Yuli “BDN” Sulistyanto: Dibagikan ke Anjal, Baju Tinggal Dua (Radar Semarang, 2009)

RADAR SEMARANG 8 FEBRUARI 2009

Radar Semarang, 8 Pebruari 2009

BERGAUL dengan anak jalanan (anjal), membuat Yuli harus ikut dalam kehidupan keseharian anak-anak tersebut. Semua dilakukan agar ia bisa masuk dan bergaul di lingkungan mereka.

“Pernah baju saya tinggal 2 saja karena yang lain dipakai oleh anak-anak,” tutur Yuli. Karena hanya tingal 2 stel, bila satu dipakai yang lainnya dicuci.

Tapi berbagai keterbatasan tersebut tidak menurungkan niatnya menjadi aktivis pendampingan anak. Jiwa aktivis itulah yang membuat ia merasa “tidak betah” bekerja secara formal.

Pekerjaan sebagai buruh di sebuah bank ia tinggalkan. “Saya juga pernah coba kerja berdagang barang-barang plastik, tapi sepertinya tidak cocok,” tambahnya.

Meski begitu, dari dunia aktivis ini ia menemukan pujaan hatinya. Ketika masih berprofesi sebagai pengamen, ia sering kumpul-kumpul di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang. Di lingkungan ini, ia sering bertemu dengan kawan-kawan seniman ataupun aktivis mahasiswa.

Dari sinilah ia bertemu dengan Siti Mualifah. “Istri saya itu dulunya sering kumpul dengan seniman di TBRS, dari situlah kita kenalan,” jelasnya. Pada 2000, mereka menikah dan saat ini tinggal di Banjardowo, Genuk. Yuli dikaruniai seorang anak berusia 2 tahun. Siti Mualifah saat ini berprofesi sebagai guru di Sayung Demak.

Karena sudah mengenal sejak masih menajdi pengamen, hingga saat ini Siti Mualifah tidak keberatan dengan aktivitas Yuli mendampingi anak-anak jalanan. Termasuk ketika ia harus ‘blusukan’ ke area-area prostitusi untuk mencari data tentang ESKA.

Saling pengertian dan kepercayaan antara keduanya, membuat Yuli bisa fokus mendampingi anak-anak jalanan dan mengampanyekan antieksploitasi seksual anak (pratono/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *