SUARA PEMBARUAN, Senin, 9 Agustus 1999

SEMARANG, Malang nian nasib anak-anak yang terpaksa terdampar dan harus mengais hidup di jalanan. Mereka harus bertahan hidup dengan menjadi pengamen, pedagang asongan, atau pengemis. Juga tak sedikit di antara mereka harus terjerumus dalam lembah hitam, terlibat narkotik dan obat-obat berbahaya (narkoba), minuman keras, seks atau dieksploitasi dan dilacurkan.

Potret buram anak jalanan seperti itu diungkap dalam penelitian Yayasan Setara, LSM pendamping anak jalanan di Semarang pekan lalu, dalam Seminar Sehari bertajuk “Mengungkap Situasi Anak Jalanan Perempuan dan Anak yang Dilacurkan,” atas kerjasama Yayasan Setara, LPA Jawa Tengah dan Unicef Perwakilan Indonesia.

Semarang, memang bukan Jakarta. Namun, kondisi objektif anak-anak penghuni jalanan di ibukota Jawa Tengah ini nyaris tak berbeda jauh dengan yang dialami teman-temannya di Jakarta. Sebagian anak-anak jalanan di Semarang, khususnya perempuan, terjebak dalam jerat perdagangan anak untuk dilacurkan, hingga ke Pulau Batam.

Anak jalanan perempuan di Semarang dapat dijumpai di berbagai tempat, seperti di kawasan Simpanglima, Pasar Johar, Pasar Karangayu, Tugu Muda, Terminal Terboyo, Stasiun Poncol, dan eks Bioskop Manggala. Persentase anak jalanan perempuan di beberapa tempat tersebut cenderung meningkat.

Dari perbandingan hasil penelitian Pusat Studi Wanita (PSW) Undip (1998) dan pendataan oleh Yayasan Setara (1999) di Pasar Johar yang semula ada 41,9 persen anak jalanan perempuan telah meningkat menjadi 62,5 persen. Di Tugu Muda dari 41,9 oersen meningkat menjadi 40,3 persen.

Bahkan di beberapa lokasi jumlah anak jalanan perempuan melebihi jumlah anak jalanan laki-laki. Di kawasan Simpanglima, misalnya terdapat sekitar 53,5 persen seperti yagn diteliti PSW Undip atau 62,5 persen di Pasar Johar (Yayasan Setara,1999). Diperkirakan, jumlah anak jalanan perempuan di Semarang telah mencapai 100-an anak. Bahkan ada dugaan jumlahnya telah mencapai 200-an.

Penelitian yang dilakukan Yayasan Setara bekerjasama dengan Yayasan SAMIN ini melibatkan 56 anak jalanan perempuan sebagai responden. Berumur antara 10 – 17 tahun. Kelompok umur terbesar adalah kelompok anak berumur 16 tahun (33,93 persen) diikuti kelompok anak usia 14 tahun (17,86 persen) dan 15 tahun (19,64 persen).

Putus Sekolah

Berdasarkan hasil penelitian diketahui, sebagian besar anak jalanan perempuan berstatus pendidikan putus sekolah (78,6 persen). Mereka sebagian berasal dari dalam kota Semarang sendiri (82,14 persen). Dari tahun ke tahun jumlah anak jalanan dari dalam kota ini cenderung meningkat. Tahun 1993, dari semula 47,4 persen, naik jadi 50,6 persen tahun 1994. Terus meningkat menjadi 52 persen tahun 1997 dan menjadi 52,1 persen di tahun 1998 lalu. Mereka berasal dari kawasan permukiman kaum urban yang rata-rata miskin, seperti Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang dan Mrican. Sebagian lagi dalam jumlah relatif kecil datang dari luar Semarang, seperti Kendal, Bawen, Blora, Purwodadi, Wonogiri, Yogyakarta, Karawang (Jabar), bahkan Jakarta.

Rata-rata anak jalanan masuk dalam kehidupan jalanan relatif pada usia muda, bahkan sangat muda. Sebanyak 28,5 persen anak pertama kali pergi ke jalanan ketika masih berusia 12 tahun. Persentase ini menurun dibandingkan dengan yang ditemukan penelii PSW Undip sebesar 45,8 persen tahun 1998. Sebagian besar (62,5 persen) dari mereka sudah tinggal selama setahun atau kurang dari setahun.

Hidup di jalanan yang keras bagi para anak jalanan perempuan di Semarang ternyata tak jauh berbeda dari yang dilakukan teman-teman prianya. Sebagian dari mereka harus mengamen, menyemir sepatu, menjual koran/asongan, melap mobil atau motor, mayeng (mengumpulkan sisa bumbu, buah atau sayuran ketika bongkar muat di pasar untuk dijual kembali), ngoyen (mengumpulkan atau mencari makanan sisa yang telah dibuang). Ada pula yang terlibat kejahatan dan kegiatan yang bersinggungan dengan seksualitas.

Sulit dan kerasnya hidup di jalanan praktis membuat mereka terjebak dalam eksploitasi seksual komersial terhadap anak (ESKA). Dua bentuk ESKA yang ditemui pada anak jalanan perempuan di Semarang adalah anak yang dilacurkan, perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Masalah adanya anak jalanan di Semarang yang sengaja dilacurkan, pernah diungkapkan oleh sejumlah LSM pendamping anak jalanan. Yayasan Duta Awam (1997) menemukan 7,8 persen anak jalanan dilacurkan. PSW Undip (1998) menemukan 28 persen. Sedangkan data yang ditemukan penelitian Yayasan Setara (1999) ditemukan 46,4 persen anak jalanan perempuan yang dilacurkan.

Sindikat

Berbagai faktor menyebabkan para anak jalanan perempuan ini terpaksa memasuki dunia pelacuran, yakni akibat terjerat sindikat atau germo. Mereka yang terbujuk rayuan para germo ditampung dan kemudian dijual ke luar Semarang, di antaranya ke Pulau Batam.

Mereka terpaksa masuk dunia pelacuran juga akibat ingin mendapatkan uang banyak. Faktor-faktor itu ternyata tak berdiri sendiri, melainkan saling berhubungan. Misalnya, akibat disintegrasi keluarga dan kondisi kemiskinan. Ikuti saja penuturan gadis belia Smy (15 tahun) kepada peneliti.

“Saya sering melihat orang yang pulang dari Batam, kok kayaknya enak. Aku mau ke sana cari duit. Saat Mbak Wt (22 tahun) mengajak saya ke sana, saya senang sekali. Saya pergi berempat dengan Mbak Wt, dua orang lainnya seusia dengan saya. Ongkos perjalanan ditanggung Mbak Wt sebagai pinjaman yang harus dikembalikan. Sampai di sana kami ditempatkan di satu rumah dan dipertemukan dengan tiga wanita yang dipanggil Mami. Saya memilih satu Mami dan tinggal di rumahnya. Selama di tempat Mami, saya pernah melayani tamu dari Singapura, Malaysia, Filipina, India, dan Jepang. Tarif saya Rp 150.000. Namun saya hanya menerima separonya. Selebihnya untuk Mami. Saya tinggal cuma sebulan, habis itu pulang ke Semarang,”katanya.

—  Pembaruan/Stefy Thenu