Aparat Masih Abaikan Hak Anak (Suara Merdeka, 2010)

SUARA MERDEKA, 23 Juli 2010

  • Terbanyak di Semarang, 324 Anak Berada di LP dan Rutan Jateng

Semarang, CyberNews. Sebanyak 324 anak-anak saat ini berada di Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Jateng. Sebagian besar dari mereka merupakan korban dari pengabaian dan kurangpahamnya aparat penegak hukum dalam melindungi hak-hak anak.

Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemenkumHAM) Jateng, Chaeruddin Idrus mengatakan dari jumlah itu di luar LP khusus anak di Kutoarjo, jumlah terbanyak anak didik (andik) berada di LP Semarang yakni 19 anak. “Yang berada di LP khusus Kutoarjo ada 92 anak, narapidana 70 anak dan tahanan enam anak serta anak negara 16 orang,” ujarnya, saat ditemui di kantornya, Jumat (23/7).

Adapun LP lain yang terhitung banyak andik, Blora 16 orang, Purwodadi 16 orang, Surakarta 15 orang. Sedangkan Pemalang, Ambarawa dan Kendal masing-masing 13 andik. Mereka ditempatkan di sel-sel pada blok khusus anak. Para andik itu kebanyakan dihukum karena terlibat dalam kasus pelanggaran asusila, pencurian dan narkoba.

Masih banyaknya andik, menurut Kakanwil Menkumham Jateng dikarenakan masih adanya kekurangpahaman aparat penegak hukum dalam melindungi hak-hak anak. Seharusnya, menurut dia, sesuai undang-undang, penjara adalah alternatif terakhir atau ultimum remidium. “Pilihan pertama tentu saja dikembalikan kepada orang tua, dimasukkan panti rehabilitasi, menjadi anak negara, dan terakhir anak pidana atau anak didik di penjara,” katanya.

Bahkan, ketika sudah menjadi andik, perlakuan pihak LP masih belum mencerminkan perlindungan pada hak anak. Idrus mencontohkan belum semua LP mengijinkan andik untuk melanjutkan sekolahnya. “Seharusnya boleh, siang sekolah, malam pulang ke LP, pihak sekolah juga jangan semena-mena, jangan ketika tahu dipenjara, malah dikeluarkan, itu tidak benar,” tegasnya.

Ditambahkannya, Kemenkumham saat ini sedang merancang draft undang-undang sebagai payung hukum pemberian remisi atau pengurangan hukuman pada andik. Diharapkan setiap Hari Anak Nasional, andik bisa mendapatkan remisi.

Koordinator Yayasan Setara, Hening Budiyawati membenarkan pernyataan Idrus. Meskipun diakuinya sudah ada perkembangan positif terhadap perlindungan hak anak di Jateng, namun hal itu masih harus ditingkatkan. “Dua tiga tahun belakangan ini sejak pada 2009 sudah bagus, vonis untuk anak sudah relatif di bawah satu tahun. Tahun sebelumnya kan lebih, bahkan ada yang sampai enam tujuh tahun,” katanya.

( Anton Sudibyo / CN28 )

 Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/07/23/60453/Terbanyak-di-Semarang-324-Anak-Berada-di-LP-dan-Rutan-Jateng-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *