Anak Jalanan, Anak Kita Juga (Nila Ardhianie)

ANAK JALANAN, ANAK KITA JUGA

Oleh : Nila Ardhianie

SUARA MERDEKA,29 Mei 1997, Halaman VI

KESEMARAKAN tanggapan terhadap hasil penelitian mengenai anak jalanan yang dilakukan Yayasan Duta Awam (YDA) Semarang sungguh amat membahagiakan. Respons itu bukan saja memperkaya wawasan kita terhadap apa dan siapa anak jalanan, melainkan sekaligus menjadi indikasi bahwa persoalan anak jalanan tanggung jawab kita bersama.

Terakhir tulisan dari dr Ismed Yusuf dan Amirudin (Suara Merdeka, 16 Mei 1997) bisa memperjelas “anatomi” anak jalanan, khususnya di Semarang. Tanpa niatan untuk berpolemik, saya merasa perlu mengungkapkan beberapa hal yang terkait dengan penelitian itu.

Penelitian anak jalanan di Semarang dilandasi antara lain keprihatinan atas keterusmeningkatan jumlah mereka. Memasuki dekade 90-an saat perkembangan kota Semarang melesat, jumlah anak jalanan pun bertambah. Pada akhir 80-an, jumlahnya masih puluhan. Namun pada awal 90-an sudah mencapai ratusan anak. Pemetaan Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) tahun 1997 menyebutkan jumlah anak jalanan di kota ATLAS sudah mencapai 600 anak.

Dengan berbagai keterbatasan, YDA bersama PAJS – didukung Pemda Kodya Semarang – mencoba mendalami fenomena anak jalanan melalui satu penelitian yang diharapkan bisa menjadi pijakan awal untuk program pendampingan bagi mereka. Tak ada pretensi penelitian dan program yang disusun bersama dengan mereka bisa menjadi “obat yang cespleng” atas gejala itu.

Soal Waktu

Ada hal menarik yang dilontarkan Amirudin mengenai dimensi waktu pada penelitian anak jalanan di Semarang, yaitu waktu bukanlah segala-galanya bagi mereka. Yang utama adalah nata rasa, bukan nata bandha apalagi nata kuasa.

Dia juga menyatakan, mereka tidak pernah benar-benar otonom bisa memiliki waktu. Mereka tidak punya kuasa untuk menentukan waktu, sehingga waktu milik bersama, bukan miliknya, melainkan kepunyaan komunal.

Kembali pada niat awal penelitian itu, tentu persoalan waktu merupakan dimensi yang harus menjadi bagian dasar untuk membuat anatomi dan pemetaan, agar sosok subjek (bukan objek) penelitian jelas.

Tidak mungkin dalam persepsi dan dimensi waktu mereka harus dibedakan dari masyarakat kebanyakan. Sangat tidak adil memberlakukan diskriminasi juga soal waktu terhadap anak jalanan dengan warga masyarakat yang beruntung bisa hidup dalam lingkungan keluarga.

Anak jalanan apa pun alasan mereka keluar dari rumah merupakan sosok yang sebenarnya memilliki kerinduan untuk bisa merasakan kehidupan di luar yang bisa ditawarkan oleh kehidupan jalanan.

Hal itu tercermin pada harapan mereka untuk juga bisa hidup teratur seperti bekerja di pabrik (24,1% jawaban responden), ingin bekerja di kantor atau menjadi pegawai (19,5%), 9,2% ingin menjadi sopir, 8% ingin berdagang dan lain-lain.

Untuk bisa mencapai harapan itu, mereka membutuhkan  berbagai keterampilan. Selain keterampilan, responden juga melihat perlunya memiliki peralatan kerja, kesempatan mendapatkan pekerjaan dan rumah.

Secara tersirat terlihat persepsi mereka soal waktu sebenarnya tak berbeda dari persepsi masyarakat pada umumnya. Bagaimanapun, mereka tak bisa mengelak dari pemahaman umum mengenai banyak hal berkaitan dengan hidup dan kehidupan mereka.

Bukan hanya anak jalanan yang tidak pernah benar-benar otonom bisa memiliki waktu. Semua orang juga mengalami hal yang sama. Setiap orang, apa pun status mereka, memiliki ketergantungan pada lingkungan sosial dan pengaturan waktu. Rasanya, kurang arif kalau disebutkan hanya anak jalanan yang tidak pernah benar-benar memiliki waktu.

Bahkan, orang yang kerap bersinggungan langsung dengan anak jalanan bisa melihat bahwa mereka sebenarnya lebih otonom dalam mengatur waktu. Tidak berlebihan kalau disebut bahwa anak jalanan adalah raja bagi diri sendiri. Pengaturan waktu, keinginan dan langkah hidup sepenuhnya ada di tangan mereka sendiri.  Bepergian atau pindah kota, tanpa tujua yang jelas – sekadar mengikuti kata hati – merupakan hal yang sering mereka lakukan.

Indikasi bahwa anak jalanan adalah raja bagi pengaturan waktu dan segala hal mengenai dirinya tampak juga pada rasio pendapatan per hari dibandingkan dengan pendapatan mingguan.

Yang umum, pendapatan per minggu adalah kelipatan 6 dari pendapatan harian (jumlah hari kerja dalam seminggu 6 hari). Tapi yang terjadi pada anak jalanan tidak demikian, perbandingan rata-rata ternyata hanya 1 : 2.

Hal itu bisa terjadi karena mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Jika merasa belum perlu mencari uang, tanpa memikirkan hari esok, mereka menggunakan waktu untuk melakukan hal lain, termasuk menghabiskan uang yang sudah mereka peroleh.

 

Penanganan Kuratif

Sangat mungkin bahwa bagi anak jalanan yang lebih penting adalah nata rasa, bukan nata bandha, apalagi nata kuasa. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yakni mereka juga manusia normal yang suatu saat butuh menikah, punya anak. Konsekuensinya, mau tidak mau mereka harus mampu menyediakan sandang pangan yang cukup.

Karena itu, sangat tidak adil, jika orang-orang yang berada di sekitarnya dan kebetulan mempunyai kesempatan mengalami kehidupan yang lebih baik, tidak membukakan wawasan mereka tentang perlunya memiliki dimensi perilaku yang lain.

Yang lebih berorientasi pada masa depan dan lebih bertanggungjawab. Apalagi, sebagian besar mereka pun sebetulnya memiliki keinginan keluar dari lingkungan mereka dan merasakan kehidupan normal seperti kebanyakan orang.

Namun, yang selama ini terjadi adalah keinginan mereka itu tidak atau kurang kita sambut dengan baik. Saat membicarakan anak jalanan, kita terus berpikir tentang pelaku kriminal kecil yang kelak akan menjadi preman. Mereka berkebiasaan mengganggu stabilitas.

Sebagaimana disebutkan Dra Frieda NRH MS, kalaupun masyarakat harus menerima, pasti disertai reserve. Masyarakat pasti menerima dengan penuh kewaspadaan. Dan daripada terus waspada, orang kebanyakan merasa lebih baik tidak menerima sekalian.

Dalam persepsi orang kebanyakan, jalanan adalah anonim, sama dengan alam yang serba keras alias hutan. Norma mereka pasti berbeda dari norma yang bisa dipercaya masyarakat pada umumnya. Stigma menuntun pemahaman ke arah itu. Itulah yang memunculkan atribusi terhadap anak jalanan dan membuat warga sulot menerima mereka.

Kehidupan jalanan yang keras, memicu tindakan yang sering aneh. Namun sebagaimana yang ditulis dr Ismed Yusuf, mereka (anak jalanan) menunggu uluran tangan kita, walaupun mereka menolak uluran tangan kita.

Apa pun yang kita hadapi, termasuk kemungkinan ajakan dan tawaran kita diabaikan oleh anak jalanan, harus ada tindakan kuratif terhadap fenomena anak jalanan.

Tindakan preventif dengan menekankan kesejahteraan anak dalam keluarga tetap menjadi prioritas terpenting. Tapi bukan berarti anak yang terlanjur ke jalan kita biarkan saja.

Mereka yang juga punya kerinduan terhadap sebuah rumah ideal harus memperoleh pendampingan secara cukup. Sebab, bagaimanapun, anak jalanan adalah anak-anak kita juga (34b).

 – Nila Ardhianie, Direktur Eksekutif Yayasan Duta Awam Semarang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *