SOLOPOS,  2 Juni 2000 

Semarang (Espos),    Yayasan Setara Semarang, menyatakan hampir separuh atau 46,4% dari jumlah anak perempuan jalanan di wilayah ini, terjebak dalam lingkungan prostitusi dan diindikasikan menjadi korban sindikat perdagangan anak alias dijual untuk tujuan seksual.

Menurut Koordinator Pelaksana Yayasan Setara Jateng, Th Bambang Pamungkas, data itu merupakan hasil penelitian lembaganya pada 1999 yang dilakukan dengan sampel 56 anak perempuan jalanan di Ibukota Jateng.

“Sindikat perdagangan itu memasok pelacur anak-anak ke pelbagai kota besar di Indonesia bahkan sampai ke Pulau Batam,” tandasnya, di sela-sela kampanye antieksploitasi seksual terhadap anak (jalanan), Kamis (1/6) di Semarang.

Kampanye yang digelar berkaitan dengan Hari Anak Internasional itu, dilakukan di kawasan Simpang Lima, Pasar Johar dan Tugu Muda dengan membagikan sekitar 3.000 stiker dan 4.000 selebaran, berisi ajakan menentang eksploitasi seksual terhadap anak.

Bambang yang didampingi koordinator penelitian, Hening, lebih lanjut menjelaskan sindikat itu secara berkala mengirimkan pelacur anak-anak usia 13 tahun sampai 16 tahun yang antara lain diambil dari mereka yang tergolong anak jalanan.

Sampai sekarang, kata dia, aparat keamanan mengalami kesulitan membongkar jaringan sindikat perdagangan anak-anak itu, sehingga kegiatan tersebut masih berlangsung tanpa bisa dikekang.”Informasi terakhir, awal bulan Mei lalu, sebanyak dua anak perempuan jalanan diberangkatkan ke Batam,”imbuhnya.

Sedang Hening menambahkan anak perempuan jalanan memang rentan terhadap tindakan pelecehan, kekerasan seksual, perkosaan dll. Hal itu karena mereka kurang mendapat perlindungan.

Kenyataan itu terungkap dari hasil penelitian Yayasan Setara, yaitu di mana hampir seluruh anak perempuan jalanan pernah menjadi korban pelecehan seksual. “Yang menyedihkan 30% anak perempuan kehilangan keperawanan akibat perkosaan.”

Konvensi KHA

Untuk itu, Yayasan Setara mendesak kepada pemerintah segera menghentikan eksploitasi seksual terhadap anak perempuan jalanan serta anak-anak pada umumnya. “Eksploitasi seksual terhadap anak-anak (dan anak jalanan) harus segera dihentikan,” tegas Bambang.

Terlebih Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi Hak-hak anak (KHA) melalui Keppres No. 36/1990. Sehingga, kata Bambang, seorang dewasa yang menggunakan anak untuk tujuan seksual, apa pun alasannya, harus dipandang sebagai pelaku kejahatan yang patut mendapatkan hukuman berat.

“Anak yang menjadi korban eksploitasi seksual dipaksa harus menjalani situasi yang sangat buruk. Perkembangan diri anak secara fisik, mental dan sosial menjadi terganggu,”tandasnya.

“Hukuman berat bagi pelaku kejahatan terhadap anak-anak sebagai upaya penjera bagi pelakunya dan orang lain yang akan berbuat sama,”papar Bambang. st5