Suara Merdeka, 21 Januari 2003

KIAN bertambahnya anak-anak yang turun ke jalanan dari hari ke hari membuat semua pihak prihatin. Bukan saja karena dunia keras dan kejam yang harus mereka hadapi di jalanan, tapi juga masa depan mereka yang tidak jelas. Akankah mereka terus hidup di jalan, bagaimana upaya mengentaskan mereka. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Setiawan Hendra Kelana dalam dua seri mulai hari ini.

RENCANA Pemerintah Kota akan mengurus anak jalanan masih terus dirumuskan. Termasuk, memperkirakan berapa kira-kira biaya yang akan dikeluarkan untuk mengurus para ”lalat pengganggu” tersebut.

Wali Kota H Sukawi Sutarip SH mengungkapkan, jika anak jalanan di Semarang jumlahnya antara 1.500-2.000 orang, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 2,5 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk makan, serta beberapa kebutuhan lain. Namun, dia yakin jika didata secara benar, jumlahnya tidak sampai sebanyak itu. ”Adapun untuk sekolah sudah ada rekening bea siswa di Dinas Pendidikan,” kata dia saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi ”Mencari Solusi Mengentaskan Anak Jalanan” yang digelar Suara Merdeka Biro Semarang, di aula kantor Jl Pandanaran 30, Senin (20/1).

Menurut dia, anak jalanan dikategorikan menjadi tiga, yakni yang betulan, musiman, dan pura-pura. Untuk yang pura-pura, biasanya memiliki tujuan buruk, seperti melakukan tindakan kriminal.

”Dari ketiganya butuh penanganan yang berbeda. Namun yang penting mereka tidak ada di jalan lagi.”

Pasang Spanduk 

Untuk mendukung rencana tersebut, pihaknya memasang spanduk agar masyarakat tidak memberikan sedekah di jalan. Yang ingin beramal diminta langsung ke lambaga yang menangani anak jalanan atau Pemkot.

Petugas Satpol PP dan polisi, ujar dia, juga akan ditempatkan di sejumlah lokasi strategis. ”Kalau ada yang memberi uang pada anak jalan langsung disemprit dan diberikan brosur sosialisasi.”

Kepala Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Drs Masrohan Bahri MM mengatakan, Pemkot telah mencetak sekitar 10.000 lembar brosur untuk disebar di sejumlah lokasi strategis.

Brosur berisi imbauan agar masyarakat tidak memberikan uang pada anak jalanan di jalan. Tapi langsung ke lembaga sosial yang menangani anak jalanan atau Pemkot. ”Kemungkinan juga akan disebar melalui RT dan RW.”

Dia menambahkan, sedikitnya enam spanduk juga telah dipasang sebagai langkah sosialisasi. Yakni dekat Pasar Karangayu, Tugu Muda, Johar, Jatingaleh, Bangkong, dan Simpanglima. (G7-73)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/21/kot2.htm