Anak Jalanan di Tengah Arus Perubahan (1)

ANAK JALANAN DI TENGAH ARUS PERUBAHAN (1)

Oleh Odi Shalahuddin (Yayasan Setara Semarang)

Berbicara tentang arus perubahan yang masih terus berlangsung (dan tidak menentu arahnya) hingga saat ini diIndonesia, krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan tahun 1997 kiranya bisa menjadi bahan pijakan dasar. Krisis ekonomi yang terlihat semakin parah pada tahun 1998-1999, menyebabkan bertambahnya jumlah orang miskin mengingat penghasilan yang didapat tidak lagi mampu menjangkau kebutuhan hidup, dan ini diperparah lagi oleh keputusan mem-PHK para buruh di berbagai perusahaan atau mandegnya proses pembangunan fisik yang melibatkan banyak orang.  Suksesnya pembangunan dan kemakmuran yang didengung-dengungkan melalui iklan di berbagai mediamassa yang pada akhirnya melekat di kepala rakyat, menjadi runtuh atas situasi yang terjadi. Kemapanan sebagai bangsa dan negara seakan berbalik arah yang berpotensi menghancurkan.

Di sisi lain, krisis yang terjadi memicu semangat gerakan perlawanan terhadap rejim yang dapat dengan cepat mendapat dukungan rakyat yang merasa frustasi dengan situasi. Isue bersama yang terumuskan dalam slogan “Jatuhkan Soeharto, Rakyat Bersatu tak dapat terkalahkan” benar-benar menjadi badai  yang mampu merobohkan dinding kekuasaan yang sebelumnya disikapi secara pesimis oleh berbagai kalangan pro-demokrasi. Di luar dugaan, Soeharto jatuh dengan cepat. Cilakanya, konsep arah perubahan yang hendak dituju belum terumuskan sehingga perubahan demi perubahan terus berlangsung dengan arah yang tak terduga yang bisa disebut sebagai “krisis politik”. Kemenangan sesaat yang berhasil diraih melalui solidaritas kolektif telah diambil alih oleh para elite-elite baru yang terus bertarung mempertahankan, menguatkan dan memapankan kekuasaan. Rakyat kembali dininabobokan dengan mimpi-mimpi yang tak kalah buruknya.

Tapi maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk menganalisis persoalan di atas. Tulisan ini hanya mencoba mencermati perubahan-perubahan yang terjadi dengan melihat pengaruh dan dampaknya terhadap situasi anak-anak khususnya anak jalanan yang berada di Semarang yang menjadi concern area kerja Yayasan Setara.

Perubahan Situasi Anjal Masa Krisis 

Hal menonjol yang diyakini sebagai pengaruh atas krisis ekonomi yang berlangsung adalah meningkatnya jumlah anak jalanan. Di Indonesia diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 400%. Di Semarang, berdasarkan data yang tersedia peningkatan yang terjadi antara 100-200%. Setara mencatat ada sekitar 700 anak jalanan pada akhir tahun 1997, namun mengutip sebuah penelitian pada awal Maret 1998 diperkirakan jumlah anak jalanan sekitar 2000 anak. Sebuah survey yang dilakukan oleh Depsos pada tahun 1999 mencatat sekitar 1500 anak jalanan.

Pertumbuhan anak jalanan yang pesat dalam kurun waktu yang singkat sangat berpengaruh  terhadap perubahan situasi anak jalanan di Semarang. Beberapa diantaranya;

Daerah asal 

Berdasarkan daerah asalnya, sebagian besar anak jalanan berasal dari kota Semarang sendiri. Data Setara pada periode tahun 2000 mencatat 85% anak berasal dari Semarang. Biasanya mereka berasal dari perkampungan-perkampungan miskin kaum urban.

Penguasaan wilayah

Dengan meningkatnya jumlah anak jalanan, semakin meluas pula lokasi-lokasi kegiatan anak jalanan. Semarang yang dikenal pula dengan sebutankota bangjo (abang Ijo=lampu merah = traffick light), hampir seluruh traffick light sudah menjadi lokasi kegiatan anak jalanan. Anak-anak yang berkumpul biasanya berasal dari perkampungan di sekitar traffick light itu sendiri. Banyaknya anak menimbulkan persaingan untuk mendapatkan uang. Hal inilah yang memicu pertengkaran sesama mereka. Namun biasanya yang menjadi sasaran adalah anak-anak jalanan yang bukan berasal dari kampung terdekat atau yang berasal dari luar kota. Kecenderungan ini menjadi bagian dari dinamika anak jalanan. Pada wilayah-wilayah yang dinilai “basah”, terjadi pertarungan untuk memperebutkan wilayah tersebut. Perkelahian antar kelompok seringkali terjadi. Di sebuah lokasi (Manggala) yang dirintis oleh anak jalanan dari luar kota yang semakin tersisih dan pada perkembangannya menjadi “lahan basah”, diserang dan diduduki kelompok lain. Ini pun tidak bertahan lama karena ada kelompok yang kemudian menyerang dan menduduki wilayah tersebut. Di kawasan Simpang Lima yang sebelumnya menjadi wilayah “merdeka” tempat pertemuan antar anak jalanan dari berbagai lokasi di Semarang dan “merdeka” untuk mencari uang, pada saat ini sudah terdapat pengelompokan wilayah yang dikuasai sedikitnya oleh lima kelompok yang satu sama lainnya sering bertarung untuk memperluas wilayah atau bertarung agar lahannya tidak direbut oleh kelompok dari luar wilayah mereka.

Proses inisiasi

Terjadinya penguasaan wilayah menyebabkan kelompok anak jalanan terpecah-pecah berdasarkan lokasi kegiatannya. Interaksi antar kelompok anak jalanan sudah semakin sulit terjadi. Sikap mereka selalu waspada, penuh prasangka dan  siap sedia bertarung. Solidaritas yang muncul lebih pada kelompok kecil untuk – setidaknya – mempertahankan wilayah yang dikuasainya. Penambahan anggota mulai terseleksi dan biasanya ada proses inisiasi yang  Terhadap anak laki-laki, biasanya dipaksa untuk melayani “penguasa” atau anak-anak lama. Mulai dari menjadi orang yang sering disuruh membeli sesuatu, memijat atau (?) menjadi korban sodomi. Sedangkan untuk anak perempuan cenderung menjadi obyek kekerasan dan eksploitasi seksual.

Jenis kegiatan,

Jenis kegiatan anak jalanan di Semarang semakin berkembang. Pada periode sebelum krisis, kegiatan yang dilakukan masih sangat terbatas, yaitu mengamen, menyemir sepatu, pedagang asongan, pedagang koran, dan penyemir sepatu. Kegiatan yang paling dominan adalah kegiatan mengamen. Sedangkan kegiatan mengemis, walaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari dan biasanya anak yang mengemis menjadi bahan ejekan dari sesama anak jalanan. Pada masa krisis, anak jalanan yang melakukan kegiatan mengemis justru menjadi lebih besar dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Ini bisa diartikan bahwa anak-anak yang baru turun ke jalanan, sebagian besar memiliih kegiatan mengemis yang mungkin dinilai paling mudah untuk mendapatkan uang. Kegiatan yang baru muncul adalah melap mobil/motor dan kegiatan-kegiatan kriminal seperti mencopet dan mencuri. Prostitusi juga menjadi kegiatan yang banyak dimasuki anak jalanan (baik laki-laki maupun perempuan).

(Bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *