Hening Budiyawati, Pendamping Setia Anak Jalanan (Suara Merdeka, 2012)

SUARA MERDEKA, Minggu, 2 Desember 2012, Halaman 18

Oleh Noni Arnee 

Cita-citanya sejak SD hanya satu. Ingin menjadi guru seperti ibu. Tapi perkenalan dengan anak-anak jalanan di Semarang mengubah segalanya. Hening Budiyawati justru menjadi pekerja sosial di Yayasan Setara yang didirikan bersama sejumlah temannya. Yayasan ini fokus menangani masalah anak jalanan.

*****

Aktivitasnya tersebut berawal ketika seorang warga negara Australia meminta bantuannya mengajar keterampilan bahasa Inggris untuk anak jalanan.

“Saya bersedia karena dosen dan native speaker saya itu juga voluntir di overseas. Ini juga kesempatan mengajar,” kenang alumnus AKABA 17 Agustus 45 ini.

Berangkat dari keinginan itu, di akhir masa kelulusannya tahun 1997, ia mulai bergerak di rumah singgah milik Dinas Sosial. Hanya mengajar selama 2 bulan. Pemerintah menutup rumah singgah karena krisis politik waktu itu.

Meski begitu, kedekatan dengan anak jalanan tetap terjalin meski fokus perhatian berubah. Tidak sekadar belajar tapi menjadi teman bicara. “Kami mencari anak-anak di perempatan Imam Bonjol, Stasiun Poncol, Pasar Johar hanya ingin bertemu dan ngobrol. Bahkan sampai memotong rambut dan kuku mereka pun kami lakukan.”

Penutupan rumah singgah tersebut sebenarnya membuat anak jalanan kecewa. Karena itu, dia mencari tempat dan orang untuk bantu mereka. Sebuah los di lantai dua di pasar Johar sempat dimanfaatkan untuk berkegiatan. Berbekal jaringan dari warga Australia itu, Hening bertemu dengan Winarso, ketua Paguyuban Anak Jalanan Semarang yang mempunyai program rumah singgah di daerah Bulu, Semarang.

“Kami bergabung tapi situasi politik tidak menentu, aktivitas rumah singgah sering berpindah. Koordinasi dan rapat pun di tempat kos. Bahkan temanku memilih pulang ke negaranya,” imbuh perempuan asal Banjarnegara ini.

Tahun 1999, Yayasan Setara resmi dibentuk dengan bantuan sebuah lembaga hibah dari masyarakat Jerman untuk mengurusi anak jalanan. Mereka juga mengajak beberapa tokoh di Semarang menjadi dewan penasihat. Hal ini dilakukan karena situasi politik sebelum reformasi. “Saat itu orang tak dikenal bisa datang malam-malam mengobrak-abrik dan merusak rumah singgah,” kenang dia yang lahir 25 November ini.

Rumah singgah menjadi program pertama di Semarang untuk menampung anak jalanan. Hampir setiap hari bersama anak jalanan membuat empatinya semakin menggebu. Hening kemudian belajar tentang hak dan tumbuh kembang anak-anak. Berbagai metode digunakan agar misinya mengentaskan anak jalanan sukses. “Semua learning by doing untuk mengurusi mereka dan mencari treatment yang tepat khususnya untuk anak jalanan perempuan yang rentan kekerasan fisik, seksual dan eksploitasi,” ujar Koordinator Yayasan Setara ini.

 

Tak Mudah

Survei Yayasan Setara menyebutkan 46 persen anak jalanan perempuan menjadi korban eksploitasi seksual. Hal ini yang menjadi dasar Hening dan kawan-kawan berinisiatif membantun shelter khusus perempuan di Ngaliyan. “Pemicunya kompleks. Tidak hanya masalah ekonomi tapi kekerasan dan situasi keluarga yang tidak nyaman karena pola asuh abused membuat anak jalanan semakin bertambah.”

Tidak mudah awalnya bagi mereka tinggal di shelter. Tapi anak usia 15-17 tahun itu diajak mengelola shelter. Membersihkan, memasak, membuat aturan bersama, iuran untuk mencukupi kebutuhan hingga membiasakan hidup lebih teratur. Proses adaptasi cukup berat. Setidaknya butuh lima bulan saja untuk membiasakan mereka tinggal di shelter yang dilengkapi dengan ruang berekspresi.

“Mereka sering protes dan kabur lagi karena terbiasa tidur di jalanan dengan teman laki-laki. Pelanggaran itu biasa. Berkelahi hanya karena rebutan kunci sampai merusak shelter, kebakaran karena rokok. Hingga mencuri stok makanan.”

Akibatnya, warga sekitar shelter protes dan hampir mengusir mereka karena dianggap mengganggu kenyamanan warga, tidak tertib dan mengotori lingkungan. Dalam tempo dua tahun, ada 14 anak jalanan akhirnya mau pulang ke rumah. Menikah dan punya pekerjaan baru yang lebih baik.

Dua tahun tinggal di shelter bersama anak jalanan menjadi pengalaman luar biasa dan pembelajaran bagi Hening. Dia mengakui cukup terlatih untuk memahami situasi dan kondisi. “Saya mempelajari karakter. Sebenarnya stres, tapi harus dihadapi. Kuncinya komunikasi dan memposisikan mereka sebagai kawan. Itu sebuah penghargaan bagi mereka.”

Hening mengaku mendampingi mereka berisiko tinggi. “Tetapi saya dilindungi, mungkin karena kehadiran saya bermanfaat. Namun saya tetap waspada bahkan menyiapkan tongkat bisbol untuk jaga-jaga.”

Pada perkembangannya kegiatan dengan anak jalanan terus berubah seiring dengan kondisi dan kebutuhan. Kini ia juga berinisiatif membentuk forum orangtua dengan basis di kampung dan komunitas.

Hening mengatakan, isu besar tentang eksploitasi seksual komersial terhadap anak (ESKA) tidak berubah. Karena itu pihaknya kini membentuk forum anti ESKA yang beranggotakan pelajar karena tingginya praktik prostitusi terselubung di kalangan pelajar.

“Mereka diberdayakan menjadi edukator informasi tentagn ESKA karena lebih mudah masuk ke wilayah itu. Tugasnya monitoring dengan mengidentifikasi dan memetakan jaringan prostitusi pelajar.”

Hingga kini Setara mendampingi sedikitnya 76 anak jalanan dan seratusan pelajar yang menjadi sukarelawan. “Siapa lagi yang memperhatikan dan membantu kalau tidak diawali dari komitmen personal. Meski tidak semua berhasil, setidaknya cita-cita saya terwujud meski dalam bentuk yang lain. Menjadi guru bagi anjal,” katanya (92).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *