Suara Merdeka, 22 Januari 2003

BANYAK persoalan untuk mengentaskan anak jalanan. Mulai sudut pandang yang berbeda antara instansi pemerintah dan aktivis, juga penanganan yang selama ini mengabaikan rasa empati dan simpati. Konon, ada baiknya Pemkot cukup menjadi payung dan tak perlu turun langsung dalam menangani anak jalanan.

Berderet problem tentang anak jalanan tak bisa diselesaikan dengan instan. Mereka bukan semacam tongkat yang bisa ”diubah” menjadi sapu tangan, burung merpati, atau apa pun oleh para tukang sulap dengan ”abrakadabra”.

Winarso, mantan Ketua Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) misalnya, perlu melakukan pendekatan sekitar dua tahun untuk mengajak mereka tinggal di rumah singgah. Dia juga merasa perlu makan sepiring bersepuluh dengan mereka, tinggal di rumah kardus, atau bahkan rela mencucikan pakaian mereka sebelum akhirnya para ”anak bangau” itu ”jinak”.

Aktivis PKBI Jateng Hasan Fikri menyebut pendekatan yang digunakan Winarso sebagai pendekatan kemiskinan. Dan, menurut dia, itu merupakan cara paling mungkin untuk mengentaskan anak jalanan.

”Jika Pemkot benar-benar ingin mengurus anak jalanan, jangan tangani mereka dengan cara represif. Bagi mereka, penggarukan dan pengusiran secara paksa dari jalan justru akan menumbuhkan rasa antipati mereka terhadap pemerintah,” kata Fikri yang juga wartawan Cempaka Minggu Ini.

Ironisnya, pola penanganan seperti itu justru selalu ditempuh. Padahal, penanganan terhadap anak jalanan harus dilakukan secara lengkap dan komprehensif.

Cara tersebut, tentu saja memerlukan keterlibatan ahli sosial, budaya, psikologi, medis, agama, ekonomi, dan sebagainya.

Tim Khusus 

Pertanyaannya, apakah aparat Pemkot memiliki kemampuan untuk itu? Kesangsian ini bukan tanpa alasan. Sebab, selama ini ”perhatian” mereka terhadap anak jalanan bukan atas dasar empati dan simpati, melainkan karena tugas dinas.

Kondisi itulah yang sering menjadikan aparat sebagai ”momok” bagi anak jalanan. Sebab, para petugas lebih sering hadir dalam sosok memusuhi. Bukan sebagai ”kawan bermain” yang mengasyikkan.

”Mereka ingin kami pergi dari jalan, tapi tidak pernah menyediakan tempat lain. Pokoknya jalan harus bersih, dan kami harus pergi. Itu saja,” tutur Rudi (9), seorang pengamen di sekitar lampu bangjo Jl Pemuda.

Jangan heran jika anak-anak jalanan cenderung lebih lunak jika berhadapan dengan para relawan LSM dari Yayasan Setara, Yayasan Soegijapranata Semarang (YSS), atau PKBI Jateng.

”Sebelum penanganan anak jalanan dimulai, aparat harus mengubah cara pandang terhadap anak jalanan. Modal pertama untuk memulai itu adalah dengan menumbuhkan rasa empati dan simpati terhadap mereka,” tegas Winarso.

Dia pun mengutip sebaris sajak Dorothea Norty: Jika anak dibesarkan dengan cemooh, mereka akan belajar bagaimana cara memaki. Sebaliknya, jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, mereka akan belajar untuk memahami orang lain. 

Psikolog Undip Dra Hastaningsakti MSi pun menekankan rasa kasih sayang dalam menangani anak jalanan. Cara itu, menurut dia, akan membuka ruang lain untuk memahami para ”anak bangau” itu.

Lantas bagaiamana dengan gagasan Wali Kota Sukawi Sutarip SH tentang rencana pengurusan terhadap anak jalanan itu?

Secara konkret, Pemkot agaknya harus segera membentuk tim khusus yang melibatkan relawan LSM, psikolog, medis, dan unsur lain yang berkaitan dengan penanganan itu. Hanya, mereka harus berangkat dari sudut pandang yang sama berikut rasa empati dan simpati.

Dengan tegas, Fikri bahkan mengusulkan Pemkot tak perlu turun langsung untuk menangani anak jalanan. Sebaliknya, instansi tersebut cukup menjadi payung bagi tim khusus.

”Sampai sekarang, instansi atau lembaga formal pemerintah masih dianggap ‘monster’ bagi anak jalanan.”

Apa pun, penanganan terhadap anak jalanan tak bisa dilakukan secara sulapan. Maka, penggarukan atau pengusiran secara paksa terhadap anak jalanan dari jalan harus segera dimengerti sebagai jalan yang tak efektif dan efisien.

Di luar itu, penggarukan telah disepakati para anak jalanan sebagai salah satu musuh besar. (Ganug Nugroho Adi-76c)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/harian/0301/22/kot5.htm