SUARA MERDEKA, Sabtu, 13 Desember 2003

SEMARANG –Puluhan orang dari berbagai elemen masyarakat menggelar unjuk rasa menentang perdagangan manusia, khususnya anak dan perempuan, Jumat (12/12) di Semarang. Aksi tersebut dimulai pukul 09.40 dari depan Masjid Baiturrahman, Simpanglima, menuju Kantor Gubernur.

Peserta aksi yang mengenakan kaus seragam putih bertulisan “Kita dapat mencegah perdagangan anak” itu diikuti oleh puluhan anak jalanan, orangtua anak jalanan, LSM dan mahasiswa.

Sambil mengusung spanduk besar bertulisan “Manusia hidup bukan untuk diperdagangkan” dan berbagai poster, massa bergerak menuju ke Kantor Gubernuran melalui rute Simpanglima-Jalan Pahlawan-Kantor Gubernur. Tampak pula seorang ibu sambil menggendong anaknya bergabung dalam barisan.

Poster yang diacung-acungkan di antaranya bertulisan “Anak bukan pemuas nafsu seksual”. Selama di perjalanan mereka meneriakkan yel-yel perjuangan dan menentang penjualan anak. “Hentikan penjualan anak sekarang juga!” kata Yuli, koordinator aksi, sambil menyebutkan aksi ini dilakukan serentak di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan, 12 Desember 2000 ditandatangani protokol mencegah, menekan, dan menghukum perdagangan perempuan dan anak.

Berkaitan dengan hal itu, Indonesia Against Child Trafficking (ACTs/ Anti Perdagangan Anak) dan International ACTs Campaign, bersama dengan LSM, organisasi mahasiswa, pemerhati anak dan perempuan serta masyarakat sipil mempromosikan hari tersebut sebagai Hari Anti-Perdagangan Perempuan dan Anak.

Setiba di Kantor Gubernuran, mereka melakukan orasi dan menggelar happening art. Sejumlah anak “memanggungkan” gerakan teatrikal jaringan perdagangan anak-anak. Dua orang perempuan dipaksa broker, yang selanjutnya menjebloskan ke sindikat yang membawa mereka ke jurang kesengsaraan.(H3,G1-83K)