Sejarah Yayasan Setara (4): PAJS dan Kelompok-kelompok Pendukung

Bongkar RSPaska penculikan, Yani sering tidak hadir, untuk kemudian menghilang. Beruntung, pada awal September 1996 ada relawan yang bersedia membantu Winarso dalam pendampingan sehari-hari, yakni Iis Haryadi yang bergabung dan tinggal di shelter dan Dewi yang setiap hari datang..

Mencermati berbagai peristiwa yang dialami, diskusi antara Winarso dengan Odi Shalahuddin memutuskan untuk membangun hubungan dan dukungan dari berbagai pihak kepada PAJS.

Dukungan datang dari Yayasan Sosial Soegijopranoto (YSS) yang memberikan bantuan mempermudah akses pelayanan kesehatan bagi para anak jalanan dan dukungan barang berupa kayu dan papan (yang berguna untuk membuat loker-loker, meja, dan tempat tidur bagi anak jalanan). Komunikasi  intens berlangsung melalui Pak Soetopo.

Komunikasi dengan Romo Pujo berlanjut dengan dukungan adanya para relawan untuk turut membantu pendampingan dan fasilitasi anak jalanan. Pada pertengahan September 1996, Romo Pujo berinisiatif melakukan pertemuan sharing penanganan anak jalanan dengan melibatkan PAJS, YSS dan Dinas Sosial. Perkembangannya terjalin kerjasama dengan Wisma Sanjaya, yang dipimpin oleh Romo Pujo untuk pendidikan ketrampilan bagi anak.

Pertemuan-pertemuan dengan melibatkan banyak pihak terus berlangsung yang pada akhirnya bersepakat pada tanggal 25 Pebruari 1997 membentuk Forum Kerjasama Pemerhati Anak-anak Jalanan Semarang (FKPAJS) sebagai forum yang akan memberikan dukungan bagi PAJS dan kelompok anak jalanan lain.

Seiring dengan kegiatan di atas, komunikasi dengan pihak lain juga dilakukan terutama dengan para jurnalis dan seniman seperti dengan Hasan Fikri dan Timur Sinar Suprabana.

Pada saat Winarso dimintai keterangan oleh Poltabes Semarang (14 November 1996), setelahnya ia dibawa ke sebuah ruangan yang telah menunggu wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik. Pertanyaan yang mengemuka, menuduh Winarso sebagai boss gepeng, menanyakan setoran dari anak-anak setiap harinya, jumlah anak yang ditampung dan pendidikan keagaaman bagi anak. Usai diwawancarai, Winarso menawarkan agar para wartawan bisa berkunjung dan mengenal lebih jauh tentang kegiatannya bersama anak jalanan. Pada proses ini, dikenal Ganuk Nugroho Adi, wartawan Suara Merdeka (yang kemudian banyak menulis tentang dunia anak jalanan) dan Soni dari RCTI yang kemudian banyak membantu kegiatan anak jalanan.

Hubungan dengan media, terjalin semakin baik dengan adanya tawaran penelitian tentang anak jalanan dari Yayasan Duta Awam yang beranggotakan para wartawan di Semarang. Penelitian akhirnya berlangsung dengan melibatkan anak-anak jalanan sebagai enumerator.

Pada bulan November, nama Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) mulai digunakan, tanpa ada kepengurusan. Namun ditetapkan bahwa tanggal lahir PAJS adalah 23 Juli 1996, yang dikaitkan dengan Hari Anak dan tanggal pertama kali dibukanya rumah singgah anak jalanan.

Selaku Ketua PAJS adalah Winarso. Proses selanjutnya, dilakukan pertemuan dengan melibatkan para relawan dan komunitas jalanan (yang mulai terlibat turut membantu sejak November 1996) untuk membentuk kepengurusan. Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, kepengurusan PAJS adalah: Winarso (Ketua), Odi Shalahuddin (Sekretaris) dan Yani (Bendahara). Sedangkan Dewan Penasehat (yang telah dihubungi sebelumnya dan telah menyatakan persetujuan) adalah Emha Ainun Nadjib, Darmanto Djatman, Mohammad Farid, dan Simon Hate. (Bersambung)

Oleh: Odi Shalahuddin

Tulisan Terkait: