Eksploitasi Seksual Komersial Anak di Semarang (2-Habis) Muncul di Jalan hingga Sekolah

SUARA MERDEKA, 03 November 2012

”SAYA grogi, jadi bingung mau bilang apa.”
”Begitu masuk, merinding.”

Dua kalimat itu meluncur masing-masing dari Wahid dan Adi, dua anggota Forum Anak Anti-Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA). Keduanya kebetulan mendapat tugas untuk melihat langsung kondisi di sekitar Jembatan Berok dan lokalisasi Argorejo atau yang biasa disebut Sunan Kuning.

Wahid menuturkan pengalamannya saat datang ke Jalan Mpu Tantular, tepatnya di sekitar Jembatan Berok. Mengendarai sepeda motor, berboncengan dengan temannya, dia datang ke tempat itu sekitar pukul 21.00. Begitu memasuki jalan tersebut, beberapa perempuan langsung menghampirinya.

”Mereka langsung mendekati saya dan merayu agar mau mampir menyanyi di salah satu bilik karaoke. Paha saya bahkan dielus-elus segala. Makanya jadi grogi, mau bilang apa,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, semula perempuan yang menghampirinya berusia dewasa. Namun, setelah dia memancing hanya tertarik dengan anak-anak, baru beberapa gadis yang mengaku belasan tahun muncul.

Lain lagi dengan pengalaman Adi. Saat masuk di lokalisasi dia langsung merinding. Dia sebelumnya sama sekali tak terbayangkan, seperti apa bentuk tempat itu. Tugas untuk menelisik persoalan eksploitasi seksual komersialisasi anak di sana hampir saja buyar, saat dia memutuskan keluar.

Bersama rekan-rekannya yang lain dia kemudian memutuskan observasi ke jalanan. Beruntung mereka justru bisa bertemu dengan seorang perempuan yang mau bercerita tentang eksploitasi seksual komersial anak di lokalisasi termasuk yang ada di perbatasan Semarang-Kendal.

Apakah hanya di tempat-tempat yang tergolong rawan itu, mereka bisa ditemui? Ternyata tidak. Salah satu anggota yang lain di forum itu, Meri mengungkapkan, ada juga gadis sebaya dengannya yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial di sekolah.

Meri mengungkapkan, butuh waktu cukup lama untuk membuktikan hal itu. Dia harus bertanya ke banyak pihak mulai dari sopir angkutan, tukang becak, hingga rekan-rekan sesama pelajar. ”Setelah beberapa bulan, saya bisa berkenalan dengan seorang pelajar. Dia harus menjadi korban karena untuk membayar SPP atau memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Keterangan Meri serupa dengan kesaksian beberapa korban yang didokumentasikan Yayasan Setara. Beberapa korban mengaku terpaksa berada di lingkungan seperti itu karena berbagai faktor seperti keluarga, sakit hati, dan juga memenuhi gaya hidup.

Aktivis yayasan yang menyoroti hak anak tersebut, Yuli BDN, bahkan mencermati ada perbedaan alasan pada korban eksploitasi di masa lalu dengan sekarang. ”Dulu para korban timbul karena ingin persoalan pergaulan. Tapi kini, alasan ekonomi seperti ingin memiliki telepon genggam yang canggih, lebih kentara,” katanya.

Ketua Yayasan Setara Hening menegaskan, pelaku eksploitasi seksual komersial anak bisa dijerat dengan hukum. Selama ini pasal yang digunakan yakni menyangkut perdagangan manusia dan juga perlindungan anak.

Dia mengungkapkan, pihaknya pernah mendampingi seorang korban dan hasilnya pelaku dihukum bui selama beberapa tahun. (Adhitia Armitrianto-39)

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=204149

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *