SOLOPOS, 13 Desember 2003, Halaman 16

Semarang (Espos), Kota Solo merupakan daerah supply, transit sekaligus tujuan perdagangan seksual anak-anak perempuan. Bahkan dari sebuah penelitian diperkirakan 90% anak perempuan jalanan di Solo diperdagangkan sebagai pekerja seksual.

Menurut Koordinator Nasional Indonesia ACTs (Against Child Trafficking), Emy LS, perkembangan perdagangan anak perempuan di Solo dari tahun ke tahun semakin parah. “Dari hasil penelitian Yayasan Kakak Solo baru-baru ini, yang dilakukan terhadap 20 anak perempuan jalanan, 90%nya pernah diperdagangkan sebagai pekerja seksual,” ujarnya kepada wartawan disela aksi demonstrasi Menolak Perdagangan Perempuan dan Anak di halaman Kantor Sekda Jateng Jl Pahlawan,Kota Semarang, Jumat (12/12).

Ditambahkan, penelitian tersebut mewakili kondisi yang ada di lapangan. Saat ini jumlah anak jalanan di Solo lebih kurang mencapai 200 orang. Emy menjelaskan, saat ini Solo bukan hanya sebagai daerah supply dan transit perdagangan seksual anak perempuan ke Jakarta. “Sekarang di Solo juga menjadi daerah tujuan perdagangan seksual anak-anak perempuan,” tandasnya.

Agar kasus perdagangan manusia, khususnya anak-anak perempuan, tidak terulang kembali, maka semua pihak – baik masyarakat maupun pemerintah – harus menjalin kerja sama memeranginya dan menyeret pelaku ke pengadilan.

“Perdagangan manusia merupakan perbudakan baru zaman modern. Untuk itu harus dihentikan segera,” ujar Emy.

Dalam aksi kemarin, para aktivis mengelar happening art yang menggambarkan perdagangan anak. Mereka juga membawa dua buah spanduk berukuran besar bertuliskan Manusia Hidup Bukan untuk Diperdagangkan, dan Stop Perdagangan Anak dan Perempuan. Selain diikuti kalangan aktivis anti perdagangan manusia; di antaranya Indonesia ACTs, Yayasan Kakak Solo, LRC KJHAM Semarang, Setara Semarang, Yayasan Kusuma Buana Yogyakarta, LBH Apik, SAMIN Yogyakarta, aksi itu juga melibatkan anak-anak dan ibu rumah tangga.

Dalam pernyataan sikapnya yang dibagikan kepada wartawan, mereka mengimbau kepada masyarakat luas untuk meningkatkan kepedulian terhadap permasalahan perdagangan anak dan perempuan. Semua orang dapat berpartisipasi mencegah terjadinya perdagangan anak dan perempuan.

Perdagangan manusia terutama anak dan perempuan merupakan tindakan yang sangat merendahkan harkat dan martabat manusia. “Penghapusan perdagangan manusia memerlukan komitmen tinggi dari negara melalui kebijakan dan langkah sistematis.” Oto