SUARA PEMBARUAN, Minggu, 4 Juni 2000

Di Semarang, kasus-kasus eksploitasi anak sering terjadi terutama pada kelompok anak-anak jalanan. Menurut penelitian Yayasan Setara tahun 1999, hampir seluruh anak perempuan jalana pernah mengalami pelecehan seksual.

Sebanyak 30 persen anak jalanan kehilangan keperawanannya akibat perkosaan, malah hampir separonya (46,6 persen) berada dalam dunia prostitusi (pelacuran). Juga ditemukannya indikasi anak jalanan perempuan jadikorban sindikat perdagangan anak untuk tujuan seksual. Anak jalanan laki-laki, meski belum terungkap, juga menjadi sasaran objek seksual orang dewasa.

Melihat fenomena memprihatinkan inilah, puluhan aktivis pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Yayasan Setara, Kamis (1/6), berkampanye antieksploitasi seksual terhadap anak jalanan. Mereka bergerak ke Kawasan Simpang Lima, sepanjang Jalan Pemuda dan berbagai sudut Kota Semarang. Kampanye dilakukan berkaitan dengan peringatan Hari Anak Internasional pada 1 Juni 2000.

Koordinator Pelaksana Kampanye, Th Bambang Pamungkas kepada Pembaruan, Sabtu (3/6) pagi, mengemukakan banyakhal yang mendorong aktivis mahasiswa dan pemuda untuk terus melancarkan kampanye guna menyelamatkan anak-anak jalanan. Soalnya, dari sejumlah temuan anak jalanan, terdapat hal yang cukup mengejutkan.

Ia mencontohkan, berdasarkan penelitian Yayasan Setara itu, gara-gara kurangnya pendekatan dengan responden, mereka yang semula baru dalam tahap pendampingan prostitut (pelacur kecil atau anak-anak) dalam penelitian tahun 1999 lalu, kini mereka benar-benar telah menjadi prostitut. Jumlahnya tidak main-main, 10 orang dari 56 orang responden.

Itulah sebabnya, kampanye dilakukan karena realitas tentang eksploitasi seksual terhadap anak dalam berbagai bentuk, mulai pelecehan, kekerasan seksual, perkosaan, sampai ke bentuk komersial hadir di tengah kehidupan kita.

Negara Diam

Menurut Th Bambang Pamungkas, meskin Indonesia telah meratifikasi konvensi Internasional tentang Hak Anak, namun hingga kini sosialisasinya belum banyak dilakukan oleh negara alias diam saja. Malah, keikutsertaan delegasi Indonesia dalam konggres menentang eksploitasi seksual, belum ditindaklanjuti dengan penyusunan agenda aksi nasional.

Dengan kata lain, kenyataan ini mencerminkan masih kurangnya kesadaran tentang hak-hak anak khususnya perlindungan  anak dari eksploitasi seksual. Anak menjadi korban eksploitasi seksual, dipaksa menjalani situasi yang sangat buruk.

Perkembangan diri anak secara fisik, mental dan sosial pun terganggu. Pandangan masyarakat terhadap anak yang menjadi korban, melahirkan stigma. Contoh, anak korban perkosaan justru sering diasingkan oleh keluarga dan masyarakat, karena dianggap aib. Demikian juga anak-anak yang telah terjerumus dalam prostitusi.

Itulah sebabnya, eksploitasi seksual terhadap anak harus dihentikan. Seorang dewasa yang menggunakan anak untuk tujuan seksual harus dilihat sebagai kejahatan yang patutu dihukum berat, ujar Th Bambang.

(104)