Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Semarang (1) Dari Ciblek, Warior hingga Kimcil (Suara Merdeka, 2012)

SUARA MERDEKA, 02 November 2012

PADA siang hari, Jalan Mpu Tantular yang berada di antara Jalan Agus Salim dan Jembatan Mberok lebih banyak untuk aktivitas perdagangan. Pada malam hari, tempat itu berubah total.

Lokasi yang remang-remang karena hanya ada sedikit lampu yang menyala, seolah mendukung perkembangan kehidupan malam di sana. Berdasar hasil telisik Suara Merdeka, ada beberapa tempat hiburan karaoke yang buka hanya pada malam hari.

Usaha tersebut menempati kios-kios yang berada di tepi Kali Semarang. Di situ diduga menjadi salah satu lokasi rawan eksploitasi seksual komersial anak.

Pada sebuah malam, tampak beberapa gadis berkumpul di sekitar tempat tersebut. Mereka segera beranjak dari duduk setelah melihat ada pengendara motor dari arah Kota Lama belok ke kiri tepat sebelum jembatan. Tanpa banyak basa-basi mereka menghampiri pengendara motor tersebut dan merayunya agar mau bernyanyi di bilik karaoke tempat mereka bekerja.

Tempat rawan ternyata tak hanya di situ. Ada juga beberapa lokasi lain seperti Banjirkanal Timur, Jalan Pemuda, dan juga Jalan Imam Bonjol. Di sana, pada malam-malam tertentu sering tampak gadis belasan tahun yang menunggu seseorang menghampiri.

Perubahan Nama

Salah seorang aktivis Yayasan Setara yang peduli terhadap hak anak, Yuli BDN, mengungkapkan, persoalan eksploitasi seksual komersial anak di Semarang mengalami perubahan seiring zaman. Perubahan itu termasuk pada nama.

”Dulu, sekitar tahun 1998, kita mungkin sering mendengar nama ciblek. Singkatannya cilik-cilik betah melek. Jika tidak salah ingat, istilah itu muncul seiring dengan adanya warung poci di sekitar Simpanglima yang buka pada malam hari,” jelasnya.

Tak lama kemudian, muncul juga istilah warior. Julukan tersebut menurutnya diberikan pada gadis belasan tahun, bisa jadi masih dalam usia anak-anak, yang memiliki ”kelas” di atas ciblek. Para warior itu biasanya tak beroperasi di jalanan dan lebih selektif dalam menerima panggilan.

Kini, muncul lagi istilah baru, yakni kimcil. Konon, kata tersebut merupakan singkatan dari kimpol cilik atau paha kecil. Istilah itu terutama merujuk pada gadis pelajar yang mengenakan rok pendek sehingga sebagian pahanya terlihat. Munculnya ketiga istilah itu menurut Yuli, menunjukkan jika praktik eksploitasi seksual komersial pada anak masih terjadi, terutama di Semarang.

Baginya, hal itu kontras dengan visi pemerintah yang ingin menjadikan tempat ini sebagai Kota Layak Anak. Karena itu, tindakan tegas harus segera dilakukan.

Tahun lalu, Yayasan Setara melalui Forum Anak Anti-ESKA memutuskan untuk membuat buku yang mengungkap praktik hal tersebut. Para anggota forum yang juga masih berusia belasan tahun dengan berani menyelidiki bagaimana dan mengapa masih ada gadis belia yang diekploitasi. Bagaimana hasil penelusuran mereka? (Adhitia Armitrianto-72)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=204072

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *