Bincang Bincang: Dicurigai sebagai “Bos Gepeng”

SUARA MERDEKA, Minggu, 7 Maret 1999

LAKI-LAKI ini sebenarnya tumbuh dan besar dalam keluarga yang lengkap, orang tua, saudara, tempat tinggal yang layak dan bahagia. Namun ia justru keluar dari komunitas “normal” dan memilih hidup bersama anak-anak jalanan. Karena intensitasnya menangani “anak-anak bangau”, ia pernah dituduh sebagai “bos gepeng” dan ditangkap polisi.

Namanya Winarso, seorang pekerja sosial yang memiliki intensitas pada penanganan anak-anak jalanan. Lahir di Semarang, 11 Februari 1970, lajang ini hampir tak kenal lelah melakukan pendampingan terhadap mereka. Meskipun, sejumlah interogasi polisi berkaitan dengan aktivitasnya itu harus dialami. Puncaknya pada Desember 1997 lalu, ketika sebuah rumah di Lemahgempal yang ia kontrak untuk markas anak-anak jalanan, diserbut dan dirusak preman.

“Sejak semula saya tahu akan banyak halangan yang saya hadapi. Pilihan hidup seperti ini memang tak mudah. Tapi saya telah memilih,” katanya kepada Suara Merdeka saat begadang di Lapangan Simpanglima, belum lama ini.

Konon, rasa simpatinya terhadap anak-anak jalanan berawal dari sejumlah pertanyaan sederhana: di mana tempat mereka tidur, mandi? Bagaimana jika hujan dan siapa yang mengurusi jika mereka sakit?

Pertanyaan-pertanyaan yang sungguh sederhana, namun terus saja mengusik benak. Dan sejak itulah, sekitar tahun 1992-1993 anak kelima dari tujuh bersaudara nini mulai “turun gunung”. Dengan kesadaran penuh, ia mencoba hidup sebagaimana anak-anak jalanan: tidur di pasar, terminal, gerbong stasiun, kehujanan dan sakit.

Bukan salah laki-laki ini jika kemudian ia “jatuh cinta” pada dunia jalanan dan kemudian menggelisahkan keberadaan mereka. Apalagi menyaksikan bagaimana kaum marginal ini dikejar-kejar dan “digaruk” petugas.

“Saya kemudian berpikir tentang sebuah organisasi. Sebuah tempat yang bisa menyatukan mereka yang pada gilirannya bisa membawa mereka bergaul dengan manusia lain.”

Alhasil, pada 23 Juli 1996, ia memotori berdirinya Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS), sebuah wadah untuk mengembangkan diri dari pencarian upaya untuk meninggalkan dunia jalanan.

Melalui PAJS, ia kemudian menawarkan kepada teman-temannya untuk menjadi voluntir dalam pendampingan anak-anak jalanan. Pendampingan yang dimaksud adalah pola pendekatan yang dilakukan dengan basis jalanan.

Tempat-tempat mangkal, seperti trotoar toko, halte dan los-los pasar adalah lahan pembelajaran bersama anak-anak jalanan. Saat itulah sebenarnya kegiatan belajar dilakukan. Pendampingan ini lebih ditekankan pada hubungan partisipatif, berbagi pengalaman, dan memotivasi mental-psikologis mereka.

“Terus terang, ketika itu hampir tidak ada yang mendukung saya. Orang tua dan keluarga menentang dan melarang. Saya juga tidak tahu kenapa saya nekat dan memilih terus,” tuturnya.

Dalam perkembangannya, laki-laki yang merahasiakan tempat tinggalnya ini pun membidani kelahiran Forum Kerja Sama Pemerhati Anak Jalanan Semarang (PKPAS) dan Forum Penegak dan Pembela Hak-hak Anak Semarang (FPPHAN). Dalam waktu dekat, bersama beberapa tokoh masyarakat Semarang, ia akan mendeklarasikan Yayasan Setara, sebuah wadah yang mengonsentrasikan pada hak anak (Ganug Nugroho Adi-25c).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *