Anak Jalanan, Dilema Psikologis

Anak Jalanan, Dilema Psikologis

Oleh : dr Ismed Yusuf

SUARA MERDEKA, 16 Mei 1997, Halaman VII

MENYOAL anak jalanan, ibarat orang buta menyoal gajah. Masing-masing akan mengemukakan sesuai dengan apa yang “terpegang” olehnya. Tanpa mereka tahu bentuk gajah yang utuh dan sebenarnya.

Yang penting, tidak satu pun dari mereka yang salah. Demikian pula dengan anak jalanan, yang akhir-akhir ini ikut “meramaikan” halaman koran kita ini.

Bila kita amati bagaimana kondisi sosial dan perilaku anak-anak jalanan, bagi kita yang belum pernah “terjun ke alam” mereka, tentu akan membayangkan bahwa mereka adalah anak-anak yang tak berdaya, tak beruntung, sedih, sengsara, bodoh dan sederet kata lain yang tidak menyenangkan. Kenyataannya mereka justru lain.

Mereka merasa dirinya beruntung, bebas, gembira, cerita, tak ada beban pada tugas yang tidak disukai, mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dan sebagainya. Untuk itu dapat kita pahami, salah satu kegagalan dari upaya mengentaskan mereka adalah, apa yang baik bagi kita, belum tentu baik untuk mereka. Keadaan ini dapat terjadi oleh karena perbedaan latar belakang kondisi psikologis antara kita dengan mereka.

Depresi

Banyak ahli mengemukakan, proses terjadinya anak jalanan tidak terlepas dari gangguan depresi pada jiwa mereka. Sumber utama depresi adalah kekecewaan yang berat yang dapat timbul akibat peristiwa yang terjadi di luar dirinya, tanpa ada kemampuan diri untuk mengantisipasi peristiwa tersebut.

Bowlby (1976) menyebutkan, fase terminal proses depresi pada anak adalah penyerahan diri. Pada fase ini, anak sudah tidak memikirkan lagi kekecewaan apa yang dihadapi. Yagn tampak adalah tingkah laku agresif, hiperaktif, melawan aturan yang ada di lingkungannya, merusak, dan berbuat kejam. Terjadi pula penurunan prestasi sekolah sampai kegagalan.

Cytryn (1979) menyebutkan pada fase terminal ini kemampuan mekanisme pertahanan psikologis (defence mechanism) anak, sama sekali tidak berfungsi. Sehingga anak tidak pernah lagi kecewa, menangis, sedih, takut, cemas, ragu-ragu dalam menghadapi semua persoalan. Dia akan mengambil keputusan yang pendek, yang saat itu terlintas dalam benaknya, sama sekali tanpa berpikir apa akibat yang akan terjadi.

Yang tidak habis dimengerti oleh anak adalah mengapa semua perilakunya ditentang, dimarahi, dicela oleh lingkungan. Baik oleh orang tua, guru bahkan oleh teman-teman sebayanya. Kalau kemudian anak memilih menjadi anak jalanan, di mana lingkungannya dapat menerima keadaannya dan kondisinya pas dengan tuntutan jiwanya, itu adalah suatu jalan keluar yang “terbaik” bagi anak.

Bebas dan Gembira

Apa yang kita cemaskan pada diri mereka, sebenarnya bagi mereka tidak ada sedikit pun perasaan mereka yang seperti perasaan kita. Mereka merasa bebas, karena tidak ada tembok yang membatasi “rumahnya”. Mereka merasa gembira seperti lalu lalang lalu intas di jalan. Mereka merasa puas seperti puasnya orang-orang yang keluar restoran setelah kekenyangan. Mereka optimistis menata masa depan yang cukup panjang, seperti panjang jalan yang digeluti sehari-hari.

Hal ini tentu saja berbeda dari pengalaman mereka sebelum turun ke jalan. Di rumah, yang dilihat pertengkaran antara ayah dan ibu yang tidak kunjung putus, bentakan-bentakan kemarahan ibu yang tidak habis-habis, tugas-tugas rumah tangga yang terus mengucur, tugas-tugas sekolah yang makin sulit dimengerti, kawan-kawan yang mulai menjauhkan diri dan sebagainya.

Kenyataan bahwa hidup di jalanan lebih memberikan perasaan gembira dan lebih nyaman itulah yang sering mempersulit tugas-tugas “mereka” yang ingin mengembalikan anak jalanan ke kondisi asal mereka.

Proses Berkesinambungan

Tudingan pertama sementara ini, bahwa keluarga sebagai penyebab utama memang cukup beralasan. Akan tetapi, harus dipahami, tidak semua anak dari keluarga tersebut menjadi anak jalanan. Masih ada anak lain yang tetap bertahan untuk hidup di bawah bimbingan orang tuanya.

Sementara ada anak jalanan yang berasal dari “keluarga gedongan”. Secara jujur kita tahu, keluarga gedongan tidak menjamin bebas masalah yang menyebabkan kekecewaan anak. Sehingga mau tidak mau kita harus berpikir, tipe kepribadian anak yang bagaimanakah yang mempunyai andil besar dalam proses terjadinya anak jalanan.

Dari beberapa tulisan pada ahli dan pengalaman pribadi di klinik, didapatkan suatu mata rantai yagn berkesinambungan antara “anak sulit” (difficult child), anak jalanan dan preman.

Perbedaan antara ketiganya, tentu saja dari usia mereka jelas berbeda, yang kemudian menimbulkan perbedaan dalam perilakunya yang nyata. Kesamaan yang ada di antara ketiganya antara lain: Pertama, sulitnya mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kedua, ambang toleransi terhadap kekecewaan yang rendah. Mudah marah berat dengan kekecewaan yang ringan. Ketiga, reaksi yang primitif bila menghadapi suatu masalah atau kesulitan. Bila menghadapi masalah, umpamanya, kata-kata kotor, ancaman atau tindakan kekerasan yang menjadi penyelesaiannya.

“Anak sulit” kadang-kadang sejak lahir sudah menampakkan gejalanya. Selalu rewel, menangis berlama-lama, selalu minta digendong, tidurnya tidak tenang, banyak bergerak. Pada usia anak-anak tampak ingin selalu menang dalam bermain dengan teman sebaya, walaupun dengan cara yang curang.

Ia memukul teman bila tidak mau menuruti keinginannya dan menentang aturan di rumah atau di sekolah. Kabur dari rumah bila tidak kerasan lagi, tanpa khawatir tentang makan dan tidurnya.

Mudah Putus Asa

Diakui bahwa tidak semua anak jalanan mempunyai intelegensi kurang dari normal, banyak yang termasuk normal, bahkan bisa lebih dari normal. Yang berbeda adalah cara anak tersebut menyelesaikan masalah apabila mereka menghadapi suatu kesulitan.

Pengalaman klinis menunjukkan “anak sulit” dalam menyelesaikan suatu permainan, berbeda dari anak yang normal. Dalam suatu pemeriksaan dengan mempergunakan alat permainan edukatif (APE) – pada umumnya berbentuk penyusunan puzzle / bongkar pasang atau blok/ lego – jelas sekali berbeda.

Anak normal mau dibimbing secara bertahap dari yang paling mudah ke yang makin sulit. Setiap mereka melihat kesulitan, dirasakan sebagai tantangan. Tak segan-segan mereka akan bertanya kepada pembimbing untuk mendapatkan jalan keluarnya.

“Anak sulit” dalam menghadapi kesulitan dalam penyelesaian APE, kelihatan sekali emosional. Mereka mudah putus asa. Tidak mau bertanya, menyusun semaunya sendiri tidak mengikuti aturan yang ada, bahkan mengobrak-abrik apa yang dihadapi. Menolak untuk diarahkan, apalagi untuk menyelesaikan tugas APE lain yang lebih sulit. Sama sekali tidak mampu menghadapi tantangan.

Bila ditawarkan mainan mana yang dipilih, terlihat jelas yang dicari adalah mainan fantasi, yaitu mainan dalam bentuk miniatur benda-benda yang sebenarnya. Seperti boneka, pistol, binatang, macam-macam kendaraan. Salah satu sifat mainan fantasi adalah keterlibatan psikologis dari anak terhadap mainan tersebut hanya sedikit.

Dalam bermain fantasi pun jelas sekali terlihat. “Anak sulit” menempatkan bentuk miniatur tersebut tidak seperti semestinya. Misalnya: kuda diletakkan di atas meja. Di atas televisi diletakkan tempat tidur dan sebagainya. Fantasi kekerasan juga mendominasi. Menembak boneka yang sedang asyik bermain. Menabrakkan mobil-mobilan dengan apa yang ditemuinya. Memukul mobil dengan palu dan sebagainya.

Generasi Penerus Preman

Kesulitan atau kegagalan belajar, sama sekali bukan karena anak mempunyai taraf intelegensi yang rendah, akan tetapi lebih karena sulit menyesuaikan diri dengan aturan, rasa mudah putus asa, dan sama sekali tidak ada motivasi untuk menguasai tantangan.

Hal yang sering membuat kita tercengang adalah mudahnya mereka akrab dan “manut” terhadap preman-preman yang selama ini menjadi “pengasuh” mereka. Hal ini tdiak lain karena dengan mereka mempunyai banyak kesamaan dari segi psikologis. Sehingga mereka lebih mudah percaya kepada preman, dibandigkan orang tua, guru atau orang lain yang ingin menolong mereka.

Kita tidak usah terperangah atas kenyataan yang harus kita hadapi, bila anak jalanan merupakan kader-kader dan generasi penerus preman-preman.

Tidak heran bila YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) di Jakarta merasakan “kewalahan”. YKAI berusaha menampung anak jalanan dalam suatu “keluarga” dekat dengan tempat mangkal anak-anak jalanan. Dalam keluarga tersebut ada ibu asuh dan guur yang akan membimbing belajar pada malam hari.

Siang hari anak-anak bebas melakukan kegiatan seperti biasanya. Diharapkan pada malam hari mereka akan kembali ke “keluarga” mereka, untuk makan bersama, belajar dan tidur di tempat layak.

Yang terjadi justru mereka jarang kembali ke rumah. Bila mereka kembali, pada waktu pergi lagi, pasti ada barang-barang milik ibu asuh atau guru yang hilag atau rusak. Sungguh ironis.

Upaya Represif

Selama kehidupan dunia ini masih berlangsung, agaknya sulit untuk memberantas anak jalanan dari akarnya. Sebab hal ini berkaitan erat dengan laju perkembangan masyarakat, yang merupakan sisi buram hasil pembangunan yang harus kita terima dengan lapang dada.

Sementara itu upaya represif lebih ditekankan kepada kesejahteraan anak dalam keluarga untuk mendapat hak-hak mereka seperti: hak untuk kelangsungan hidup, hak mendapatkan pengasuhan dan pendidikan, serta hak untuk perlindungan hukum.

Akankah kita tetap tidak peduli terhadap mereka yang berbahagia di jalan, sedang usia mereka belum layak untuk menempuh kehidupan seperti itu? Mereka menunggu uluran tangan kita, walaupun mereka menolak uluran tangan kita. (34s).

–       dr Ismed Yusuf, psikiater anak dan remaja, dosen Fakultas Kedokteran Undip 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *