ANAK JALANAN, Anak-anak Terpaksa Turun ke Jalan (Kompas, 2010)

KOMPAS, 1 Februari 2010

SEMARANG, KOMPAS – Selain pengaruh lingkungan sosial, anak-anak jalanan terpaksa turun ke jalan karena alasan ekonomi. Mereka harus membantu orangtua membiayai sekolah mereka sendiri.

Koordinator Yayasan Setara Hening Budiyawati di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (29/1), mengatakan, ada faktor pendorong dan faktor penarik anak-anak turun ke jalan. Faktor pendorong adalah alasan ekonomi sehingga mereka harus mencari uang. Sementara faktor penarik adalah banyak teman yang mendapatkan uang di jalanan dengan mudah.

“Persoalan anak jalanan adalah minimnya pemenuhan hak anak, baik oleh orangtua maupun pemerintah. Alasan orangtua, mayoritas biaya sekolah yang sangat tinggi,” kata Hening.

Menurut dia, sangat membahayakan apabila anak kecil berada di jalanan. Apalagi kini usia anak-anak yang berkeliaran di jalan cenderung semakin muda. Mereka rawan mengalami kekerasan, terutama oleh aparat satuan polisi pamong praja yang kerap merazia.

Hening mengatakan, cara-cara represif, seperti tindakan pemerintah saat ini, menunjukkan pemerintah tak memiliki perhatian terhadap anak-anak, termasuk kota yang mencanangkan diri sebagai kota layak anak.

Sementara itu, Ketua Kelompok Pengamen Jalanan Tegal Atmo Muda mengatakan, alasan utama anak-anak turun ke jalan karena ingin mencari uang. “Kebanyakan mulai usia 12 tahun, ada juga yang sampai tua memilih di jalan,” ujarnya.

Mereka bekerja di kota besar sebagai pedagang asongan atau pengamen. Anak-anak itu hidup berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain, dengan menumpang kendaraan umum. “Jarang yang menetap di Jakarta. Biasanya, mereka berangkat naik bus, nanti pulang lagi ikut bus,” kata Atmo yang menjalani kehidupan di jalanan sejak usia 15 tahun.

Tokoh masyarakat Brebes, Atmo Tan Sidik, mengatakan, kantong anak jalanan muncul karena kondisi lahan yang tidak subur. Masyarakat hanya bisa menggarap lahan pada musim penghujan sehingga banyak yang berada dalam kemiskinan. “Ketika ekonomi limbung, anak-anak paling terpengaruh,” katanya.

Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal Nurngudiono berpendapat, kantong-kantong anak jalanan, umumnya daerah bermasalah. Beberapa kantong anak jalanan juga terkenal sebagai basis pencoleng pada tahun 1980. “Hampir sama dengan kantong pengemis,” tuturnya.

Menurut Nurngudiono, anak-anak jalanan sangat rentan kekerasan karena tak memiliki perlindungan hukum dan perlindungan materi. (UTI/WIE).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *