telah menjadi perhatian internasional. gerakan internasional untuk memerangi Eksploitasi Seksual Anak, telah mengkristal dengan deklarasi dan agenda aksi mengakibatkan Kongres Dunia menentang ESA (Stockholm, 1996; Yokohama, 2001; Rio de Janiero, 2008).

Indonesia sebagai salah satu negara yang aktif berpartisipasi dalam kongres dunia, telah menunjukkan berbagai langkah-langkah untuk memerangi ESA, antara lain; Rencana Aksi Nasional, meratifikasi berbagai instrumen internasional yang berkaitan dengan perlindungan anak, memvalidasi berbagai undang-undang yang secara khusus atau menjadi salah satu bagian atau konten untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak dari ESA. Namun demikian, pada tingkat implementasi kebijakan dan program, masih dianggap kurang memadai. Terutama di mengadili para pelaku ESA untuk mendapatkan hukuman yang tepat

Untuk menyebarkan isu eksloitasi seksual secara online dan melalui perjalanan dan pariwisata sektor dengan berbagai pihak, terutama anak-anak, keluarga atau masyarakat, pemerintah, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta, sementara mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk melakukan upaya pencegahan. Pada tingkat dasar, kelompok bangunan anak-anak dan mendorong kerja kolaboratif dari berbagai pemangku kepentingan akan diselenggarakan dalam organisasi Jaringan Perlindungan Anak. Peran sektor swasta, khususnya terkait dengan sektor pariwisata dalam pencegahan dapat dilakukan melalui kampanye “peringatan” terhadap kejahatan seksual terhadap anak-anak di publikasi dan media kampanye serta kebijakan mereka.

Featured

“Study Banding Yayasan Setara bersama 8 Mitra Sekolah Dampingan”

Pada Minggu, 30 Agustus 2015, Yayasan Setara bersama perwakilan guru dari delapan (8) Sekolah Dasar di Semarang, melakukan studi banding tentang pengembangan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Tempat yang dituju adalah Qoriyah Thoyibah (Salatiga) dan SD Muhammadiyah 16, Surakarta.

QORIYAH THOYIBAH

gambar 1Komunitas Belajar Qoriyah Thoyibah terletak di Jln. R. Mas Said No.12 , Kalibening, Salatiga adalah sekolah berbasis komunitas/desa (Community Based Schooling) di mana wargalah yang menentukan baik buruknya anak-anak desa ke depan. Konsep pengembangan pendidikan dasar terkait pengembangan partisipasi anak. Di kelola oleh Bapak Badrudin. Pendidikan dikelola bersama dalam sebuah lembaga pendidikan non formal, di mana antara warga desa, pemerintah desa, orang tua murid, guru, anak didik, secara rutin dan terus-menerus mengevaluasi, merencana-kan dan mengawasi secara bersam-sama. Inilah yang disebut dengan pendidikan alternatif yang digagas warga, dikelola bersama, dibesarkan bersama dengan tujuan meningkatkan mar-tabat warga desa itu sendiri.

Qariyah Thayyibah menawarkan prinsip pendidikan alternatif.

Gambar 2Prinsip utama, pendidikan dilandasi semangat membebaskan, dan semangat perubahan kearah yang lebih baik. Membebaskan berarti keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan pendidikan tidak kritis,dan tidak kreatif,sedangkan semangat perubahan lebih diartikan pada kesatuan belajar dan mengajar, siapa yang lebih tahu mengajari yang belum paham, hal ini kemudian akan didapat seorang guru ketika mengajar sebenarnya dia sedang belajar, terkadang belajar apa yang tidak diketahuinya dari murid.

Prinsip kedua, keberpihakan, adalah ideologi pendidikan itu sendiri, di mana akses keluarga miskin berhak atas pendidikan dan memperoleh pengetahuan. Prinsip ketiga, metodologi yang dibangun selalu berdasarkan kegembiraan murid dan guru dalam proses belajar mengajar, kegembiraan ini akan muncul apabila ruang sekat antara guru-murid tidak dibatasi, keduanya adalah tim, berproses secara partisipatif, guru sekedar fasilitator dalam meramu kurikulum.

