Suara Merdeka, 11 Agustus 2004

SEMARANG– Berdasarkan penelitian Yayasan Setara tahun 1999, sebanyak 46,4% anak jalanan perempuan di Kota Semarang dijerumuskan ke dunia pelacuran.

Selain itu, beberapa tempat mangkal mereka seperti di Simpanglima, Pandanaran, dan Jalan Pemuda ditengarai menjadi pusat eksploitasi seksual komersial.

Koordinator Yayasan Setara, Dedy Prasetio mengatakan, tingkat prostitusi anak jalanan di Kota Semarang cukup tinggi.

”Semarang diketahui sebagai daerah pengirim dan daerah transit bagi anak yang akan diperdagangkan ke wilayah lain,” ungkapnya.

Sejumlah kasus perdagangan anak bertujuan komersial, kata Dedy, terbongkar dan diungkap di media massa. Menurut kesaksian anak-anak yang pernah diperdagangkan, daerah segitiga emas Batam merupakan salah satu tempat tujuan pengiriman anak-anak.

”Lebih ironis, para penjual anak terkadang adalah orang terdekat korban, seperti orang tua mereka sendiri,” tuturnya.

Dedy juga menyebutkan data PBB yang tak kalah mencengangkan. Mengutip kajian badan perburuhan PBB (ILO-IPEC) tahun 2004, sekitar 84,4% dari pekerja seks komersial yang ada merupakan anak-anak. Dengan kata lain, dari 1.155 pekerja seks yang diteliti, 975 orang di antaranya adalah anak-anak.

”Temuan di tingkat lokal Semarang ataupun internasional menunjukkan, bahwa anak jalanan rentan terhadap kekerasan seksual,” tulisnya dalam siaran pers, Selasa (10/8) kemarin.

Menurut Dedy, selain kegiatan prostitusi anak, perdagangan anak bertujuan seksual dan pornografi anak merupakan bentuk lain dari eksploitasi terhadap anak jalanan.

Lebih lanjut dikatakan, gerakan antieksploitasi seksual anak dimulai 1996 ditandai dengan Kongres Dunia I di Stocholm Swedia. ”Namun di Semarang, sepertinya belum ada gugus tugas daerah yang mengkhususkan diri dalam kampanye penghapusan eksploitasi seksual terhadap anak,” tukasnya. (nik-91b)

Sumber: http://suaramerdeka.com/harian/0408/11/kot04.htm