MINGGU PAGI, No. 8 Th. 51, Minggu I Agustus 1998

BANYAK SUDAH kenistaan hidup dialami anak-anak Indonesia. Mereka menggelandang di jalanan. Mencari-cari kesempatan mendapatkan setetes kegembiraan. Dengan menjadi pemulung, penjual koran, ngamen atau mengemis, kocek mereka bisa gemerincing lirih. Sedikit uang logam sudah cukup membahagiakan. Namun, ternyata masih banyak yang tega menyakiti. Anak-anak itu diperas, tenaga dan uangnya.

Tidak tahan oleh terpaan duka-lara, anak-anak itu pun berteriak. Tidak tanggung-tanggung. Di era reformasi sekarang, mereka ikut memanfaatkan lembaga perwakilan rakyat sebagai wadah luncasan perasaan.

Sebuah pemandangan menarik sekaligus membuat trenyuh, terjadi pekan lalu di depan gedung DPRD II Kodia Semarang. Tidak kurang dari 150-an anak-anak jalanan mengadukan nasib mereka kepada para wakil rakyat. Lewat teriakan, nyanyian dan puisi. Seperti laiknya anak-anak yang masih lugu, teriakan mereka tidak selantang atau seilmiah teriakan mahasiswa. “Kami bukan kambing. Kami ingin pinter. Kami butuh sekolah. Tapi kami tidak punya duit!” teriak anak-anak itu.

Soal keberanian atau ide nglurug ke DPR itu, tentu tidak melulu datang dari anak-anak sendiri. Ada sebuah lembaga yang peduli pada nasib anak-anak ikut ambil bagian. Dalam halini Forum Penegak dan Pembela Hak-hak Anak (FPPHAN). Melalui forum inilah anak-anak yang bernasib kurang baik menyuarakan keinginan. Mereka menuntut segera disosialisasikannya Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi pada 1990. Sebab, sejauh ini belum tampak realisasi dari KHA itu. Sehingga berbagai kasus pelecehan dan penindasan terhadap anak masih merajalela.

Tidak sedikit anak-anak menjadi kurban kekerasan di jalanan tanpa seorang pun memberikan pembelaan atau pendampingan. “Kami merasa ternista dan tersisih. Kami adalah kurban kehidupan,” teriak mereka menyentuh.

Seorang gadis kecil menceritakan pengalaman pahitnya. Suatu malam Ayu, sebagaimana warga masyarakat kebanyakan, ingin menyaksikan tontonan di halaman gubernuran. Ketika hendak masuk, karena tubuhnya kumal, Ayu dicegat petugas. Karena ngotot, Ayu dipentung menggunakan kentrung. “Alat musik tradisional itu sampai pecah. Saya kesakitan” paparnya memelas.

Pengalaman serupa dialami Cahyo, anak jalanan dari Yogya. Katanya, suatu hari ia ingin nonton pergelaran musik di Kridosono. Tapi, tanpa tiket di tangan jelas ia dilarang masuk. Cahyo tidak putus asa, ia menunggu-nunggu kesempatan di depan pintu. Ketika ada serombongan anak muda, ia ikut menyelip di dalamnya. Naas, portir melihat gelagatnya. Cahyo diseret keluar, ditendang dan diusir. “Saya nangis di pinggir jalan” katanya. Tapi, lagi-lagi, tidak seorang pun mau peduli.

Masih banyak lagi kedukaan dilakoni anak-anak jalanan.

Kita tahu, sebagian mereka mengembara sebagai pengamen. Tapi, ngamennya anak-anak ini lain dengan ngamennya pria dewasa, yang biasanya melengkapi diri dengan musik (gitar). Anak-anak itu cukup dengan tutup botol minuman yang dipakukan pada sebilah kayu kecil. Bunyi ecrek-ecrek yang timbul ketika bilah kayu digerak-gerakkan, semata untuk menarik perhatian pengemudi mobil, pihak yang kerap menjadi sasaran pengibaan.

Di perempatan Kampus UGM, ketika lampu pengatur lalu-lintas merah, segerombolan anak-anak berhamburan. Memilih ‘kurban’. Ada yang sukses, banyak yang gigit jari karena pengemudi pelit memberikan uang recehnya. Lucunya, setiap setiap kali kegiatan pada ‘shift tertentu selesai, serta merta mereka mengekspresikan hasil kerja masing-masing. Ada yang berteriak nyaring, “horeee…saya dapat rejeki gajah. Limaratus rupiah, bayangkan.” Di lain pihak ada yang nyengir melihat, “Dancuk, aku gagal lagi,” keluhnya.

Dari mana datangnya anak-anak itu?

Tidak seluruhnya dari daerah sekitar. Sebab, justru banyak yang datang dari berbagai daerah sebagai urban. Biasanya hanya bermodal nekat. Mungkin karena keluarga di rumah sudah tak mampu lagi memberi setitik pun kegembiraan, sekali pun itu hanya sebatas perut kenyang. Seperti pengakuan Haryono, asal Sragen.

“Saya minggat, kaerna orangtua saya nganggur dan cerai,” katanya.

Haryono menggelandang di Yogya tanpa merasa khawatir akan kelaparan atau kedinginan. “Makan sedapatnya. Tidur di mana saja,” akunya.

Haryono tidak berniat pulang dalam waktu dekat. “Saya senang begini, banyak teman. Tapi, sebenarnya saya ingin sekolah,”katanya.

Kasihan, prihatin, sedih, melihat nasib anak-anak itu. Tapi cukupkah hanya dengan kasihan dan prihatin yang disimpan di hati? Sementara anak-anak itu sesungguhnya membutuhkan uluran tangan. Tindakan nyata. (Lis).