Suara Merdeka, Sabtu, 24 Juli 2004 SEMARANG

SEMARANG- Selain persoalan tingginya angka balita gizi rendah yang terdapat di Kota Semarang, kini mengemuka 2.000 anak jalanan (anjal) yang ada di Kota ATLAS terkena penyakit pernapasan.

Sebagian dari mereka mendapat pengobatan rutin secara cuma-cuma dari klinik pengobatan ASA PKBI dan PMI Cabang Kota Semarang.

Hal itu dikemukakan salah seorang aktivis LSM Setara, Dedy. Dari penelitian LSM yang memfokuskan pada pendampingan anak jalanan ini, menyebutkanpermasalahan yang sering dialami anak jalanan adalah menjadi korban kekerasan dan terserang sakit pernapasan.

Dari sekitar 2.325 anak jalanan yang tersebar di Kota Semarang, 2.000 di antaranya pernah terkena sakit pernapasan yang cukup serius. Kebanyakanmereka berusia di bawah 17 tahun, bahkan 20% di antaranya adalah anak-anak balita yang dibawa orang tuanya ikut pengemis di jalan-jalan kota.

Dedy mencontohkan, bayi berumur 2 tahun yang bernama Jati dari Dusun Batu, Sayung Demak terkena sesak pernapasan. Batuk dan flu hampir menjadiidentitas yang tidak pernah lepas. Akibatnya, suhu badannya selalu panas dan kondisi kesehatan fisiknya terus menurun.

“Kalau mengetahui seperti itu, pasti kami antar ke Klinik Pengobatan ASA PKBI. Namun untuk menyembuhkan penyakit pernapasan butuh waktu, dan harus tidak di jalanan, dan hal itu tidak bisa mereka lakukan,”

Jumlah anak jalanan di Semarang, 40 %adalah anak yang masih sekolah dasar, 40 % lainnya anak putus SD dan 20% sisanya tidak pernah sekolah. “Ada 95 persen anak jalanan adalah warga asli Semarang, selebihnya 5 persen dari Demak.”

Ada orang tua yang mempunyai 7 anak, dan semuanya dibiarkan menjadi anak jalanan. Dan, ketujuh anak tersebut ternyata berasal dari hubungan di luar nikah dan tidak satu ayah. “Kondisi di jalanan memang seperti itu adanya,” jelas Dedy.

Kekerasan Seksual

Selain risiko terkena sakit pernafasan, para anak jalanan sering menjadi korban kekerasan seksual. Biasanya perlakuan kekerasan seksual terjadi dilingkungan mereka sendiri. Bahkan hubungan asusila seperti layaknya suami istri dirasakan bukan hal yang tabu. Terhadap persoalan seperti itu, katadia, ada sejumlah LSM yang peduli dan memberikan bantuan berupa kondom. Pemberian alat kontrasepsi tersebut, untuk menghindari terjadinya kehamilan dan risiko terkena penyakit mematikan HIV/AIDS.

Salah seorang anak jalanan di Simpanglima yang mengaku bernama Nurwanto (18), mengaku sebenarnya ingin menikah dengan Wati (16) sesama anjal. Namun karena tidak punya uang, keinginan itupun kandas. Padahal, hubungannya dengan gadis kesayangannya sudah seperti suami istri.

Beda halnya dengan Udin alias Gepeng yang mengakui berulangkali melakukan hubungan seks sesama anak jalanan. “Podo senenge mas, kon nunggu opo meneh,” katanya seakan tanpa beban.(H1,G17-73)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/24/kot11.htm