Anak Berkonflik Hukum Harus Dilindungi (Radar Semarang, 2011)

RADAR SEMARANG, Senin, 12 September 2011

KAUMAN – Tindakan pidana yang dilakukan anak-anak di bawah umur, tak seharusnya berakhir di peradilan pidana. Untuk tindakan pidana ringan, sebaiknya diselesaikan dengan kekeluargaan. Hal ini bisa disebut sebagai keadilan restoratif (restorative justice).

“Misalnya anak mencuri rokok, sandal, helm, sebaiknya tidak berujung ke peradilan pidana, tapi hukuman bisa dilakukan oleh orang tua. Apalagi kalau sampai anak-anak ditahan bareng orang dewasa, tidak boleh,” tutur Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang Slamet Haryanto dalam acara Pelatihan Hak Asasi Manusia di Hotel New Metro, Sabtu (10/9). Pelatihan yang diikuti Komite Sekolah, Lurah dan Babinkamtibmas berlangsung hingga Minggu (11/9) kemarin.

Menurut Slamet, untuk mewujudkan Kota Semarang sebagai kota layak anak, maka dibutuhkan pemahaman atas penanganan tindakan pidana yang melibatkan anak-anak. Harapannya, aparat penegak hukum, pemerintahan maupun masyarakat sipil lainnya, bisa memahami perlindungan hukum terhadap pelaku pidana anak. “Kami juga kana membentuk posko untuk menangani persoalan anak. Untuk sementara baru di 111 kelurahan pada 10 kecamatan di Kota Semarang.

Iranita Wijayanti, pembicara dari Yayasan Setara menuturkan, kategori anak yang berkonflik dengan hukum (AKH) adalah anak yang disangka, didakwa, dinyatakan bersalah melanggar hukum pidana. Mereka wajib mendapatkan hak-haknya selama menjalani proses hukum.

Antara lain, secepatnya dan secara langsung diberitahukan tentang tuduhan terhadapnya dan jika layak, melalui orang tua atau wali yang sah serta mendapatkan bantuan hukum.

AKH berhak mendapatkan bantuan juru bahasa secara cuma-cuma jika anak tidak memahami hal yang dituduhkan. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari orang tua, wali atau pendampingan lain yang ditunjuk dalam setiap proses peradilan.

“Dalam UU no 3 tahun 1997 tentang peradilan anak, mengatur bagaimana proses pidana untuk anak berkonflik dengan hukum,” jelasnya. (ton/isk/cel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *