Nurul Arifin (Dok. Setara)

Nurul Arifin (Dok. Setara)

Suara Merdeka, 30 Mei 2004

SEMARANG– Seratus anak jalanan memadati ruang pertemuan Museum Ronggowarsito, Sabtu (29/5) sore. Sesekali muncul celetukan-celetukan khas anak jalanan. Sementara di muka kursi barisan depan, Nurul Arifin berdiri menyanyikan sebuah lagu, yang lagi-lagi khas anak jalanan.

“Kalau kena penyakit menular, seperti SP (sifhilis-Red), apa bisa diobati dengan minum supertetra, Mbak?” tanya salah seorang anak berusia 10 tahun dalam Dialog Kesehatan Reproduksi Bersama Nurul Arifin yang diselenggarakan Yayasan Setara.

Mbak Nurul, aku njaluk jakete entuk ora? (Mbak, Nurul, boleh saya minta jaketnya)?” lontar seorang anak lain menimpali.

Berbagai pertanyaan ditimpali celetukan sejenis diajukan kepada bintang tamu Nurul Arifin. Meski penuh tawa, anak-anak dan sejumlah orang tua tampak antusias mengikuti jalannya diskusi.

Tampil bersama dr Irwan, Nurul harus menghadapi berbagai pertanyaan anak jalanan dan orang tua seputar kesehatan reproduksi. Tentu saja dalam bahasa mereka. Meski acap terlihat kerepotan menerjemahkan bahasa kesehatan ke dalam ‘prokem’ jalanan, para pembicara berusaha menyampaikan pentingnya pemeliharaan kesehatan alat reproduksi.

Rawan HIV/AIDS 

Jika tidak berhati-hati, dorongan seksual itu bisa membawa bencana. Seperti dikatakan Nurul, anak jalanan merupakan pihak yang sangat rawan terkena penyakit HIV/AIDS. Pada awalnya, jelas dia, penderita HIV/AIDS tidak menunjukkan tanda-tanda seperti orang sakit. Namun lambat laun, ketika penyakit itu bertambah parah, penderita HIV/AIDS semakin lemah.

“Tanda-tandanya antara lain demam dan berkepanjangan, batuk tak sembuh-sembuh, dan lainnya. Jika ini terus berlanjut, penderita bisa meninggal dunia.”

Kepada anak-anak jalanan, Nurul berpesan agar berhati-hati dan menjaga supaya tidak terjangkit penyakit menular seksual. “Bagi kalian yang bertato, hati-hati jika memakai jarum suntik sebab bisa menularkan AIDS,” pesan Nurul berkali-kali.

Saat ini, kata Nurul jumlah penderita HIV/AIDS di Jateng tercatat mencapai 99 orang. Terdiri atas 76 orang penderita HIV dan 23 orang penderita AIDS. Meski data ini, menurut Nurul jauh dari kenyataan sesungguhnya, anak-anak jalanan cukup begidik ketika mendengar penjelasan pembicara.

“Sampai saat ini sudah ada 13 orang yang meninggal akibat HIV/AIDS,” ujar Nurul. (nik -64)