Anak Jalanan dan Hak-hak Anak

ANAK JALANAN DAN HAK-HAK ANAK

Oleh MI Grace W Susanto

 DALAM beberapa hari terakhir ini dimuat berita tentang banyak pengamen anak yang “bekerja” di jalan berlampu “bangjo” (traffic light). Bahkan, menimbulkan korban kaca mobil pecah dilempar batu karena tidak memberi imbalan hiburannya. Kemudian diberitakan pula anak-anak itu akan segera ditertibkan aparat keamanan.

Sebagai manusia biasa, pengalaman menghadapi pengamen ini memang bisa menjengkelkan. Dengan kemampuan menyanyi dan main musik sebisanya, nyaris jauh untuk bisa dikatakan cukupan, tetapi mengharapkan pemberian uang, bila perlu dengan setengah memaksa, dari pengendara yang terhenti karena lampu merah.

Bila pengendara tidak memberi uang atau pemberiannya dianggap terlalu sedikit, salah-salah kendaraan bisa jadi korban digores dngan alat musiknya, gitar atau tutup botol. Terkadang dengan tampang mereka yang “mengancam” membuat kita enggan jadi korban. Dengan setengah mengomel harus mencarikan koin untuknya.

Bagi kita yang mempunyai pengalaman tidak mengenakkan menghadapi pengamen jalanan ini, tentu tidak menyenangi kehadirannya. Apakah kita pernah memikirkan dari mana asal mereka dan bagaimana balada kehidupannya?

Inilah suatu fenomena sosial yang banyak muncul, terutama di kota-kota besar.

Secara umum, mereka disebut anak jalanan, karena hidup selama 24 jam di jalan-jalan dengan cara sendiri dengan berbagai pekerjaan sebagai pengamen, penyemir sepatu, penjaja koran, mengemis atau bahkan melacur.

Bisa juga menjual hasil barang seni buatannya, tapi mereka tetap anak jalanan, karena hidupnya di jalan. Tempat tidur mereka bisa di pasar, terminal atau tempat umum yang lain.

Mandi atau membersihkan tubuhnya bisa cukup seminggu sekali. Bahkan, bisa tergeletak sakit pun di trotoar.

Asal

Ciri asal mereka khas, dengan berbagai latar belakang penyebab yang kurang lebih sama. Kehadiran mereka di jalanan akibat keadaan keluarga. Bisa berupa penyiksaan dari orangtuanya, tidak cocok dengan orang tua, hubungan orang tua yang tidak harmonis, atau keadaan kemiskinan keluarga.

Keadaan seperti inilah yang membuat mereka memilih hidup “bebas” di jalan-jalan. Tidak ada yang menanggung hidupnya, sementara ia perlu makan dan kebutuhan hidup yang lain. Ia harus bisa memperoleh sedikit uang dengan cara mereka.

Pekerjaan yang dijalani merupakan pilihannya sesuai dengan “keahlian” dan kesempatan yang ada. Juga karena latar belakang mereka dan keadaan yang memaksa, mereka pun rata-rata punya pengalaman kriminal mengambil jalan pintas mencari uang dengan mencuri atau memeras.

Anehnya, anak jalanan yang penuh derita ini tidak luput dari derita lain yang dibuat oleh orang-orang sekitarnya.

Dari catatan “Resolusi Anak Jalanan” di Jakarta tanggal 20 Juli 1995 terungkap sejumlah penderitaan yang dialami anak jalanan ini.

Mereka senantiasa menjadi objek kekerasan. Mereka rentan sekali terhadap  pemerasan, eksploitasi, pemerkosaan dan pelecehan.

Bukan rahasia lagi, dari pekerjaannya bisa diperoleh uang lebih dari UMR. Mereka pun bisa diperas oleh preman kelas teri.

Ada juga yang dieksploitasi oleh orang tuanya untuk menghidupi keluarga.

Kasus sodomi dan pemikatan untuk memperoleh sedikit imbalan setelah “menyenangkan” pihak lain merupakan pengalaman pemerkosaan dan pelecehan seksual yang begitu dini bagi anak-anak yang kebanyakan usia praremaja ini.

Lalu kalau anak-anak dengan gaya hidup derita ini mendapat perlakukan yang menambah deritanya, kepada siapa mereka akan mengadu? Sementara mereka juga takut terhadap aparat yang hendak menertibkan.

Hak-hak anak

Para seniman pun peduli terhadap mereka, sehingga anak jalanan ini mendapat sebutan yang indah, yaitu “Kembang Metropolitan” (Guruh Soekarnoputra) atau “Bunga Trotoar” (Iwan Fals).

Namun nyatanya nasib mereka tidak seindah sebutan itu. Belum banyak orang yang tahu tentang liku-liku hidup mereka. Bisa juga termasuk kaum birokrat kita yang menangani masalah ini dengan semestinya, sehingga terkesan hanya mengejar demi ketertiban dan keindahan.

Menurut Komisi Hak Anak PBB, seorang anak adalah setiap manusia berusia di bawah 18 tahun, sebagai bagian dari proses menjalani hidup selaku pribadi dan bagian dari masyarakat, mempunyai beberapa hak, yaitu hak bertumbuh (aspek fisik, fisiologik), hak berkembang (pematangan jiwa, kepribadian dan nalar), hak mendapat perlindungan dan pembelaan (advokasi), dan hak mendapat pendidikan.

Hak ini penting untuk diberikan kepada mereka, mengingat mereka merupakan bagian dari masyarakat dan “orang” pada masa depan.

Menurut catatan UNICEF tahun 1990, hampir setiap hari anak-anak di seluruh dunia dihadapkan pada bahaya yang mengancam pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Anak-anak sebagai makhluk yang tidak minta untuk dilahirkan dan sebagai hasil buah cinta kasih insan Allah sudah selayaknya mendapatkan hak yang mendasar, meliputi hak peningkatan kesehatan, kesejahteraan lahir batin dengan mendapatkan cinta kasih yang penuh dari orangtuanya.

Termasuk juga kesempatan untuk bermain, menyalurkan hobi, bakat dan kreativitasnya.

Semau Gue

Anak-anak dari keluarga miskin dan keluarga mapan yang terampas hak-haknya, yang berani membebaskan diri dan lari ke jalanan ataupun tetap menerima siksaan dalam rumah adalah anak-anak yang terluka batinnya karena “dosa” orang tuanya.

Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama bagi anak-anaknya malah menjadi orang pertama memperkenalkan kekerasan kepada mereka.

Masa kecil anak-anak itu yang merupakan masa yang paling membahagiakan dan tidak akan terulang lagi, telah terampas oleh masa penderitaan yang berkelanjutan.

Karena itulah, ketika mereka meninggalkan masa kanak-kanaknya, akan mengekspresikan dirinya dengan kebebasan semau gue. Mereka tak mau terikat oleh aturan mendasar sekalipun.

Akibatnya, anak-anak ini dengan mudah mendapat ancaman berupa: gangguan fisik kesehatan (penganiayaan, pemerkosaan, penyalahgunaan obat, kecelakaan); sosial budaya (salah pergaulan, perselisihan, keterkucilan); pendidikan menjadi telantar yang terlibat kriminalitas; ekonomi morat-marit, yang akan selalu membawa mereka menjadi miskin; rendahnya perlindungan hukum, terancam hukuman, tidak mendapat pembelaan.

Sentuhan Kasih Sayang

Anak-anak jalanan sesungguhnya anak kita, juga sahabat kita, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat kita. Meski mereka merupakan bagian dari sebuah keluarga yang tercampakkan, tetapi sesungguhnya sentuhan kasih sayang tetap merupakan harapan dan kerinduan mereka selama ini.

Dari lubuk hati mereka yang paling dalam juga terungkap mereka sebenarnya ingin “hidup dalam keluarga”, mereka ingin hidup berkelompok dengan lapisan masyarakat lainnya.

Mengentaskan anak-anak jalanan ini bukanlah suatu hal yang mudah diselesaikan. Merujuk pada Pasal 34 UUD 1945, fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara, maka hendaknya – terutama Pemerintah—menangani dan menyelesaikan masalah ini dari berbagai aspek.

Semua pihak bisa membantu Pemerintah untuk memikirkan jalan keluar bagi mereka.

Pemikiran ke arah preventif (membentuk keluarga-keluarga yang membuat anak kerasan di rumah dan dimengerti keadaannya oleh orangtuanya), kuratif (mengembalikan anak pada keluarganya dengan sekaligus mengurangi segi negatif pada keluarga itu), dan rehabilitatif (dengan memberikan keterampilan khusus, keagamaan, mendampingi mereka dalam jalur mencapai cita-cita yang bisa diwujudkan, menanamkan kesadaran, kehidupan mereka yang masih panjang bisa memberi arti baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa).

Dalam memberdayakan anak-anak jalanan ini diperlukan kerjasama yang baik dan terpadu dari semua pihak. Pemerintah dengan departemen yang terkait dengan polisi, masyarakat dengan berbagai organisasi atau kelompok-kelompok sosial dan keluarga (orang tua) yang bersangkutan.

Di kota Atlas ini telah pula ada Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS). Dari kelompok ini mulailah mereka diajak untuk berkumpul, setidak-tidaknya untuk mengurangi waktunya berkeliaran di jalan sambil belajar untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik.

Juga belajar dengan membaca buku-buku, belajar hidup tertib dan teratur dengan pekerti yang baik serta sebisanya diusahakan untuk kembali ke rumahnya.

Kunci kehadiran anak jalanan di jalan-jalan rupanya ada pada orang tua. Orang tua memang bisa “lupa” ketika menghadapi anaknya. Orang tua juga yang bisa menghadirkan anak jalanan kembali berada di rumah yang sejuk.

Bukankah kita masih bisa mengingat tulisan yang disampaikan penyair terkenal berdarah Libanon, Kahlil Gibran, tentang anak?

“……..sesungguhnya bukanlah milik mereka, sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan.” (18t)

 – MI Grace W Susanto, dokter gigi di Semarang. 

Sumber: Suara Merdeka, 30 April 1997

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *