Uncategorized

Diberi Makan Nasi Setengah Matang (Suara Merdeka, 1996)

SUARA MERDEKA, Kamis, 26 September 1996, Halaman III

KERASNYA hidup di jalanan mengharuskan pengamen untuk selalu tanggap terhadap situasi. Mereka harus sigap dan waspada jika sewaktu-waktu terjadi garukan tibum, termasuk operasi yang dilakukan polisi.

Namun demikian, sebagian besar dari mereka sudah terbiasa dan mempunyai kiat-kiat khusus menghadapi operasi aparat keamanan dan ketertiban.

“Tak jarang, justru polisi yang biasanya melewati perempatan jalan tersebut malah mengingatkan kami. Jika kami ingin mengamen, dipesan untuk mengamen yang benar. Jangan ngamen sembarangan,” ungkap seorang pengamen.

Kadang informasi mengenai akan dilakukannya garukan Tibum, mereka dapatkan dari para pengemudi (sopir) mobil pribadi. Menurut mereka, para pengemudi yang melintasi perempatan ini malah baik terhadap anak-anak pengamen jalanan. Termasuk di dalamnya adalah para sopir taksi.

“Mereka tidak memusuhi kami, melainkan selalu mengingatkan bila akan ada tibum.”

Memang, operasi garukan sebenarnya merupakan sesuatu yang paling mereka takuti. Meski tak sedikit diantaranya yang menyangkal takut terhadap tibum. “Kalau ada operasi tibum kami mempunyai kiat khusus untuk menghindarinya. Biasanya, anak-anak disini lari masuk ke perkampungan sekitar perempatan Pemuda,” ungkap mereka bergantian.

Sedangkan kalau tertangkap, mereka di bawa dan dibina di kantor dinas sosial di daerah Semarang Tugu. Di antara mereka ada yang telah merasakan tertangkap petugas Tibum.

“Anak sini ada yang pernah merasakan ditangkap dan dikurung di dinas sosial di Tugu. Ketika itu kami bersembilan dikurung selama tiga hari dan diberi makan nasi setengah matang. Karena nggak kerasan, akhirnya kami semua melarikan diri,’ ujarnya.

Lain lagi cerita Budi (13), pengamen cilik asal Jambi. Dia mulai mengamen di persimpangan Jl. Pemuda sejak tahun 1993 lalu. Sebelumnya dia tidak pernah mengira kalau akan terdampar di Semarang.

Keadaanlah yang menyebabkan dia sampai di Semarang. Karena orangtuanya bercerai, dia diajak ibunya merantau ke Jakarta. Di Jakarta, dia sempat bekerja membantu keamanan di Stasiun Gambir.

“Saya diberi pekerjaan sebagai penjaga malam, dengan bayaran Rp 10 ribu semalam,” ungkapnya.

Namun pekerjaannya itu tidak berlangsung lama, sebab tenaganya sebagai pejaga malam tidak dibutuhkan lagi sejak ada pergantian kepala keamanan. Hingga akhirnya, dia merantau ke Semarang dan bergabung dengan anak-anak yang biasa mangkal di Jl. Pemuda.

Cerita senada juga dialami Agus Sonny, Dwi, Kadir, Lilik dan masih banyak lagi pengamen di seputar Tugu Muda, perempatan Jl. Pandanaran, Johar dan sebagainya.

Semangat untuk sekolah dan terus belajar, ternyata juga masih ada. Seperti yang dialami Agus (16), lulusan SMP yang berasal dari daerah Bulu. Menurutnya, tahun depan dia akan meneruskan sekolah ke SLTA.

“Sebenarnya saya ingin terus sekolah, namun karena orangtua nggak ada biaya, ya saya berhenti dulu,” tutur Agus yang biasa mengamen di perempatan Tugu Muda.

Sedangkan kegiatan ngamen sudah dilakukannya sejak lama, ketika masih sekolah dulu. Biasanya ketika liburan sekolah atau waktu senggang.

Namun demikian, ngamen bukanlah suatu pekerjaan yang benar-benar dilakukan untuk hidupnya. “Ngamen ini saya lakukan untuk sambilan dan mengisi waktu luang saja,” kata dia.

Sedangkan, menurut pengamen dari Jakarta, Sony (17), ngamen di jalanan lebih enak dibanding di bus kota. Menurutnya, ngamen di bus kota hasilnya lebih kecil. Sekali ngamen di dalam bus kota, dia bisa mendapat Rp 500 sampai Rp 800. Sedangkan di perempatan jalan sekali lampu merah, dia mendapat hasil Rp 800 sampai Rp 1.000.

“Saya ngamen disini santai saja kok. Tidak harus mendapat uang banyak. Malah kadang-kadang waktu saya lebih banyak dipergunakan untuk main kejar-kejaran dengan teman-teman,” tutur Sony.

Yang mengenaskan dari cerita mereka, jika sedang tidak punya uang, sedang rasa lapar sudah melanda, mereka mencari sisa makanan dari kereta api di stasiun Tawang.

Konsep Rumah

Para pengamen cilik Semarang, ternyata juga mempunyai perkumpulan sendiri seperti kelompok-kelompok lain. Mereka berkumpul dalam kelompok Tugu Muda, yakni suatu kelompok yang membawahi anak-anak yang biasanya ngamen di seputar Tugu Muda.

Selain itu, mereka juga tergabung dalam Kelompok Anak Jalanan Semarang (KAJS). Kelompok merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengurusi masalah pengamen cilik di Semarang.

Menurut koordinatornya, Winarso, pihaknya tertarik mengurusi pengamen cilik didorong rasa sosialnya, terutama terhadap nasib anak-anak. Tujuannya, mengenalkan konsep rumah para mereka.

Sebab sebagian besar, mereka sudah terbiasa hidup di jalanan, yang banyak dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang begitu keras.

Di satu sisi, mereka berjuang mencari uang untuk mempertahankan hidup, namun di sisi lain, mereka telah memasuki kehidupan keras. Tampaknya keadaan ini menjadi fenomena tersendiri. Setiap saat mereka ditempa oleh kehidupan keras, hingga membentuk jiwa dan kepribadiannya.

“Maksud konsep rumah disini, dalam suatu keluarga itu ada hubungan antara anggota keluarga. Mereka harus bisa saling menolong, membantu dan menyayangi. Hingga akhirnya dapat menumbuhkan rasa sayang dan rasa memiliki keluarga,” kata Winarso.

Berdasarkan penelitiannya, sebenarnya latar belakang mereka mengamen bukan karena faktor ekonomi, seperti yang sering diduga orang. Sebab kenyataannya, justru mereka itu berasal dari keluarga yang ekonominya boleh dibilang cukup.

Rata-rata penyebab utama mereka mengamen, kekurangharmonisan hubungan dalam keluarga. Banyak dari anak-anak ini yang lari dari rumah karena alasan ada masalah dengan orangtua atau salah satu anggota keluarga.

Selain mengenalkan konsep rumah, pihaknya juga mengenalkan pada sosialisasi hubungan dengan masyarakat.

“Bagaimana sih sebenarnya kehidupan yang terjadi dalam hubungan di masyarakat itu? Bahwa manusia hidup itu harus saling tolong menolong dan bisa bekerjasama di masyarakat,” ujarnya.

Saat ini dia mempunyai 50 pengamen yang berada dalam binaannya. Mereka disediakan rumah yang dihuni bersama sebagai tempat untuk istirahat dan tidur di malam hari.

Namun sebagai bagian dari anggota keluarga baru, mereka juga harus bisa menerapkan fungsi-fungsi hubungan keluarga. Mereka harus bisa mengelola dan memelihara milik bersama.

Disini, kami bina anak-anak dengan mengajari mereka baca tulis dan keterampilan kaligrafi. Di saat-saat tertentu, kami ajak mereka diskusi dengan membicarakan masalah-masalah yang sedang hangat di masyarakat. Kami dengar pendapat mereka dan kami beri masukan, yang benar itu begini dan lain sebagainya, katanya.

“Sebagai salah satu bentuk pembinaan tersebut, kami juga menganjurkan mereka untuk menabung. Langkah ini diambil karena pendapatan mereka seiap harinya kan tidak tentu. Dengan menyisihkan sebagian dari pendapatan, secara tidak langsung akan mengajarkan hidup hemat,” tuturnya.

Dia mengakui, sebagian besar dari anak-anak pengamen itu tidak tamat sekolahnya, atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Oleh karena itu, dia selalu menanamkan kegiatan gemar belajar. Sebab di usia muda, jika seseorang terbiasa hidup mendapatkan uang dengan mudah, maka dia akan malas untuk belajar.

Faktor Sosial

Maraknya pengamen cilik di Semarang, menurut psikolog Dra Frieda NRH, MS, disebabkan oleh faktor sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi di masyarakat.”Mereka menjadi demikian itu kan karena mereka menjadi produk situasi sosial budaya, baik dalam ruang lingkup kecil maupun besar. Namun demikian faktor lingkungan lebih banyak berperan dalam pembentukan kepribadian mereka,” katanya.

Sedangkan dari kaca mata psikologi, para pengamen itu sebenarnya telah kehilangan masa kanak-kanaknya, baik waktu untuk belajar maupun untuk bermain layaknya anak-anak seusianya.

“Namun demikian, kehidupan mereka sebenarnya tidak bbisa dikatakan tertekan. Sebab yang namanya ngamen, mencari makan, kalau memang bagi mereka itu dianggap sebagai hal yang menyenangkan dan mereka melakukannya dengan senang hati, maka ya tidak ada masalah.”

“Kita harus melihat dulu apa latar belakang mereka melakukan itu semua. Karena faktor ekonomi atau faktor lainnya. Yang jelas, masa depan mereka menjadi tanggungjawab kita semua. Bagaimana tanggungjawab kita untuk menciptakan situasi berpendidikan, dan bersaing menciptakan intelektual yang berbudaya,” tandasnya.

Di sisi lain, lanjut dia, munculnya pengamen cilik tersebut seperti berlawanan dengan penggalakan program Gerakan Orang Tua Asuh.

Menurutnya, GOTA, masih berdiri sendiri-sendiri, sehingga kurang efisien. Kalau gerakan tersebut bisa terkoordinasikan, pasti hasilnya bisa lebih bagus. Hingga tampaknya, belum bisa menyentuh para pengamen ini.

Keberadaan para pengamen cilik di Semarang yang akhir-akhir bagai jamur di musim hujan, juga mendapat perhatian dari anggota dewan. Menurut anggota Komisi E DPRD Kodya Semarang, Drs. Romli Mubarok, para pengamen yang masih tergolong anak-anak dan remaja itu sebagian besar menyanyi tidak untuk meningkatkan kualitas, melainkan untuk mendapatkan rejeki.

Hadirnya para pengamen cilik yang kebanyakan melakukan operasional di perempatan jalan, jelas mengganggu kenyamanan para pemakai jalan. Oleh karenanya, kondisi itu harus segera ditertibkan.

“Perilaku mereka harus mendapat perhatian khusus untuk segera ditangani. Sebab di balik itu, mereka pasti mempunyai permasalahan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan, kondisi tersebut memang memprihatinkan. Namun demikian, keadaan itu sudah dikonfirmasikan pada dinas sosial untuk segera menanganinya.

Dan Dinsos sendiri sudah siap untuk menertibkan mereka. Sebab Dinsos sudah secara rutin menangani keberadaan mereka.

Dalam penanganan masalah ini prinsipnya, harus diidentifikasi dulu permasalahannya. Setelah itu, baru dicari solusinya. Misalnya, kalau mereka masih mempunyai orang tua, ya dikembalikan ke orang tuanya.

Di sisi lain, juga jangan sampai Semarang kondisinya menjadi kusam dan kurang menyenangkan. (Diah Irawati-12)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *