Hening Budiyawati, Keblusuk Jadi Aktivis Tapi Mengasyikkan (Radar Semarang, 2011)

RADAR SEMARANG, Minggu, 9 Januari 2011

Menjadi seorang aktivis tidak selalu dicita-citakan dari kecil. Namun komunitas dan lingkungan yang membawanya pada kesadaran untuk berada di jalur perjuangan. Dan Hening Budiawati, Koordinator Setara, LSM yang konsen terhadap anak jalanan ini, menorehkan semua itu dalam hidupnya. Seperti apa?

DALAM kamus hidupnya, Hening saat kecil hingga kuliah di Akademi Bahasa Asing (ABA) 17 Agustus Jalan Seteran Semarang 1994 hampir kelar, tak begitu mengenal apa itu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Apalagi untuk memilih hidup memperjuangkan anak-anak jalanan. Sama sekali tidak ada.

Meski menyukai dan terlibat dalam organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala), dia adalah seorang mahasiswa yang lurus seperti harapan bapaknya yang kepala desa dan ibunya PNS penilik sekolah di Banjarnegara. Bahkan anak bungsu dari 7 bersaudara ini juga tak pernah menyadari jalan hidupnya akan berubah.

Ketika di akhir kuliah, dia tak pernah menyadari jalan hidupnya akan berubah. Secara tidak sengaja dia ditawari mengajar Bahasa Inggris terhadap anak jalanan oleh native speaker perempuan ABA dari Australia, Rapheal Jane Eaton. Yang kemudian menjadi dosen di kampusnya. Kala itu, Hening masih tipikal mahasiswa yang setelah lulus akan mencari kerja formal yang mapan.

“Rapheal ini sebelum dikontrak di ABA, sangat dekat dengan Mapala. Kami sering ngobrol. Lalu dia ngajak aku, mengajar bahasa Inggris pada anak jalanan di rumah singgah milik Departemen Sosial di Johar Semarang. Saya pun mau. Dasar awalnya, ya simpati saja,” kata lajang yang bercita-cita memiliki lembaga pendidikan ini.

Dia pun mulai bersimpati terhadap anak jalanan. Bahkan ketika Hening pulang kampung ke Banjarnegara, hatinya trenyuh kala melihat anak jalanan ngamen di bus yang ditumpanginya.

Kepekaan perasaannya terhadap ketidakadilan mulai terasah saat dia ngobrol dengan anak-anak jalan di rumah singgah. Banyak hal yang dibicarakan, termasuk jati diri masing-masing anak jalanan. Hal itu menumbuhkan rasa empatinya.

Namun sayang, dunia baru yang cukup menarik hatinya itu hanya bertahan 3 bulan. Rumah singgah itu ditutup. Anak jalanan yang tadinya terurus, kembali ke jalanan. Ada yang di Perempatan Imam Bonjol, Tugu Muda, Stasiun Kereta Api Poncol dan Pasar Johar. “Waktu itu saya dan Rapheal tetap mendatangi mereka di tempat anak-anak jalanan itu mangkal untuk mengajar bahasa Inggris. Tujuan kami ya ingin memberikan ketrampilan pada mereka untuk bekal hidupnya,” harapannya waktu itu masih simple.

Namun melihat nasib anak jalanan yang tidak terurus, mendorongnya dengan Rapheal mencari informasi sebuah lembaga yang bisa memberikan bantuan. “Saya benar-benar masih buta tentang LSM atau hal lainnya. Tujuannya dulu hanya mencarikan bantuan agar mereka terurus lagi,” ungkapnya.

Karena tak kunjung menemukan tempat, pada 1997 awal terketuk hatinya untuk mencarikan tempat bagi anak jalanan di daerah Johar. Meski begitu, dirinya tetap berusaha keras mencari bantuan. Sampai akhirnya ada informasi bahwa Pusat Studi Wanita (PSW) Undip juga menangani anak jalanan. Tapi sayang, ketika datang ke kantor sekretariat PSW tidak ada orang. Lalu mencari lagi, dan dapat informasi ada orang yang peduli anak jalanan bernama di Semarang, namanya Winarso. “Mas Winarso ini , ternyata sudah cukup lama melakukan perjuangan terhadap anak jalanan,” tuturnya bersyukur.

Setelah itu, Hening yang tadinya buta tentang LSM, mulai mengenal tokoh-tokoh LSM anak jalanan, mulai yang bernama Odi Shalahuddin, M. Farid, Dedi dan lain-lain. Dan ternyata mereka juga tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS). “Lalu kami terus intens melakukan diskusi dengan PAJS, dan mendapatkan informasi banyak. Ternyata anak jalanan tak sekadar cari duit untuk jajan dan memenuhi kebutuhan mereka. Dari situlah pengetahuan saya bertambah tentang isu anak, terutama hak anak, kata Hening yang merasakan sejak saat itu jalan hidupnya semakin berubah dan jauh lebih menantang.

Dia menyadari menjadi seorang aktivis yang konsen pada anak jalanan, awalnya keblusuk (terperosok, red). Namun, mengasyikkan. Terbangunnya komitmen untuk tetap berkegiatan dengan anak-anak jalanan. “Lalu saya memutuskan untuk bergabung dengan PAJS. Tahun 1999 membangun Yayasan Setara. Waktu itu mengajak beberapa dosen Undip, seperti Darmanto Jatman, Frida, Dewanto, Andriyani Sumanto, M. Farid, dan lain-lain untuk menjadi dewan pengurus. Dan kami bersyukur, mereka setuju dan bertahan hingga sekarang,” imbuhnya (ida nur laylai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *