Suara Merdeka, 31 Mei 2004

SEORANG perempuan setengah baya turun dari mobil di depan gerbang masuk Stasiun Tugu Yogyakarta. Sesaat kemudian, wanita berbusana rapi itu menghampiri anak perempuan yang sedang berdiri di bawah lampu merkuri tepian jalan.

Gambar kemudian beralih pada sosok anak perempuan berusia 18 tahun. Meski mengaku telah bertahun-tahun tinggal di jalanan, Resti, begitu anak itu biasa dipanggil, terlihat bersih. Parasnya boleh dibilang ayu dengan kulit kuning langsat dan badan tinggi semampai.

”Tante itu lalu menawari pekerjaan di Batam,” kisahnya.

Tiga tahun silam, Resti dibawa ke Batam, kota nun jauh dari kampung halamannya di Semarang. Semula dia mengira akan dijadikan pramuniaga di swalayan atau penjaga toko. Gadis itu tidak mengira bakal ”dijual” kepada seorang germo yang mempekerjakannya sebagai pekerja seks komersial (PSK).

”Sebelum bekerja pada ‘mami’ (sebutan untuk majikan-Red) saya dan teman-teman ditampung di sebuah rumah kontrakan di Jakarta,” lanjut Resti.

Selama dua tahun ”bekerja” di Batam, duka yang terselip di antara gemerlap dunia boleh jadi adalah makanan sehari-harinya. Namun di balik tawa genit gadis-gadis seperti Resti ketika menerima lembar-lembar rupiah, tersimpan duka yang tak terucapkan.

”Ada teman saya yang sampai hamil dua kali dan mau digugurkan. Dia minta kami menginjak-injak perutnya,” tutur Resti.

Itulah sepenggal kesaksian seorang anak jalanan yang direkam dalam sebuah film dokumenter. Kesaksian Resti dan kisah muram anak jalanan lain yang diputar di Museum Ronggowarsito, Jumat (28/5) sore, menjadi bukti kerasnya kehidupan anak jalanan.

Seperti diungkapkan Yesaya Dedy Prasetio, seorang pekerja sosial di Yayasan Setara yang mendampingi anak jalanan, sindikat perdagangan anak sangat sulit dilacak. Sindikat itu, kata Dedy, ada di kota-kota besar dan sangat rapi. ”Pada tahun 2001, Yayasan Setara menemukan delapan anak jalanan di Semarang dikirim ke sejumlah kota besar lain,” katanya.

Kegiatan prostitusi anak merupakan salah satu bagian dalam eksploitasi anak. Selain prostitusi, terdapat pornografi dan perdagangan anak untuk tujuan seksual.

Motif perekrutan anak jalanan juga sangat beragam. Gambaran dalam film dokumenter yang dibuat oleh Yayasan Setara mendeskripsikan seorang anak jalanan yang belum memiliki pengalaman sebagai pekerja seks direkrut oleh penyalur anak.

Memutus Mata Rantai

Memutus mata rantai perdagangan anak barangkali bukan hal yang mudah. Data nasional menunjukkan jumlah anak yang dilacurkan diperkirakan mencapai 30% total pekerja seks yang ada.

”Sebanyak 40.000-70.000 anak dilacurkan di dalam negeri,” kata Dedy. Korbannya bukan hanya anak perempuan. Anak-anak laki-laki pun menjadi korban kekerasan macam ini.

Pendekatan kepada keluarga merupakan langkah awal yang bisa ditempuh untuk memutus mata rantai itu. Pengalaman Yayasan Setara ketika mendampingi anak-anak jalanan dari Kampung Batu Demak menunjukkan, dukungan keluarga merupakan faktor terpenting untuk menarik anak dari jalanan. (Ninik D-89)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0405/31/kot09.htm