Suara Merdeka: 23 Oktober 2003

SEMARANG – Sebagian dari puluhan ciblek yang sering mangkal di kawasan Simpanglima tak tahu tentang kesehatan reproduksi wanita. Karena itulah ada yang nekat menggugurkan kandungan ketika hamil di luar nikah.

Hal itu sering terjadi. Padahal, mereka sama sekali tak tahu risiko dari tindakan tersebut.

Psikolog dari Undip, Dra Frieda MSi, dalam sarasehan ”Remaja Sehat Berprestasi dan Bermasa Depan” di Gedung Juang 45, Rabu (22/10), mengemukakan hasil penelitian yang baru saja dia lakukan terhadap kehidupan ciblek. Dia menyatakan mereka sangat tidak paham tentang kesehatan reproduksi wanita.

”Salah satu ciblek yang berumur 17 tahun mengaku dua kali menggugurkan kandungan. Jelas itu berisiko tinggi bagi keselamatan jiwanya,” kata dia.

Setelah diberi gambaran tentang kesehatan reproduksi wanita, ciblek itu baru tahu. ”Ketika diperlihatkan gambar tiga saluran ke rahim dan dijelaskan risiko jika ketiganya tidak berfungsi normal, ciblek itu hanya terbengong.”

Ciblek di Simpanglima memiliki jaringan begitu kuat. Mengumpulkan 23 ciblek saja selama penelitian, kata dia, sulit setengah mati. Sebab, mereka harus dikumpulkan di luar jam kerja.

Dia menuturkan mereka terjun ke dunia malam bukan karena untuk memenuhi kebutuhan ekonomi semata-mata. Namun hedonisme dunia memang telah menjadi watak mereka. ”Bagaimana mereka bisa mempunyai handphone, sepatu, dan baju bermerek secara mudah dan cepat, tanpa memikirkan risiko perbuatannya? Jadi itu mereka lakukan bukan karena faktor ekonomi saja.”

Sebagian di antara mereka sudah melakukan kesalahan sejak awal, sehingga nekat terjun ke dunia hitam. Ada yang beralasan dikhianati atau ditinggal pacar. Padahal, sang pacar telanjur merenggut keperawanan mereka.

”Jadi pertanyaannya, kenapa sampai sejauh itu hubungan mereka saat pacaran? Salah satunya penyebab, mereka tidak tahu tentang kesehatan reproduksi wanita ketika remaja,” ujar dia.(G17-45g)