RADAR SEMARANG, Jum’at Kliwon, 23 Juni 2000

SEMARANG, Ketidakseriusan Pemda Kota Semarang mendapat sorotan. Tidak adanya rumusan jelas tentang bentuk perlindungan terhadap eksploitasi seksual terhadap anak jalanan mengindikasikan ketidakseriusan tersebut.

Kabag Sosial Pemkot Semarang HA Basuki menyatakan setuju terhadap upaya perlindungan terhadap anak-anak jalanan (anjal). Dia mengakui sampai saat ini belum ada perangkat hukum maupun tindaka yang bisa dilakukan untuk melindungi mereka dari eksploitasi seksual. “Kami setuju program itu, dan memang belum dirumuskan bentuk konkritnya. Kami akan sampaikan hal ini dalam rapat koordinasi dengan Pemda Tingkat I nanti,” kata Basuki ketika dilurug para aktivis dari Yayasan Setara, sebuah LSM yang bergerak dalam perlindungan hak-hak anak, kemarin.

Dalam pertemuan itu, Yayasan Setara menenggarai persoalan anjal di Semarang semakin parah. Hening Budiyawati, pengurus yayasan itu mengatakan bahwa telah terjadi peningkatan tajam praktik prostitusi di beberapa kawasan di Semarang, terutama yang melibatkan anjal.

“Kami secara kuantitatif belum bisa mendata, karena tiap hari mereka berganti. Sampai saat ini, masalah tersebut masih terus berlangsung. Akan tetapi dari pantauan kami di lapangan jumlah anak nampaknya bertambah banyak,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Yang lebih memprihatinkan, kata dia sejak tahun 2000 Yayasan Setara telah mencatat 8 anak diperdagangkan keluar daerah. Indikasi atau tenggara adanya aksi pfedofilia menyetubuhi paksa anak jalanan juga telah muncul di Semarang. Kawasan yang ditengarai adanya Pfedofilia seperti di seputar Tugu Muda, Simpang Lima dan Imam Bonjol.

“Modusnya, anak-anak tersebut diajak jalan-jalan, dibelikan sesuatu, diajak makan terus di bawa ke tempat tertentu. Tidak hanya orang dewasa lokal saja yang memakai mereka, tapi juga orang asing atau bule,” timpal Dedy, pengurus yayasan tersebut.

Melihat kondisi itu, Yayasan Setara mendesak pemda untuk segera turun tangan melindungi anak jalanan.

“Upaya perlindungan melalui kebijakan-kebijakan harus segera dilakukan sebelum persoalan bertambah besar. Karena di negara lain seperti Thailand dan Philipina telah menjatuhkan sanksi yang berat bagi orang dewasa yang menggunakan anak untuk tujuan seksual,” tambah Odi Shalahuddin salah satu Dewan Pengurus Yayasan Setara.

Para aktivis tersebut berencana menemui Walikota Sukawi Sutarip, awal Juli mendatang. Mereka juga akan mengadakan dialog dengan Walikota dan Kapoltabes Semarang (ian).