Anak Jalanan Bertukar Pengalaman: Kami Butuh Makan, Bukan Disiplin (Kedaulatan Rakyat, 1997)

KEDAULATAN RAKYAT, 28 Juni 1997, Halaman II

YOGYA (KR) – Anak jalanan butuh makan, memiliki hak untuk hidup dengan tenang, hak untuk bermain, sama dengan hak yang dimiliki anak-anak lainnya.  Bukan sekadar didorong untuk disiplin. Untuk itu segala bentuk diskriminasi, kekerasan, rasia dan pengucilan hendaknya segera dihentikan.

Seruan di atas keluar dari mulut beberapa anak jalanan dalam acara ‘Anak Jalanan Bertukar Pengalaman’ di Yayasan Dian Desa, Jum’at (27/6). Dalam acara yang digalang oleh Yayasan Humana itu diikuti perwakilan anak-anak jalanan dari beberapa kota di Indonesia serta dari kalangan akademisi, LSM.

Dadang, anak girli yang biasa ngamen di sekitar Demangan, mengaku sering mendapat larangan mengamen dari aparat, karena dianggap mengganggu keindahan kota. “Kalau kami tidak boleh mengamen, dari mana kami cari makan. Apa bapak-bapak yang ngelarang ngamen itu mau ngasih kita makan.

Yang kami butuhkan adalah makan, bukan soal disiplin seperti yang diceramahkan itu. Kami, memiliki hak untuk bermain dengan tenang di jalan,” katanya seraya mempertanyakan mengapa hari anak hanya untuk anak-anak dari kaum berada, sementara anak jalanan ditinggalkan.

Tian, wakil anak jalanan dari Semarang, mengungkapkan anak-anak jalanan di Semarang kebanyakan hidup dari jasa menyemir dan mengamen. Rata-rata sehari mereka mendapatkan uang sekitar Rp 3 ribu.

Selain untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, sebagian dari mereka menggunakannya untuk biaya sekolah. Karena beberapa di antara anak jalanan itu ada yang masih sekolah, baik di SD maupun di SLTP.

Dikejar-kejar

“Tapi sayang, kami juga sering dikejar-kejar petugas. Tidak jarang kami dituduh maling dan copet, padahal kami tidak pernah sekali pun melakukan perbuatan itu. Apa salah kami, sehingga kami harus dikejar-kejar, digebuki seperti maling. Padahal kami hanya mengamen agar bisa tetap hidup,” katanya setengah menggugat.

Rekannya, Susi Lestari, mengungkapkan pengalaman serupa. Ketika mengamen di sebuah perempatan jalan di kota Semarang, bukan uang receh yang dia terima, melainkan todongan senjata dari petugas. Bahkan ia dan rekannya yang juga perempuan dimasukkan ke dalam mobil, dan dibawa dan diturunkan kdi suatu tempat yang jauh, setelah sebelumnya dimaki-maki dan diancam akan dipenjara.

“Saya dituduh menggores mobil yang mereka tumpangi. Padahal saya tidak melakukannya,” katanya. Nyonya Tukimin, ibu Susi yang dalam acara itu turut mendampingi menjelaskan, Susi, memang ia lepaskan untuk menjadi pengamen karena desakan ekonomi keluarga. Semua ia tidak tega, karena waktu itu Susi masih duduk di kelas 3 SD dan perempuan pula.

“Tapi tampaknya tekad Susi sudah bulat. Dengan berat hati saya melepaskannya untuk menjadi pengamen di jalanan. Sebenarnya sebagai orang tuanya saya merasa malu, karena tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Tapi syukur-laj, meski setiap hari mengamen, prestasi Susi di sekolah tidak kalah dengan murid lain yang datang dari keluarga berada,” kata Nyonya Tukimin seraya menjelaskan, Susi sekarang telah duduk di kelas 3 SMP YPP Semarang. Prestasi terakhirnya adalah rangking dua di kelasnya. (M-1)

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>