JAWA POS, Jum’at, 24 Juli 1998, Halaman 11

Semarang, JP, Hari  anak nasinal (HAN) di kota Semarang kemarin tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya karena memang tak ada perayaan apa pun. Yagn mengundang perhatian masyarakat adalah aksi sekitar 150 orang anak-anak jalanan di depan gedung DPRD II Kodya Semarang, sekaligus dengar pendapat dengan anggota dewan.

Aksi anak jalanan Semarang yang dikoordinir FPPHAN (Forum Penegak dan Pembela Hak-Hak Anak Semarang) itu berjalan tertib, sejak keberangkatan mereka dari kawasan Lawang Sewu hingga gedung dewan. Sarana aksi yang dipergunakan sederhana. Posternya hanya dibuat dari kardus atau karung bekas dan alat tulis arang. Namun bunyi pernyataanya cukup menyentuh dan lucu-lucu.

Contoh pernyataan mereka “Hentikan penangkapan dan kekerasan anjal (anak jalanan)”, “Kami manusia, bukan kambing, makanya kami butuh sekolah dan ingin pinter”, dan sebagainya. Nyanyian dan bait puisi yang terus dikumandangkan pun sangat menyentuh. Judul beberapa lagu yang sempat dinyanyikan dan banyak mendapat sambutan dari masyarakat, seperti Nyanyian Korban Orde Baru, Nyanyian Hak Anak, Suka Duka Anak Jalanan, Rumah Kenangan dan sebagainya.

Kegiatan yang banyak mendapat perhatian dan simpati masyarakat itu pada intinya membawa missi dan tuntutan untuk sosialisasi Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi tahun 1990. Sebab, sejauh ini ratifikasi KHA itu tidak pernah diwujudkan dalam bentuk nyata di tengah masyarakat, sehingga kasus-kasus pelecehan seksual, tindak kekerasan, dan bentuk penindasan lain terhadap anak khususnya terhadap anak-anak jalanan masih meraja lela.

Dari kegiatan diskusi pada acara kemah anak jalanan yang dilaksanakan 17-18 Juli lalu di Penggaron Semarang, berhasil diidentifikasi sedikitnya 40 masalah yang menyangkut hak anak dan berbagai kasus pelanggaran atas mereka. Ke-40 butir tuntutan itu kemarin disampaikan secara perwakilan dari kelompok anak jalanan Semarang pada rapat dengar pendapat dengan Komisi E DPRD Kodya Semarang yang dipimpin KH Haris Sodaqoh.

Pada kesempatan dialog itu banyak anak-anak jalanan menceritakan kenistaan hidupnya yang banyak dicibir dan disisihkan masyarakat. Bahkan, salah seorang dari mereka, Ayu, menuturkan kisahnya disiksa oknum petugas. “Saya ini mau nonton pertunjukkan di depan gubernuran saja dialrang. Malah oleh petugas dipukul kentrung hingga alat itu pecah,” ungkap Ayu dengan wajah memelas.

Hadir dalam dialog terbuka antara dewan dengan anak-anak dan pendamping mereka dari FPPHAN, hampir semua perwakilan anggota dewan, unsur pimpinan, Kapoltabes Kol Pol Drs Soenarko DA, maupun dari instansi pemerintah lainnya (liq).