Prinsip keempat, Mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola sekolah, guru, siswa,wali murid, masyarakat dan lingkungannya dalam merancang bangun sistem pendidikan yang sesuai kebutuhan, hal ini akan membuang jauh citra sekolah yang dingin dan tidak berjiwa yang selalu dirancang oleh intelektual kota yang tidak membumi (tidak memahami masyarakat).

Prinsip-prinsip inilah yang kemudian diturunkan dalam sebuah konsep pendidikan alternatif, bagaimana guru, pengelola, siswa, sarana penunjang dan lingkungannya saling berinteraksi.

Berbanding terbalik dengan 8 sekolah dampingan setara yaitu 5 sekolah Negeri dan 3 swasta di mana metode pendidikan telah terstruktur dari pemerintah pusat, sekolah beserta Guru harus menjalankan kurikulum yang didesain pemerintah sifatnya bisa di bilang harus taat aturan. Tapi itulah fungsi diadakannya study banding kita bersama-sama bisa banyak belajar dari tempat yang kita kunjungi.

SD MUHAMMADIYAH 16 Kaliasem Solo.

gambar 3SD Muhammadiyah merupakan salah satu sekolah yang telah mengembangan SRA (Sekolah ramah Anak) dan telah di anggap memenuhi standar Sekolah Ramah Anak.

Pengembangan SRA berbasis 3P : Proteksi, Provisi, Partisipasi yaitu aturan di kembangkan dari kemauan anak – ke orang – baru ke Guru.

Pembelajaran dengan mengedepankan pengembangan sarpras/lingkungan dan mendorong Partisipasi untuk belajar. Metode yang dilaksanakan praktek langsung dalam proses pembuatan Teh, Tempe, Proses Membatik, memerah susu, kunjungan-kunjungan ke perusahaan/Pabrik (Aunthentic Learning).

Dengan penerapan Metode Aunthentic Learning tidak mengganggu kurikulum, pelaksanaanya bisa disesuaikan dengan keadaan Sekolah dan Lingkungannya dan juga tidak harus mahal. Guru tidak hanya mengajar tapi juga sebagai Fasilitator untuk mengusahakan anak Belajar, melekatkan penerapan SRA dengan Disiplin Posistif dan menghindari Punishment/ hukuman yaitu dengan memberikan kasih sayang terhadap anak mendidik dengan penerapan aqidah (Sholat, hafalan surat al qur’an)

Tentu saja harapan dengan studi banding ini, hal-hal terbaik dapat dipetik pembelajarannya dan dipraktekkan oleh delapan (8) Sekolah Dasar di Semarang.

Minggu 30 Agustus 2015

 

Featured

Ketika Anak-anak Bersuara dalam Peringatan 25 tahun KHA

Gubernur bersama anak2_a

Walaupun kondisi tubuh belum begitu nyaman, ruang pertemuan dengan anak-anak dan para aktivis pendamping anak, mampu mengusir ketidaknyamanan menjadi kegembiraan. Itulah yang saya alami saat hadir dalam acara peringatan 25 Tahun KHA di Semarang yang berlangsung pada tanggal 22-23 November 2014.

Saat berjumpa dengan anak-anak yang berasal dari kelompok anak jalanan, mantan anak yang berkonflik dengan hukum, anak korban kekerasan seksual, anak kampung urban, dan anak-anak dari pedesaan, ini mengingatkan pada ruang-ruang pertemuan pada tahun 1990-an, tatkala anak-anak pinggiran berjuang untuk hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal mana, beberapa tahun terakhir, menjadi peristiwa yang langka.

Selain itu, kehadiran para aktivis dari berbagai kota di Jawa Tengah, mengingatkan pula pada ruang pertemuan yang pernah digelarpada tahun 2002, tatkala berbagai organisasi masyarakat sipil berhimpun dalam Forum Masyarakat Peduli Anak Jawa Tengah yang memperingati hari Anak selama satu bulan penuh di berbagai kota, dan pada puncaknya dilaksanakan jamboree anak yang melibatkan hampir seribu anak dari berbagai pelosok Jawa Tengah.

Selain itu, acara ini, menjadi semacam reuni dari para pendekar pejuang anak, yang pernah bekerjasama dalam perhelatan besar semacam Jambore Gema Merdeka di Tanah Gempa yang berlangsung selama delapan hari di Yogyakarta yang melibatkan lebih dari 10,000 anak di tahun 2006, Jambore anak Merdeka di Kaliurang tahun 2007, dan Temu Anak Nasional Anti Perdagangan Manusia di tahun 2008,

Perwakilan anak dari Sembilan kota/Kabupaten dari tiga propinsi, berkumpul di Hotel Saraswati Semarang, mereka mendiskusikan tentang situasi kehidupan yang dialami, membangun mimpi-mimpi perubahan atas kehidupan yang lebih baik, dan menggagas upaya-upaya untuk mencapainya. Hasil diskusi ini, dirumuskan kembali oleh tim yang beranggotakan perwakilan dari setiap kelompok menjadi Deklarasi Anak.

Selain itu, melalui workshop teater, kepenulisan, gambar dan musik, mereka  menyuarakan situasi dan pandangan-pandangannya ke dalam karya. Hasil yang diperoleh dipamerkan dan dipentaskan pada puncak acara di tanggal 23 November yang bertempat di halaman kantor gubernur Jawa Tengah.

Peserta bertambah banyak dengan hadirnya anak-anak dari tujuh Sekolah Dasar yang telah mempersiapkan karya-karya mereka dalam ruang pameran, dan pementasan.

Acara semakin semarak dengan hadirnya Gubernur Jawa Tengah, dan para pejabat teras yang berbaur bersama anak-anak tanpa batas. Dialog dua arah antara anak-anak dengan Gubernur benar-benar terjadi. Ganjar Pranowo, tanpa rasa rikuh langsung duduk di tengah-tengah kerumunan anak, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Tidak seperti pejabat pada umumnya, tajuknya “dialog” namun yang berlangsung malah ceramah yang membosankan.

Ganjar mampu melontarkan joke-joke segar yang membangkitkan semangat anak-anak. Tepuk tangan meriah membahana tatkala sang Gubernur langsung mengenakan kaos acara yang diserahkan oleh seorang perwakilan anak.

Pada kesempatan itu, Ganjar Pranowo juga memberikan pesan tertulis yang berbunyi: Mereka (Anak-anak Kita) butuh cinta dan perhatian. Gandeng tangan bersama untuk anak-anak Indonesia yang lebih baik.

Anak-anak melalui perwakilannya, membacakan hasil rumusan deklarasi anak, yang kemudian naskah deklarasi tersebut diberikan kepada Gubernur Jawa Tengah.

 “Seharusnya ada workshop lagi yang melibatkan banyak kelompok anak, bersama SKPD-SKPD dan juga Gubernur,” usul Gubernur yang mendapatkan respon kegembiraan dari anak-anak. Nah, ini menjadi PR, bagi SKPD atau Organisasi Non Pemerintah untuk menindaklanjuti usulan yang telah dilontarkan ini.

Penulis: Odi Shalahuddin

Sumber: Kompasiana

Featured

Lagu Hak Anak Merdeka, Pembuka Peringatan 25 tahun Konvensi Hak Anak

25thnkha-b

Hak Anak Merdeka Yang Harus didapat  
Bermain, pendidikan, dan perlindungan 
Akte kelahiran 
Asuhan Keluarga 
Kesehatan, Kesamaan 
Peran dalam Perubahan

Puluhan anak-anak menyanyikan lagu Hak Anak Merdeka dengan lantang dan penuh semangat. Lagu tersebut dinyanyikan pada pembukaan “Peringatan 25 Tahun Konvensi Hak Anak” yang dilakukan di Hotel Grand Saraswati Semarang Jawa-Tengah.

“Peringatan 25 Tahun Konvensi Hak Anak” dilakukan oleh Yayasan SETARA Semarang bekerjasama dengan jaringan nasional Indonesia Against Child Trafficking (Indonesia ACT), Dewan Kesenian Semarang, Plan Internasional Program Unit Rembang, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah serta didukung oleh ICCO, UNICEF dan TDH Netherland mengadakan acara “Peringatan 25 tahun Konvensi Hak Anak”.

Acara berlangsung dari tanggal 22 sampai 23 November 2014 di Hotel Grand Saraswati Semarang.Mengambil tema My Voice fo A better World (Suaraku Untuk Dunia yang Lebih Baik) sebagai momentum untuk menyuarakan kepentingan anak-anak. Konvensi Hak Anak merupakan perjanjian yang mengikat secara yuridis dan politis di antara berbagai negara yang berhubungan dengan hak-hak anak.

Negara Indonesia yang telah meratifikasi KHA sejak 24 tahun juga masih menghadapi persoalan yang sama. Berbagai masalah situasi anak masih belum lebih baik seperti masih banyak anak-anak menjadi korban perdagangan. Situasi yang menjadi keprihatinan pada satu tahun terkahir ini adalah banyaknya terungkap kasus-kasus eksploitasi/kekerasan seksual terhadap anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Ironisnya ada satu kasus kekerasan seksual terungkap terjadi di satu sekolah internasional dengan korban lebih dari satu anak. KPAI menyampaikan bahwa pada tahun 2014 dari bulan Januari sampai dengan April telah menerima laporan kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 622 kasus.

Selama dua hari beberapa kelompok anak lintas isu, kelompok survivor, anak yang berkonflik dengan hukum atau mantan AKH, pelajar,anak pedesaan, pekerja anak, anak jalanan, dan forum anak kota dari berbagai kelompok yang berasal dari  Semarang, Klaten, Solo, Rembang, Yogyakarta dan Bali   akan merefleksikanperjalanan selama 25 tahun KHA, melalui sharing pengalaman anak dari berbagai kelompok anak dan selanjutnya akan dirumuskan dalam point-point perubahan penting yang direkomendasikan khususnya kepada Pemerintah.

Rumusan akhir dari workshop yaitu menyuarakan pernyataan sikap anak tentang pelaksanaan KHA ke depan untuk perbaikan situasi anak lebih baik khususnya di Indonesia. Konsep perlindungan versi anak melalui Deklarasi Anak untuk perbaikan hak anak di Indonesia, yang juga akan ditanda tangani oleh perwakilan-perwakilan kelompok anak dan akan dibacakan kemudian diserahkan secara simbolik kepada Gubernur Jawa Tengah untuk menjalankan mandat anak tersebut.

Selain itu anak-anak juga akan menyuarakan pendapat dan pandangan anak  mengenai situasi hak-hak anak yang  disampaikan dalam media ekpresi, seperti gambar, penulisan, musik, dan teater.

Nantinya pada hari Minggu (23/11), mulai pukul 07.00 wib seluruh peserta ditambah perwakilan anak-anak pelajar dari kota Semarang akan melakukan pawai simpatik yang dimulai dari halaman POLDA Jawa Tengah menuju halaman Kantor Provinsi Jawa Tengah di jalan Pahlawan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan jajaranya nantinya akan menyambut anak-anak peserta pawai. Setelah itu dilanjutkan pembacaan deklarasi oleh anak dan dialog Gubernur Jawa Tengah bersama anak-anak, sebagai penutup “Peringatan 25 Tahun Konvensi Hak Anak” akan dipentaskan karya anak berupa musik, teater, poster dan lain-lain. (Wien)

Penulis: Wien Tanpa OO

Sumber: Kompasiana

Featured

Selamat Hari Anak Internasional, 25 Tahun KHA

25thnkha

20 November. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Anak Internasional. Selain itu,  tepat 25 tahun yang lalu, setelah melalui perjuangan yang panjang, akhrinya Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa melalui resolusi Nomor No. 44/25 telah mengadopsi  Konvensi Hak Anak, yang telah disusun oleh Komite Kerja yang dibentuk sejak tahun 1976.

Sejarah baru telah ditancapkan.  Sejak itulah, secara yuridis dan politis, anak diakui sebagai subyek yang memiliki hak. Ini merupakan perubahan radikal di mana sebelumnya anak ditempatkan hanya sebagai sosok yang  patut diperhatikan dan dikasihani serta ditolong, sehingga pendekatannya adalah pendekatan karitatif.

Kita patut berterima kasih kepada Eglantinne Jeb, seorang aktivis perempuan yang pertama kali menggagas dan merumuskan butir-butir tentang hak anak di tahun 1923. Ia menilai bahwa akibat perang Dunia I, pihak yang paling rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak.  Perhatian terhadap  kehidupan anak-anak yang lebih baik diwujudkan dengan membentuk Organisasi  Non pemerintah yang bernama Save the Children, yang kini kiprahnya masih terus berkibar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Di tahun 1924, Liga Bangsa-bangsa mengadopsi rumusan dari Egalntine Jebb, dan mengembangannya menjadi Deklarasi Hak Anak , yang berisi 10 butir pernyataan tentang hak anak.  Hal mana ditegaskan kembali dengan pengesahan Deklarasi hak Anak pada tanggal 20 November 1959 oleh Majelis Umum PBB.

Terinspirasi dari dokumen tersebut, di awal tahun 1990-an, seorang aktivis hak anak, menggubah lagu “10 Hak Anak” yang hingga saat ini masih kerap dinyanyikan oleh para aktivis anak di Indonesia, walaupun patut dicatat adanya para relawan pendamping anak pada masa Gempa di Yogyakarta (2006) melakukan modifikasi pada liriknya, dan memberi judul baru “Hak Anak Merdeka”

Lantas, bagaimana perkembangan anak-anak, khususnya di Indonesia setelah seperempat abad KHA dengan ketentuan-ketentuannya yang menjadi standar minimal di berbagai belahan dunia menjadi landasan utama bagi pencapaian kehidupan anak-anak yang lebih baik?

Tak dipungkiri, masih dijumpai berbagai situasi dan kondisi anak-anak yang “terpaksa” menjalani kehidupan yang buruk. Anak yang berada di dunia kerja, yang bahkan tak jarang menjadi “sapi perahan” dari keluarga atau jaringan kejahatan, anak-anak yang menjadi korban kekerasan, penelantaran, perbudakan, dan perdagangan manusia, serta berbagai kasus lainnya.

Di sisi lain, kita juga tidak mengelak adanya kemajuan-kemajuan yang telah berhasil diraih. Kebijakan Negara untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan yang terkandung di dalam KHA, misalnya dapat terlihat dengan disahkannya berbagai Peraturan-perundangan di tingkat nasional , propinsi, kota/Kabupaten hingga tingkat desa. Berbagai program untuk peningkatan kualitas hidup anak juga semakin banyak dilakukan oleh Negara dan berbagai organisasi masyarakat sipil.

Di Hari Anak Internasional yang sekaligus 25 tahun diadopsinya KHA, dapat menjadi titik refleksi untuk melihat sejauh mana upaya yang telah dilakukan, dan mengembangkan berbagai strategi yang efektif untuk mengembangkan program-program perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

Di berbagai wilayah, tentu ada organisasi-organisasi yang menjadikan peringatan 25 tahun KHA sebagai momentum untuk menyuarakan kepentingan anak-anak. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Setara Semarang dan Indonesia Against Child Trafficking yang merencanakan menggelelar acara “peringatan 25 Tahun KHA” dengan tema My Voice fo A better World (Suaraku Untuk Dunia yang Lebih Baik). Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 November 2014 di Semarang.

Acara yang didukung oleh ICCO-KIA, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, Dewan Kesenian Semarang, Plan Internasional Program Unit Rembang, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, akan menghadirkan anak-anak dari berbagai kelompok yang berasal dari Semarang, Klaten, Solo, Rembang, Yogyakarta dan Bali.

Mereka akan berkumpul, belajar dan bekerja bersama menghasilkan karya dan suara anak yang akan disampaikan kepada pejabat Negara. Direncanakan  ada berbagai workshop yang diikuti oleh anak-anak, karnaval, pameran karya anak dan dialog dengan Gubernur Jawa Tengah,” demikian dikatakan oleh Hening Budiyawati, pengurus Yayasan Setara.

Penulis: Odi Shalahuddin

Sumber: Kompasiana

Featured

Deklarasi Anak: Suara Kami Untuk Dunia yang Lebih Baik”

Deklarasi2

“SUARA KAMI UNTUK DUNIA YANG LEBIH BAIK”

Kami perwakilan dari delapan Kabupaten/Kota di tiga Provinsi berkumpul dan bertemu pada tanggal 22 November 2014 di Kota Semarang dalam Temu Anak untuk Memperingati 25 tahun Konvensi Hak Anak yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 20 November 1989.  Temu Anak dihadiri oleh 90 anak (52 perempuan dan 38 laki-laki) dan 26 pendamping (16 perempuan dan 10 laki-laki) dari 12 organisasi.

Kami menyadari banyaknya kekerasan yang terjadi pada anak, penelantaran terhadap anak, hak atas identitasnya, banyak anak putus sekolah, banyak anak menjadi korban perdagangan dan fasilitas yang tersedia  kurang memadai bagi anak. Dari situlah kami menyuarakan bahwa :

  1. Menuntaskan isu-isu tentang pendidikan yang belum baik dan tidak merata.
  2. Selalu mendapatkan perlindungan dari Pemerintah
  3. Menuntut untuk lebih memperhatikan isu tentang perdagangan anak.
  4. Pemerintah harus bisa memberikan dan meningkatkan fasilitas pendidikan untuk mengembangkan bakat anak.
  5. Menuntut penghapusan kekerasan oleh aparat terhadap anak yang bermasalah dengan Hukum dan perbaikan fasilitas bagi anak jalanan.
  6. Meminta evaluasi yang mendalam tentang kinerja dari lembaga pemasyarakatan dan aparat yang sering bersinggungan dengan anak yang bermasalah dengan hukum.
  7. Pemerataan pendidikan dan kesejahteraan bagi semua kalangan.
  8. Memberikan pelayanan sipil khususnya anak yang terbaik serta informasi yang konkrit dan jelas tentang pelaksanaannya.
  9. Kami menginginkan kesempatan berpartisipasi dalam musyawarah perencanaan pembangunan, pelaksanaan dan pengawasan.

Demikian, Deklarasi ini kami buat, kami meminta kepada Pemerintah untuk menanggapi dengan serius tuntutan  kami, dan kami meminta Pemerintah untuk menunjukkan kerja nyata dari keinginan ini.

“DUNIA YANG LEBIH BAIK BAGI ANAK-ANAK, KAMI ADA UNTUK MASA DEPAN”

Semarang, 23 November 2014

Tertanda,

  • Perwakilan Anak Kota Semarang
  • Perwakilan Anak Kota Surakarta
  • Perwakilan Anak Kabupaten Rembang
  • Perwakilan Anak Kabupaten Klaten
  • Perwakilan Anak Kabupaten Kendal
  • Perwakilan Anak Kota Yogyakarta
  • Perwakilan Anak Kabupaten Gunung Kidul
  • Perwakilan Anak Kota Denpasar
Featured

Peringatan 25 Tahun KHA di Semarang Resmi di buka

25thnkha

“Suaraku untuk Dunia yang Lebih Baik” (My Voice for a Better World), demikian tema yang diangkat oleh Yayasan Setara bersama Indonesia ACT, untuk memperingati 25 Tahun KHA.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 22-23 November 2014, dipusatkan di Hotel Grand Saraswati dan di halaman kantor Gubernur Jawa Tengah.

Pagi ini, kegiatan tersebut resmi dibuka, melalui sambutan oleh I Made Sutama, Kepala Kantor UNICEF Jawa – NTB, dan oleh Dedy Prasetio, Ketua Pengurus Yayasan Setara.

Di acara pembukaan berkumandang lagu-lagu anak merdeka, seperti: “Hak Anak Merdeka”, “Roti Matahari”, dan “Titik Api”.

Kegiatan yang diikuti oleh anak-anak dari Semarang, Klaten, Kendal, Rembang, Solo, Yogyakarta dan Bali, hari ini dimulai dengan workshop-workshop untuk mengungkap ekpresi anak melalui berbagai media, dan merumuskan deklarasi anak.

“Karya-karya anak yang dihasilkan akan dipamerkan besok di halaman Gubernur, dan Deklarasi akan dibacakan saat bertemu Gubernur Jawa Tengah,” demikian dijelaskan oleh Hening Budiyawati, pengurus Yayasan Setara di sela acara pembukaan.

Featured

Peringatan 25 Tahun KHA di Semarang

25thnKHA

Memperingati 25 Tahun KHA, sejak diadopsinya oleh Majelis Umum PBB tanggal 20 November 1989, berbagai organisasi masyarakat sipil di Indonesia mempersiapkan diri untuk menggelar berbagai kegiatan bersama anak-anak, sebagai subyek utama dari KHA. Salah satunya adalah yang akan diselenggarakan di Semarang, tanggal 22-23 November 2014. Acara akan melibatkan anak-anak dari berbagai daerah seperti; Solo, Klaten, Yogyakarta, Rembang, Bali dan Semarang sendiri.

“Beberapa tahun terakhir, secara rutin kami selalu membuat kegiatan bersama anak-anak di akhir tahun untuk menggelar ekpresi dan pandangan anak-anak melalui beragam karya, dan mendiskusikan persoalan-persoalan anak, menggagas upaya pemecahannya, dan menjadikan sebagai rencana aksi untuk tahun berikutnya, termasuk kebutuhan advokasi. Pada tahun ini, bertepatan pula dengan 25 tahun diratifikasinya KHA, sehingga tema difokuskan untuk memperingatinya” tutur salah seorang pengurus Yayasan Setara, Hening Budiyawati.

Guliran gagasan peringatan 25 Tahun KHA, mendapat respon positif. Tercatat ICCO-KIA, Terre des Hommes Netherlands, UNICEF, Plan Indonesia Program Unit Rembang, Indonesia Against Child Trafficking, memberikan dukungan dengan melibatkan partner mereka untuk mengikuti acara yang diberi tema: My Voice fo A better World (Suaraku Untuk Dunia yang Lebih Baik).

Acara ini akan mempertemuan beberapa kelompok anak lintas isu, kelompok survivor, anak yang berkonlfik dengan hukum atau mantan AKH, pelajar,  anak pedesaan, pekerja anak, anak jalanan, dan forum anak kota.

“Dukungan juga diberikan oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Direncanakan Gubernur akan turut menghadiri acara ini,” jelas Yuli “BDN” Sulistyanto, Koordinator Panitia.

Bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan meliputi; workshop musik, workshop gambar, Workshop teater, karnaval, penyusunan deklarasi anak, dan dialog dengan Gubernur Jawa Tengah.  Hasil-hasil karya anak akan mengisi ruang-ruang pameran di pusat kegiatan.

Informasi lebih lanjut tentang acara ini dapat menghubungi Yayasan Setara, Sampangan baru Blok A 14, Semarang, email: yase@indo.net.id, atau menghubungi panitia: Yuli Sulistyanto (0878-32255019), Ika (0858-76179406) dan Nana (0819-01019026 / 0857-40848962)

(Odi Shalahuddin)