Uncategorized

Balada anak-anak jalanan, Mengais rezeki di tengah kejamnya kota (Wawasan, 1996)

WAWASAN, 3 November 1996, Halaman III

MEREKA berusia antara 7 hingga 15 tahun. Masih dalam usia sekolah. Jumlahnya sekitar 200 anak. Kalau setiap harinya merambah jalanan kota Semarang, mereka bukan dolan. Melainkan mencari nafkah. Mereka inilah yang sering disebut anak jalanan.

Kalau mereka yang berumur 16 tahun ke atas juga terkategorikan di dalamnya, maka jumlah anak jalanan di Semarang bisa mencapai sekitar 400 hingga 500 orang. Dengan demikian, jika diperbandingkan dengan total penduduk Semarang yang “hanya” sekitar 1,2 juta jiwa, jumlah anak jalanan dan atau remaja jalanan boleh dikata tinggi, sekitar 0,05 persen.

Anak jalanan ini, berdasar amatan langsung yang Penulis lakukan di lapangan, merambah ke berbagai sektor kerja nonformal. Untuk menerjuni sektor ini memang tidak ada tuntutan persyaratan formal ataupun keterampilan dan keahlian khusus. Sektor kerja tersebut, antara lain adalah ngamen, yang menduduki peringkat paling diminati. Jumlah pengamen anak di semarang mencapai sekitar 60 orang.

Di luar ngamen, menyusul kemudian nyemir, sekitar 40 orang, dan ngasong sekitar 40 orang, ngemis 20 orang, mulung 40-an orang, serta beragam kerja serabutan. Sektor kerja serabutan ini, diisi sekitar 50 orang, mencakup cuci mobil di pangkalan truk, lap mobil di tempat-tempat wisata, atau mayeng.

Mayeng adalah memunguti ceceran buah, sayur mayur, palawija, gula, jagung dan beras saat dibongkar dari kendaraan pengangkutnya. Hasil pungutan tersebut dikumpulkan dan dibersihkan untuk kemudian dijual lagi kepada bakul-bakul kecil. Mayengan ini, demikian mereka disebut, dapat dijumpai di kawasan Pasar Johar dan Pasar Peterongan Semarang serta Pasar Jatingaleh.

Di luar yang tersebut di atas, berdasar lacakan Penulis, terdapat delapan anak yang mengaku hidup dari hasil ngutil. Malah tidak sedikit yang “terpaksa” ngemis. Jumlahnya mencapai belasan.

Apapun yang dilakukan oleh anak jalanan untuk menopang kehidupan mereka, bahkan untuk meringankan beban ekonomi keluarga sekalipun, semua itu tetap memprihatinkan. Sebab, meski sebagai “insan ekonomi” mereka termasuk produktif, pada galibnya jalanan bukanlah tempat sejati mereka untuk mencari nafkah. Sekurang-kurangnya, berdasar pandangan ideal, pos utama terpenting mereka mestinya ada di rumah dan di sekolah, atau belajar dan bermain serta membantu orang tua di luar konteks mencari nafkah. Lalu, apa alasan sesungguhnya yang menghela mereka turun ke jalan?

Nafkah

Umumnya mereka terpaksa hengkang dari rumah dan sekolah lantaran harus mencari nafkah untuk diri sendiri ataupun orang tuanya. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Suyoto, pengamen, 14 tahun, penyebabnya adalah masalah ekonomi.

“Saya dan adik, Sutoyo, yang baru berusia 11 tahun tahun, setiap hari ngamen,” katanya. “Untuk tambah-tambah belanja orang rumah,” ujarnya mengenai penggunaan perolehan dari ngamen yang sudah dilakukannya dalam empat tahun terakhir ini. Selain untuk tambah-tambah belanja orangtua, kakak beradik Suyoto dan Sutoyo dari Genuk itu juga mengambil sebagian untuk kebutuhan mereka sehari-hari. “Untuk makan dan jajan, terkadang untuk main dingdong,” ujar Suyoto ringan.

Kebanyakan anak-anak jalanan di Semarang, berdasar pengakuan sebagian mereka, berasal dari luar Semarang. Atau, sekurang-kurangnya, berasal dari kawasan pinggiran Semarang. Kendati demikian, tidak sedikit pula yang memang orang Semarang asli, dalam pengertian kelahiran Semarang dan tinggal di Semarang pula.

Nurjanah misalnya, 15 berasal dari Mrican, sedangkan Yoyon berasal dari Gisik Drono, sedangkah Mulyadi dari Jrakah. Ketiganya merambah jalanan sebagai pengamen di atas bus angkutan kota.

Anak jalanan di Semarang, menurut Samsihono, 18, pengamen yang sesekali mocok menangani perparkiran di seputar Pasar Karangayu, umumnya memiliki tingkat pendidikan formal rendah. Klasifikasinya, tidak lulus SD, lulus SD tapi tidak pernah melanjutkan sampai SMP, tidak lulus SMP, dan lulus SMP tapi tidak pernah melanjutkan sampai SMA. “Tidak ada biaya,” ujar Hono singkat ketika ditanya penyebab rendahnya tingkat pendidikan formal yang berhasil dicapai rata-rata anak jalanan.

Dengan kondisi semacam itu, yang tentu saja sekaligus tidak diperlengkapi keterampilan ataupun keahlian khusus, masih menurut Hono, anak jalanan memang lantas tidak memiliki pilihan. “Kecuali kalau mau mengerjakan apa saja, mereka juga hampir tidak memiliki masa depan dalam arti yang sebenarnya,” katanya.

Sebagian anak jalanan di Semarang memang ada yang boleh dikata memiliki taraf pendapatan cukup tinggi, atau efektif mencapai di atas 10.000 rupiah setiap harinya. Pengamen dan penyemir sapatu misalnya, adalah mereka yang terkategori dalam deret berpenghasilan tinggi itu. Tetapi, lantaran tidak cukup mampu mengelola pendapatannya, toh kehidupan mereka tetap saja harus disebut menyedihkan. Apa lagi bahwa anak jalanan, berbeda dengan anak pekerja, memang hidup mandiri dalam arti yang nyaris sebenar-benarnya. Mereka hampir tidak pernah pulang ke rumah, kendati masih memiliki orangtua lengkap. Sebaliknya, anak pekerja umumnya selalu pulang ke rumah tiap kali usai pabrikan.

Melacur

Lantaran tidak pulang ke rumah, sebagaimana diceritakan Warsidi, 14 tahun, penyemir sepatuy yang beroperasi di kawasan Simpang Lima, mereka lantas tidur di sembarang tempat. Demikian juga untuk urusan mandi, cuci atau buang hajat. “Di mana saja,” ujar Warsidi. “Biasanya di kamar mandi ataupun kakus umum di pasar,” katanya menambahkan. Sedagnkan untuk tidur lebih parah lagi, di tempat terbuka jika cuaca cerah atau di los pasar kalau hari hujan. Dengan demikian, apa boleh buat, perihal kesehatan memang lantas nyaris total terabaikan.

Mereka yang tidak pulang ke rumah, jangan kaget, termasuk anak perempuan. Malah, menurut beberapa sumber Penulis, tidak sedikit anak jalanan berjenis kelamin perempuan itu juga nyambi melacur untuk mereka yang telah berusia di atas 14 tahun. Bahkan, konon anak jalanan wanita itu kalaupun tidak nyambi melacur telah melakukan hubungan seks sejak usia dini. Ini bisa dipahami dengan mudah, sebab kehidupan mereka betul-betul di luar kontrol dalam arti yang sebenar-benarnya. Jauh dari pengawasan kedua orangtua dan berada di lingkungan yang memang “panas” serta miskin batasan kelayakan.

Selain setiap saat berurusan dengan ancaman-ancaman yang bersifat intrinsik, antara lain problem kesehatan ataupun ketidakpastian yang bagai tanpa titik akhir, anak jalanan juga diteror ancaman fisik ataupun mental dan kejiwaan yang bersumber dari lingkungan sesamanya dan aparat. Dirazia, atau istilah mereka digaruk merupakan masalah rutin yang setiap saat harus diantisipasi. Ancaman lain, yang datang dari kalangan mereka sendiri adalah diampresen alias diperas oleh generasi anak jalanan yang berumur lebih tua dan telah mencapai taraf lebih sebagai preman ketimbang anak jalanan.

Dalam situasi yang serba tidak pasti serta dibayang-bayangi beragam ancaman itu, termasuk kemungkinan diblejeti kemudian dianiaya secara seksual, menjadikan anak jalanan pada galibnya hidup di dalam stres berkepanjangan. Solidaritas antar mereka memang cukup kuat, dan sebagai akibat memang fatal dari banyaknya tekanan yang mereka hadapi adalah sulitnya bagi sebagian besar mereka untuk bersosialisasi secara normal. Sikap mencurigai ataupun tertutup terhadap anggota masyarakat terasa sangat konkret.

Kehidupan jalanan, sebagaimana dinyatakan Samsihono, memang penuh dengan kekerasan dan pergulatan tak habis-habis untuk bisa cukup makan tiga kali sehari. Soal kebutuhan lain? “Itu tidak terpikirkan, juga akan menjadi apa di kemudian hari….. banyak di antara kami yang tidak peduli,” katanya.

Jadi? “Jangan risaukan, apa yang kami jalani memang sebuah pilihan,” ujar Samsihono. “Ya, meskipun pada awalnya bermula dari keterpaksaan,” katanya. (Timur Sinar Suprabana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *