Anjal Cewek Jadi Bidikan Pengelola Karaoke (Radar Semarang, 2012)

RADAR SEMARANG, Senin, 21 Mei 2012

Anak jalanan (anjal) di Kota Semarang, dari tahun ke tahun, cenderung meningkat. Dari sisi gender, anjal didominasi laki-laki. Perbandingannya, 70:30 persen. Dan, anjal perempuan rawan terjerumus ke dunia remang-remang. Benarkah?

***

Anjal berasal dari kota-kota sekitar Semarang, seperti Purwodadi, Ambarawa, Boyolali, Pekalongan dan sebagainya.

Anjal laki-laki, lebih condong mengamen dan mengemis. Namun, bagi anjal perempuan, lebih condong bekerja di tempat prostitusi atau menjadi pemandu karaoke (PK) di sebuah tempat karaoke pinggiran. Seperti di kawasan Berok, Imam Bonjol dan kawasan Banjir Kanal Timur, tepatnya Jalan Unta Raya.

Usia anjal perempuan yang rata-rata masih belia, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengelola karaoke pinggiran untuk mempekerjakan mereka sebagai PK (Pemandu Karaoke) hingga PSK (pekerja seks komersial).

Mereka (anjal perempuan) yang tadinya ngamen atau sekedar nongkrong di sejumlah titik keramaian seperti Simpanglima, Tugu Muda, atau jalan protokol lain, mulai direkrut dan dipekerjakan di tempat-tempat hiburan pinggiran.

Pelecehan Seksual Juga Terjadi di Lingkungan Anjal

Biasanya, ajakan untuk menjadi PK atau PSK, datang dari rekan sesama anjal yang sudah berkecimpung lebih dulu di dunia ‘remang-remang’ tersebut.

Para anjal yang mendapat tawaran itu rata-rata berusia belasan atau masih duduk di bangku kuliah menengah pertama (SMP).

Kondisi seperti itu, diakui sejumlah LSM yang bergerak di bidang anjal. Seperti LSM Setara. Dari pengamatan aktivis LSM Setara di lapangan, kasus-kasus pelecehan seksual dan prostitusi yang menimpa anjal perempuan saat ini cukup tinggi. Seiring tumbuhnya tempat karaoke liar atau pinggiran di sejumlah sudut Kota Atlas.

“Bagi anjal perempuan, pelecehan seksual sudah pasti. Tapi saat ini rentan masuk dalam praktik prostitusi. Saat ini, banyak pengelola karaoke pinggiran yang mencari anjal untuk dipekerjakan sebagai PK. Selain lebih mudah dan murah, mereka menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, mengingat usianya masih belia,” kata Yuli Sulistianto, seorang aktivis LSM Setara.

“Awalnya memang menjadi PK, tapi tidak menutup kemungkinan mereka beralih menjadi peerja seks,” tandasnya.

Yuli yang bekerja di bagian staf lapangan dan bertanggungjawab di bidang organisasi anak ini menuturkan, meski tren anjal meningkat, namun sebagian besar mereka pulang ke rumah, meski jadwalnya tak tentu. “Mayoritas mereka ke jalanan hanya untuk membantu perekonomian keluarga,” ujarnya.

Dalam pengamatannya, para anjal perempuan hanya sekadar nongkrong dan ngamen di perempatan atau kawasan keramaian Kota Semarang. Pergaulan mereka ternyata tak sebatas antar sesama anjal. Tapi juga bergaul dengan kalangan lain, termasuk para PK di tempat karaoke pinggiran.

“Biasanya kawan yang mengajak, mereka menjadi tergiur setelah diiming-imingi pendapatan yang begitu besar dan mudah,” ujarnya.

Pihaknya mengaku kesulitan mendata anjal perempuan yang menjadi PK. Karena itu, dia tak punya data terkait jumlah anjal perempuan. “Tapi berdasar perkiraan, kalau keluar semua seperti di kawasan Poncol dan Berok, ada 120 orang. Dengan anjal yang masih di bawah umur sekitar 50 – 70an,” katanya.

Di luar anjal yang menjadi PK, pelecehan seksual maupun prostitusi, juga terjadi di lingkungan anjal itu sendiri. Layaknya muda-mudi pada umumnya, ketika saling cocok, mereka akan berpacaran.

“Perilaku seksual terhadap sesama anjal sudah menjadi budaya dari dulu. Tapi itu yang terjadi ketika si A dan si B menjalin hubungan pacaran. Dalam melakukan hubungan intim bisa dilakukan di jalanan,” terangnya.

Terkait hal itu, pihaknya hanya bisa melakukan sosialisasi dan imbauan. Biasanya, LSM Setara melakukan sosialisasi terkait maslaah reproduksi dengan risiko-risikonya.

“Kita tidak bisa langsung melarang ‘kamu tidak boleh berhubungan seperti itu’. Yang bisa kita lakukan hanya sekadar sosialisasi risiko-risiko yang bisa ditimbulkan dari hubungan tersebut,” katanya.

LSM Setara juga melakukan pembinaan terhadap anjal perempuan yang terjerumus ke dunia malam. Meski begitu, LSM ini mengklaim kesulitan menarik para anjal yang sudah menjadi PK atau PSK.

“Kami berharap ada kerja sama dari pihak kepolisian untuk melakukan razia di tempat-tempat karaoke liar. Tapi persoalan lain, mereka (pengelola karaoke) juga bekerja dengan oknum. Itu ang menjadi tantangan kami,” tandasnya. “Alternatif lain kami akan melakukan pendekatan kepada orang tua korban. Karena peran orang tua dan keluarga sangat penting,” tambahnya.

Yuli mengatakan, secara keseluruhan, anjal terjun di dunia mengemis dan mengamen. Tren anjal meningkat, utamanya pada usia di bawah 10 tahun. Mereka yang seharusnya berada di rumah dan mendapat pengawasan orang tua, justru dipekerjakan di jalanan. “Ini sangat ironis sekali.”

Pengamatan yang dilakukan LSM Setara selama ini, anjal yang kerap berkumpul di kawasan Simpanglima adalah anak-anak yang berasal dari sejumlah kampung. Seperti Gayamsari, Delikrejo, Gunungsari dan Johar.

“Srategi kami melakukan bimbingan yakni mendirikan kegiatan nonformal di wilayah kampung mereka. Seperti menggambar, membuat keterampilan, dan pengembangan bakat lain. Kita berikan hak mereka, seperti ilmu pengetahuan. Agar mereka tidak turun lagi ke jalan. Dan perwakilan kelompok dari mereka akan kita ajak gabung dalam kelompok anak jalanan, kampung dan pelajar, untuk lakukan kampanye pencegahan eksploitasi seksual dan eksploitasi kerja,” tandasnya.

Sementara itu, berdasar catatan Dinas Sosial dan Pemuda Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, anjal di Kota Semarang pada 2010 mencapai 806 orang. Pada 2011, menurun menjadi 615 anjal. Anjal didominasi warga luar Semarang. Dengan perbandingan 70:30. Untuk data tuna susila yang tersebar di seluruh kecamatan sebanyak 790 PSK.

Kepala Bidang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Dinsospora Kota Semarang Sutrisno mengakui, penanganan anjal yang dilakukan selama ini kurang efektif. Mereka yang telah mendapat bimbingan di tempat rehabilitasi atau penampungan anjal, kembali lagi ke jalanan.

“Istilahnya anjal itu semut, gula di kalagan masyarakat sangat banyak. Otomatis semut akan mencari gula. Hal itu yang membuat pembimbingan kami menjadi sia-sia. Kaerna mereka berpikir dengan cara seperti itu, lebih mudah mencari uang dan penghasilannya lebih banyak. Daripada mencari uang dengan keterampilan yang dibangun dari nol,” terangnya.

Sustrisno mencontohkan, ia pernah mendekati seorang anjal. Sehari ia bisa mendapatkan uang Rp 350 ribu. Jika puasa, pendapatannya meningkat sampai Rp 750 ribu per hari.

Karena itu, dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberi uang kepada para anjal. Ia yakin, jika masyarakat tidak memberi uang kepada anjal, maka mereka (anjal) akan berhenti dengan sendirinya.

Bikin Anak Nyaman di Rumah

Psikolog Probowatie Tjondronegoro berpendapat, mereka yang terjun ke jalanan, kebanyakan telah disisihkan atau bermasalah dengan keluargana. Tidak ada norma seperti masyarakat pada umumnya. Dan yang jelas, mereka tidak sekolah.

“Intinya, tidak ada hubungan emosional dengan keluarga, sehingga menganggap keluarga mereka adalah jalanan,” kata Humas RS Elisabeth ini.

Ironisnya, sebagian besar anjal berusia masih di bawah umur. Masa-masa usia yang seharusnya mendapat perhatian di rumah. Anak-anak di bawah umur itu biasanya sedang belajar model. Apa yang mereka lihat akan ditiru atau dilakukan. Sehingga menjadi hal biasa yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagi anjal perempuan yang masih di bawah umur, sangat rentan dengan kejahatan seksual. Mereka melakukan hal-hal yang awalnya coba-coba. Tapi karena tidak ada pembimbingan yang benar, maka mereka akan keterusan,” ujarnya.

Tidak adanya perhatian orangtua dan keluarga, mereka akan mencari perhatian di jalanna. Bisa jadi ada yang mengoordinasi atau orang yang dituakan di jalanan. Tapi itu tidak menjadi jaminan dalam berperilaku (zal/isk/cel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *