Buka Bersama Anak Jalanan: “Pulang Sekolah Saya Langsung Ngamen” (Suara Merdeka, 2005)

SUARA MERDEKA, 09 Oktober 2005

SERATUSAN anak jalanan berkumpul di rumah dinas Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah H Abdul Kadir Karding, Jumat (7/10) petang lalu. Mereka dari berbagai “posko” anak jalanan di Kota Semarang. Sebut saja dari sejumlah titik, seperti Simpanglima, Jalan Pemuda, Johar, Metro, Siranda dan Tugu Muda.

Dengan penampilan apa adanya, mereka tidak sungkan untuk bernyanyi dan berdendang ria, unjuk kebolehan dalam bermusik di ruang tamu seluas 7 x 8 meter. Peralatan mengamen pun mereka bawa ke rumah dinas di Jalan Papandayan iu.

Kedatangan pada anak jalanan tersebut diangkut dengan sejumlah angkutan kota. Sejumlah pegiat Yayasan Setara ikut mendampingi anak-anak kolong langit itu. Ya, mereka tengah diundang empunya rumah dinas itu, Abdul Kadir Karding, untuk berbuka bersama.

Hj Alfiatun Rahmaniah, salah seorang fungsionaris PKB Jateng, menjadi penceramah rangkaian buka bersama tersebut. Dengan kehidupan jalanan itu tidak sedikit dari para anak jalanan itubelum menjalankan ibadah puasa. Mereka harus mengamen di perempatan.

Salah seorang anak jalanan Wulansari (12), menuturkan, saat ini dirinya masih belajar di kelas I SMP Hasanudin 3 Jalan Wahid Hasyim. Bocah kurus berkulit cokelat tua itu sepintas masih seperti anak-anak seusia sekolah dasar. “Nggak bohong mas, saya sudah SMP,” ujar dia sambil tersenyum lebar.

Anak jalanan lain, Isbaniyah (11), menyatakan dirinya juga masih bersekolah di kelas V SD Islam Al Iman Kauman. “Saya juga sekolah, Mas,” ujar dia.

Memang pandangan masyarakat yang miring terhadap anak jalanan telah mengaburkan fakta yang sebenarnya. Mereka ternyata juga melakukan kewajiban lain, yaitu belajar untuk memperbaiki masa depannya. Hanya, perjuangan anak jalanan itu lebih berat. Selain belajar, mereka juga harus mencari uang tambahan sekolah dengan mengamen.

“Setelah pulang sekolah, saya tidak langsung mengamen tetapi istirahat dulu di pos. Baru pukul empat sore, saya mulai mengamen di depan Hotel Metro sampai lepas maghrib,” tutur Iyah, sapaan akrab Isbaniyah. Hal serupa dilakukan Wulansari, mengamen selepas sekolah.

Karena itu, para anak jalanan tersebut sebaiknya tidak dipandang sebelah mata. Mereka sebenarnya juga ingin memperbaiki hidupnya. Namun, sering keberadaan mereka dipandang sebelah mata. Aparat pemerintah, kata Yuli Deden salah satu pegiat Yayasan Setara, sering main garuk saja.

“Pertemuan ini mudah-mudah menjadi tonggak, bagaimana penanganan jalanan dilakukan tanpa kekerasan. Namun, bagaimana menangani pendidikan mereka?”

Abdul Kadir Karding menekankan, penanganan anak jalanan sering tanpa rasa kemanusiaan. Mereka masih sering dianggap golongan manusia nomor sekian. “Yang dicari adalah solusi menangani mereka secara humanis. Persoalan utama karena faktor ekonomi,” ujar Kadir yang juga Ketua DPW PKB Jateng hasil Muswillub Kudus itu. (Jamal Al Ashari-51j)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *