Anak Jalanan Produk Masalah Sosial Perkotaan (Majalah Sadhana, 1996)

Majalah Sadhana, No. 5, September – Oktober 1996, Halaman 13 – 16

Liputan Khusus (Wawancara) 

Hampir di setiap traffic lights atau perempatan bangjo, shelter/halte bis, mudah ditemukan anak-anak pengamen, pengasong atau pun penyemir sepatu. Nampaknya, masalah sosial, seperti anak-anak jalanan, dilihat hanya ditangani oleh lembaga/ dinas sosial atau masalah orang yang peduli pada mereka. “Ini masalah kita. Silahkan kalau mau bergabung,” ajak Winarso, “pimpinan” drop-in center (rumah sementara) bagi anak jalanan di Semarang.

Kenapa Anda tertarik pada anak-anak jalanan

Saya tertarik karena dorongan pribadi, namun kini banyak teman yang membantu melayani anak-anak. Dulu saya tertarik pada dunia teater. Dari banyak teman yang kumpul-kumpul itu sering sok kemaki (gagah-gagahan) membicarakan masalah sosial. Dari keikutan dengan mereka, saya kemudian tertarik pada masalah-masalah sosial, seperti anak-anak jalanan di Semarang ini. Siapa lagi kalau bukan kita-kita ini yang memperhatikan nasib mereka.

Bagaimana permasalahan anak-anak jalanan itu?

Masalah mereka tidak lepas dari masalah perkotaan, urban development lah. Kaum migran di Semarang berasal dari Boyolali, Purwodadi, Demak dan kota-kota kecil di sekitar Semarang.

Saya membedakan mereka. Pertama, anak-anak jalanan yang benar-benar mempunyai profesi jelas, seperti pengamen, pengasongan, penyemir sepatu. Kedua, anak-anak jalan yang memang hidup di jalanan tanpa profesi jelas. Nah, saya lebih suka memilih yang pertama, sebab motivasi dan orientasi mereka jelas.

Sebenarnya kalau dilihat latar belakangnya bisa sama, yaitu disebabkan masalah-masalah sosial, baik itu dari masalah keluarga atau pun produk masalah perkotaan. Kalau tidak dibedakan, masyarakat cenderung menganggap bahwa anak-anak jalanan adalah anak yang bebas nilai, dekat dengan kriminalitas. Padahal ada anak jalanan yang kreatif, ada juga yang sholat.

Kegiatan seperti ini sudah 3,5 tahun lalu, namun realisasinya masih terus berjalan sampai 23 Juli bertepatan dengan Hari Anak-anak, lalu baru sedikit nampak dengan “program” droping centre, atau pusat penampungan anak-anak jalanan. Yah, hanya sedikit melegakan anak-anak saja.

Maksud drop-in centre?

Drop-in centre adalah semacam rumah tinggal dimana anak-anak bisa kumpul dan bermalam. Bedanya dengan shelter, itu hanya rumah persinggahan saja dan mereka bebas keluar masuk. Di droing centre anak-anak tidak bebas nilai. Jadi ada sistem nilai yang ditanamkan, khususnya nilai bermasyarakat.

Kalau dilihat lokasinya, alasan kita memilih tengah perkampungan dimaksudkan nantinya anak-anak bisa berinteraksi dengan masyarakat. Mungkin dulunya mereka hanya mengenal nilai jalanan, nilai-nilai yang dekat dengan kejahatan. Tapi di droping centre diperkenalkan nilai-nilai lain, seperti juga nilai sosial, keagamaan dan nilai-nilai lain. Kalau mereka selama ini hanya mengenal satu nilai maka dengan mengenal nilai-nilai lain tentu sangat bermanfaat. Kami hanya menawarkan saja an tidak mengharuskan.

Bagaimana tanggapan masyarakat sekitarnya?

Syukur. Umumnya baik. Memang pada awalnya ada sedikit keresahan. Menurut saya, itu kenyataan yang harus diterima. Wajar kalau ada warga masyarakat yang belum tahu bagaimana anak jalanan itu. Belum tentu anak jalanan itu jelek.

Kami memperkenalkan mereka pada masyarakat lewat pertemuan-pertemuan yang ada. Kebetulan saya aktif di masyarakat. Tadinya hanya sekedar berkenalan dan ngobrol, lalu memberikan penjelasan mengenai konsep yang kita kembangkan. Bukan maksud kami membuat permasalahan baru di masyarakat, justru kami membutuhkan kerjasama masyarakat.

Hal apa yang perlu dikembangkan pada diri anak?

Kegiatan ini diarahkan pada pendidikan. Pendidikan yang saya kembangkan adalah “pendidikan hadap masalah”. Dalam konsep ini, setiap orang bisa menjadi guru sekaligus murid. Alam raya ini kaya obyek yang bisa kita pelajari. Kita bisa belajar banyak dari realitas kehidupan yang mungkin tidak ditemui di bangku sekolah.

Dalam keseharian anak-anak jalanan bisa saja banyak ditemui guru. Misalnya pada waktu ngamen di bis. Masalah yang ditemui selama sehari di jalanan bisa dijadikan guru. Jadi pendidikan mereka langsung berhadapan dengan masalah nyata.

Kita tidak mencarikan jawaban untuk suatu masalah, biar anak yang menemukannya sendiri. Pada saat tertentu saya memberikan tema-tema tertentu untuk didiskusikan. Kita tidak mengharapkan suatu solusi, tapi biar anak bisa melihat masalahnya dari berbagai aspek sehingga akan mendapat gambaran mengenai masalahnya itu.

Kehidupan di jalanan sangat keras. Anak begitu banyak dijejali masalah, mulai dari keluarganya yang broken, pemerasan oleh orang tuanya sendiri, perselisihan antar geng dan banyak lagi. Persoalan itu berpengaruh pada perkembangan jiwa anak. Kekerasan hidupnya membuatnya cenderung bersikap destruktif. Tapi apakah sikap destruktif itu mendidik, kita mencoba mentransformasikan hal-hal semacam itu.

Dalam pendampingan, saya coba memberikan model pendekatan. Misalnya: ada anak yang sakit, siapa yang merawatnya; kalau ada baju yang sobek; ya mari kita jahit bersama. Jadi model yang saya terapkan bukan instruktif tapi mendekatkan anak pada masalah. Nah, nanti dengan sendirinya dia akan tergerak untuk membantu. Ini konsep yang sangat manusiawi.

Selain itu, mereka juga ingin didengarkan ketika mengungkapkan masalah. Ya, seperti kakak-adik. Misalnya ketika anak sudah menjelang dewasa naksir lawan jenisnya yang kebetulan masih sekolah. Kalau saya, ya tidak masalah, pacari wae to (pacari saja). Ini saya lakukan agar dia tidak minder dan enjoy dengan keinginannya. Nanti toh dengan sendirinya akan mengarah ke hal-hal yang lebih baik.

Apakah masalah mereka lebih didasarkan pada masalah ekonomi?

Tidak juga, karena banyak kasus yang sebenarnya untuk menghidupi satu anak cukup. Persoalannya adalah kondisi sosial yang menciptakan perilaku budaya sosial dan kalau dikupas lagi akan terjadi transformasi sosial dalam anggota masyarakat. Sebenarnya akar permasalahannya di situ.

Bagaimana Anda mendapatkan pola semacam itu?

Sebenarnya lebih terdorong pada mata saya yang melihat masalah-masalah mereka yang kemudian berinteraksi dengan teman-teman yang lebih dulu berpengalaman mendampingi mereka. Lalu kami berdialog dan akhirnya saya masuk dalam jaringan mereka. Prosesnya dari situ.

Bagaimana dengan pembentukan kelompok ini?

Ketika saya masih single fighter (berjuang sendiri) saya pakai nama Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS). Setelah ada kehadiran para voluntir dan teman-teman lainnya kemudian membentuk lembaga. Sangat aneh sekali bila yang menangani masalah mereka hanya satu orang.

Belajar dari lembaga yang menangani masalah yang sama di kota-kota lain, akhirnya penanganan anak jalanan ini dilembagakan. Mungkin saya perlu belajar dari yang kecil dulu. Ini pun sangat susah. Semua sedang berproses.

Berapa voluntir yang membantu?

Baru 2 orang. Ini pun hasil interaksi dengan masyarakat. Ini bukan masalah saya kan, saya kembalikan lagi pada masyarakat. Baru-baru ini ada yang berminat mengajarkan sholat dan kegiatan lain. Mengenai hal ini saya kembalikan lagi kepada anak-anak. Kalau mereka senang dan itu mengarah pada kebaikan, saya pun senang. Dari komunitas kecil ini kita belajar demokrasi. Mungkin bagi orang dewasa hal ini apriori.

Bagaimana dengan kehidupan anak di drop-in centre?

Ya, setiap hari bolehlah sedikit berdendang. Kadang-kadang ada pertentangan, tapi toh kita semua terbuka. Mungkin kalau ada yang sholat, ada pula yang mengganggu, saiki sholat bar iki mabuk (sekarang sholat setelah itu mabuk). Mengenal hal ini saya coba menengahi, kalau kamu tidak sholat ya tidak apa-apa, kan tidak ada yang nglarang. Kalau ada pendapat ya mbok dihargai.

Pola-pola kesadaran interaktif ini yang saya coba kembangkan. Memang agak sulit. Ya, biarkan saja, toh mereka punya mata, punya telinga, perasaan. Nantinya mereka akan tahu sendiri. Mereka kita latih ketekunan untuk hal seperti itu.

Bagaimana dengan jaringan kerjasama itu?

Kita ikut semacam konsorsium dalam jaringan itu. Masala anak jalan di Semarang merupakan bagian dari masalah yang lebih nasional. Kalau penanganannya tidak ada koordinasi yang baik, ya akhirnya diumpamakan peristiwa jalanan, ada jalan baru yang kemudian digali lagi untuk pemasangan saluran air, lalu digali lagi mau pasang kabel listrik. Jadi, sepertinya tumpang tindih dan tidak ada koordinasi. 

Apakah ada dukungan dari pihak lain?

Dari teman-teman lebih mendapat dukungan moral. Dukungan yang bersifat membantu mendampingi seperti voluntir, ya mari. Mungkin kalau Sadhana mau bantu, ya silahkan. Kita kerjakan bersama-sama. Ini masalah kita. Saya mengharapkan proses ini seperti membentuk jaringan laba-laba.

Apakah pihak aparat (pemerintah dan keamanan) menilai kegiatan Anda positif?

Persoalannya adalah tak kenal maka tak sayang. Perasaan saya kalau tidak mengenal kegiatan kami, apalagi dicurigai yang bukan-bukan, tentu sedikit terganggu. Tapi setelah ada penjelasan, mereka pun mau memahami.

Mungkin dalam waktu dekat ada kerjasama dengan pihak terkait dengan masalah mereka. Mengenai programnya, bagi saya yang penting anak mau dan itu mengarah pada perkembangan anak.

Bagaimana dengan ancaman tindak kejahatan bagi anak-anak seperti kasus sodomi?

Sebenarnya bukan hanya kasus sodomi yang secara riil mengancam mereka, tapi justru struktur sosial. Kondisi sosial seperti yang sekarang ini menjadi masalah. Bahwa nanti timbul masalah sodomi, eksploitasi anak, pelecehan anak, ini akibat situasi sekarang.

Apakah kondisi di Semarang sama dengan yang di Jakarta?

Saya pikir, pola-pola mereka di manapun sama, seperti membentuk gengsteristik, karena dengan masuk geng tertentu membuat aman mereka. Kalau tidak ngegeng mereka terancam. Mereka memikirkan bagaimana memanfaatkan orang lain dan dia juga aman.

Salah satu solusi yang menurut saya cukup baik adalah memotong pola-pola hidup jalanan. Dengan adanya drop-in centre, kami membentuk keluarga. Mereka memikirkan bagaimana memanfaatkan orang lain dan dia juga aman.

Salah satu solusi yang menurut saya cukup baik adalah memotong pola-pola hidup jalanan. Dengan adanya drop-in centre, kami membentuk keluarga. Mereka bisa pulang dan berkumpul dengan anggota keluarganya yang lain. Mereka dapat saling menolong. Sikap kooperatif juga dikembangkan dalam keluarga ini, serta sikap gemar menabung untuk masa depannya.

Mereka tidak selamanya harus menjadi anak jalanan. Suatu saat mungkin ingin berwiraswasta. Nah, untuk mendapat modal bagaimana. Tentu dengan menabung. Jadi anak selalu saya hadapkan pada masalahnya atau mengkritiskan anak pada masalahnya.

Berapa anak yang sudah dibina?

Sudah ratusan, ah sudah lupa. Yang terakhir tinggal 56. Tapi jangan dibayangkan bahwa sejumlah itu bisa kumpul semua. Mungkin mereka ada yang masih diperjalanan atau kemalaman di terminal tertentu. Tapi yang penting kami telah memberikan interaksi yang berguna bagi mereka.

Kami berkeinginan untuk mengembalikan mereka pada orangtuanya. Pokoknya kami ingin memberikan yang terbaik buat mereka (I-S).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *