SUARA MERDEKA, 19 Januari  1998, Halaman 1 

SIMPANGLIMA sekitar pukul 02.00. Sebagian pemandangan di sudut kawasan itu, tepatnya di warung-warung tenda warna oranye dan biru, masih saja terlihat.

Sebuah kesibukan yang selalu saja berlangsung di tengah orang-orang melahap menu pesanannya: sejumlah bocah dekil menyelinap, lalu mereka menyanyikan lagu sambil membunyikan kencrung atau tutup botol minuman ringan yang dijadikan alat musik ecek-ecek.

Sejumlah bocah yang lain menawarkan tumpukan koran atau majalan atau kotak semir di tangannya, atau bahkan tak menawarkan apa-apa, kecuali tangan yang terulur.

Adakalanya terlihat, di sela kesibukan menyantap makanan itu, seseorang akan mengulurkan recehan. Kadang seratus, dua ratus, tapi jarang mereka memberikan recehan sampai senilai lima ratus rupiah.

Tapi tak sedikit pula orang-orang yang sedang makan itu malah pura-pura tak mendengar suara-suara bocah-bocah itu. Mereka tetap saja menikmati menu pesanannya seolah-olah ingin mengalihkan pandangannya dari bocah-bocah dekil yang menatap iba berdiri di dekatnya.

Terkadang sikap orang-orang itu sudah lumayan bagi bocah-bocah yang ngamen atau menjajakan koran dan kotak semir di warung-warung tenda yang berderet itu.

Sebab, tak sedikit juga dari orang-orang berada itu setidak-tidaknya lebih berada dari bocah itu, yang kemudian menengok hanya untuk mengumpat dan membentak. Padahal sebenarnya tidak setiap hari mereka “ditodong” bocah-bocah itu. Tiap-tiap orang memang memiliki sikap sendiri.

Dan pemandangan itu, setiap malam, terus saja berlangsung, orang-orang masuk warung, menikmati menu pesanan, bocah-bocah kumal yang memasang wajah iba, menawarkan bunyi-bunyian dari alat musik seadanya, kotak semir, koran dan majalah yang diacung-acungkan, uang logam yang terlempar, dan gelengan kepala atau tatapan sinis orang-orang…..Sepenggal pemandangan kusam yang terus saja berlangsung di seputar warung-warung.

Sepenggal kesibukan yang selalu saja terulang, seumpama putaran jarum jam yang tak pernah bosan melintasi angka-angka yang mengelilingi.

Memang, hampir setiap malam bocah-bocah itu di sana, menyelinap dari satu warung ke warung yang lain. Tubuh-tubuh mereka kecil, dekil dan – bagi sebagian orang – sikap mereka mungkin agak merepotkan.

“Saya jadi tukang semir semata-mata untuk makan. Tidak ada kebutuhan lain. Saya tidak sekolah lagi, nggak punya keinginan yang muluk-muluk, kecuali makan,” kata seorang dari bocah-bocah itu.

Namanya Tulus, umurnya sekitar tujuh tahun, mengaku asal Desa Gubug, Grobogan. Dari kotak semir yang dibawa hampir tiap malam hingga dini hari (pukul 18.00 – 04.00) dan bisa memperoleh uang sekitar Rp 5.000 atau Rp 7.500. Jika sedang mujur, dia bisa mendapat sedikit lebih. “Nggak banyak, dan uang itu habis untuk makan sehari,” katanya.

Tentu saja tak semua bocah yang hidup dari malam ke malam di kawasan itu sama seperti Tulus. Sebab, ada kalanya mereka tak hanya perlu makan, tapi juga rokok, pil, minuman keras, serta “pelengkap” lain hidup di jalanan. Namun biasanya yang berani mengonsumsi barang-barang di luar “pakem” itu adalah bocah-bocah yang jauh lebih dewasa dari Tulus.

Wardoyo (16), misalnya. Selain untuk makan, pendapatan seharinya sebagai penjual koran dan majalah yang bisa mencapai Rp 10.000 biasanya juga untuk beli rokok, adakalanya juga bocah drop out-an kelas V SD itu mencoba “ngoplo”.

Padahal, untuk mendapatkan uang itu (Rp 10.000) dia harus melek semalam suntuk. Paling tidak, mulai pukul 17.00 dia harus mengitari Simpanglima, menawarkan koran dan majalahnya kepada orang-orang di sana.

Capek juga sebenarnya, tapi saya nggak punya keinginan-keinginan lain kecuali menikmati hidup saya yang seperti ini.”

Lain lagi cerita Kenang (11), bocah asal Lamongan, Jatim. Datang ke Semarang sekitar dua tahun lalu, dia langsung menggeluti kotak semir sebagai mata pencaharian. “Lumayan juga hasilnya, meskipun tidak setiap hari termeu dengan orang-orang yang baik hati.”

Orang yang baik hati, dalam pengertian bocah-bocah seperti Kenang, tentu mereka yang mau memberikan sepatunya untuk disemir. Syukur-syukur mereka mau memberi uang lebih.

“Saya hanya menggunakan uang untuk makan sehari-hari, soalnya saya hidup sendiri di sini (Semarang), tanpa saudara, apalagi orang tua. Saya hanya punya teman-teman yang hidup senasib.”

Hidup Kenang memang punya banyak kisah. Sebelum sampai di Semarang, dia pernah menggelandang di Stasiun Gambir, Jakarta, sampai enam bulan lebih, kemudian “tersesat” di Stasiun Banjarnegara dan kembali menggelandang selama hampir empat bulan.

“Saya sampai di Semarang karena tertidur di gerbong barang, lalu “terbawa” sampai di sini (Semarang).”

Lantas kenapa Kenang sampai lepas dari orang tua?

Tampaknya, pengalaman yang dimiliki Kenang hampir tak berbeda dari bocah-bocah senasib lainnya.

“Saya ini anak bangau, sejak kecil saya nggak tahu siapa bapak dan ibu saya.”

Memang, hampir semua bocah yang hidup di Simpanglima, juga mungkin kawasan lain, memiliki kisah yang sama, tak tahu orangtuanya, hidup menggelandang dari satu kota ke kota lain, hingga akhirnya larut dalam kehidupan kota yang mahakeras.

Tak pelak, kehidupan kota yang keras pun akhirnya tak hanya sebagai tempat mata pencaharian, tetapi juga aktivitas sehari-hari lainnya, seperti mandi, tidur, tempat tinggal. …..

Beberapa bocah mengaku, untuk mandi mereka cukup mencebur di Tugu Muda, bundaran air muncrat Jalan Pahlawan, sungai-sungai kecil, atau mengharapkan hujan, bahkan tak mandi sama sekali.

Memang, ada sebagian dari mereka yang mempunyai tempat untuk “pulang”, sebut saja misalnya di Lemahgempal, atau “rumah bangsa” yang didirikan oleh Yayasan Sosial Soegijopranoto.

“Tapi itu pun nggak setiap hari saya ke sana. Saya lebih sering tidur di tengah lapangan, emper toko, atau tempat-tempat lain seperti itu,” ujar Rudi (12) yang sehari-hari ngamen di Simpanglima.

Bisa jadi Agung (8) lebih beruntung dari pada Rudi, Kenang, atau kawan-kawan lain yang mengais rezeki di Simpanglima. Sebab, meskipun menggelandang, dia masih memiliki orang tua dan saudara.

“Tapi sebenarnya malah nggak enak, karena semua penghasilan harus diberikan kepada Ibu. Kalau hanya sedikit, Bapak suka marah-marah.”

Hasil yang diperoleh Agung memang tak sebanyak teman-temannya. Maklum, dia “bekerja” sebagai pengemis. Paling sedikit, menurutnya, setiap hari dia harus memberikan uang Rp 3.000 kepada orang tuanya. Kewajiban itu tak hanya dibebankan kepada Agung, tapi juga tiga adiknya.

“Kalau setoran kurang, saya hanya boleh makan nasi dengan kerupuk. Padahal, sekarang banyak orang pelit,” katanya, getir.

Soal cita-cita, tampaknya hampir tak pernah terbayang di kepala bocah-bocah dekil itu. Sebagian besar dari mereka bahkan tak pernah memiliki keinginan seperti bocah-bocah seusia mereka yang hidup “wajar”. Tak pelak, idiom seperti dokter, insinyur, astronot, pilot, apalagi presiden….hampir tak pernah keluar dari bibir mereka.

“Seandainya Tuhan mengabulkan satu permintaan saja, maka saya ingin keluar dari kehidupan seperti ini. Saya ingin hidup sehat,” ujar beberapa di antara mereka.

Memang, sebuah keinginan yang sederhana sebenarnya. Tapi toh pada kenyataannya mereka tetap saja ada di sana, berkeliaran, dan menggelandang dari satu malam ke malam berikutnya tanpa sebuah kepastian. (Ganug Nugroho Adi-13t).