Lewat Radio, Ajak Orangtua Cegah Kekerasan Anak

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.”
( HR. Muslim )

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa kekerasan terhadap anak belum sepenuhnya menghilang dari pandangan kita. Sehari-hari, mungkin masyarakat sudah terlalu terbiasa melihat orangtua yang melakukan kekerasan pada anaknya. Mengapa hal ini terjadi? Karena masyarakat belum sadar bahwa itu adalah kekerasan. Bahkan orangtua, yang notabene melakukan hal tersebut mungkin tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah bentuk kekerasan terhadap anak.
Tidak hanya menjadi korban kekerasan, anak juga bisa menjadi pelaku kekerasan. Ada 3 lingkungan yang bisa menjadikan anak sebagai pelaku atau korban kekerasan; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Data berbicara bahwa 91% anak menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga. Padahal, keluarga merupakan lingkungan terdekat dan seharusnya menjadi pelindung utama anak.
Pada kenyataannya, beberapa keadaan menyulitkan orangtua dalam menghadapi anaknya sehingga tanpa disadari orangtua melakukan kekerasan berupa fisik. Hal tersebut dapat terjadi jika orangtua; tidak realistis terhadap perilaku anak, tidak mampu mengendalikan emosi, terpengaruh problem lain, ataupun terpengaruh alkohol/obat terlarang.
Yayasan Setara dalam Rangkaian 20 Hari Kampanye Anti Kekerasan Terhadap Anak tidak lupa menggemakan “Peran Orangtua dalam Pencegahan Kekerasan pada Anak. Dalam Talk Show On Air di beberapa radio; Radio RRI, Rasika FM, Sindo Trijaya FM, Good News FM, dan Imelda FM. Talkshow juga dilaksanakan di TVku.
Dalam Talk Show tersebut, Yayasan Setara mengimbau bahwa banyak sekali hal yang dapat dilakukan untuk melakukan pencegahan kekerasan mulai dari lingkungan keluarga, dan orangtua sebagai aktor utama.
Dimulai dari orangtua yang selalu sadar bahwa usia anak memang masa-masa yang penuh dengan rasa keingintahuan, maka harus dikendalikan dengan lebih bijak dan penuh pengertian. Selain itu, orangtua juga harus tahu karakter anak untuk lebih mudah mengatakan ‘tidak’.
Sebagai orangtua, upaya agar kekerasan terhadap anak dapat dicegah dan diatasi adalah; membantu anak melindungi diri dengan memberi pengertian mengenai pendekatan orang asing atau perbuatan tidak senonoh untuk menghindari kekerasan seksual. Ciptakan komunikasi yang harmonis dua arah, dengan begitu anak akan lebih terbuka pada orangtua dan tidak perlu intervensi atau mendikte anak, sehingga jika ada hal-hal yang terjadi pada anak, maka ia otomatis akan bercerita tanpa diminta.
Dalam UU No. 35 tahun 2014 pun disebutkan bahwa orangtua menjadi salah satu yang harus melakukan pemenuhan terhadap hak anak. Maka, kekerasan anak pun bisa dicegah dan diatasi dari lingkaran dan lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.