House Parents Lebih Mengena (Radar Semarang, 2007)

Radar Semarang, 1 April 2007

KURANG efektifnya program penampungan rumah singgah anak jalanan, membuat Kantor Bagian Sosial Setda Kota Semarang berubah pikiran. Sesuai arahan Wali Kota Sukawi Sutarip, para anak jalanan yang ditampung di sejumlah rumah singgah, akan diambil oleh orangtua asuh melalui program house parents. Tujuannya, agar saat diambil anak asuh, tidak timbul hal-hal yang merugikan.

“Langkah kita setelah dibina di rumah singgah dan betul-betul bisa lepas dari jalanan, masa depan mereka bisa dibangun dengan tinggal bersama orang tua asuh.

Ini pembinaan anjal lanjutan yang setelah dibina di RSPA,” kata Kepala Bagian Sosial Drs Mustohar.

Mustohar mengakui, program pengentasan anjal yang dilakukan pemkot beberapa tahun lalu sampai saat ini belum tuntas. Ini, kata dia, karena penanganan anak jalan (anjal) tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Butuh peran serta masyarakat dan kerjasama lintas sektoral yang komprehensif. Untuk pengentasan anjal, diakui pemkot lebih banyak bekerjasama dengan rumah singgah penampungan anjal (RSPA) dan LSM anjal.

Dikatakan, tingginya jumlah anjal karena kota Semarang merupakan kota metropolitan yang menjadi sasaran masyarakat urban. Anjal di kota Semarang kebanyakan bukan dari asli Semarang. Untuk program pemkot dalam mengentaskan anjal, dimulai dari larangan memberi uang di jalan dirasa sudah cukup efektif.

Dikatakan, pengentasan anjal terkait dengan perubahan mentalitas anak. Tak mudah mengubah anak yang hidup di jalan dengan aturan yang sangat longgar menjadi anak normal yang tertib dan mengikuti aturan. Dia menyontohkan pengalaman wali kota yang mengasuh sekitar 60 anjal, masih ada mereka yang lepas dan turun kembali ke jalan.

“Untuk mengentaskan mereka agar tidak ke jalan, program yang kita lakukan cukup efektif. Kita tidak bergerak sendiri. Ada 5 RSPA yang kita berdayakan untuk pengentasan anjal. Dan Pemkot memberikan bantuan dana,” kata Mustohar.

Data di Bagian Sosial Pemkot mengungkapkan ada 6 LSM / RSPA yang terlibat dalam penanangan anjal. Namun dari jumlah tersebut, hanya 5 yang mendapatkan bantuan dana APBD pemkot. Kelimanya, RSPA yang mendapat bantuan dana APBD Pemkot adalah RSPA Tunas Harapan (Lembaga Sosial Abdi Bangsa) Jalan Sendang Utara III/43 Gemah, Pedurungan; RPSA ‘Gratama’ (Yayasan Gratama) Jalan Jangli Krajan Barat IV / 230 B Semarang; dan RSPA Mutiara (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) Taman Borobudur Utara XX/! Manyaran. Lainnya, RPSA Anak Bangsa (Yayasan Sosial Soegiyapranata) Jalan Emplak 1-3 Semarang; dan RSPA YKKS (Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegiyapranata) Jalan Kedungmundu Raya 26 Sambiroto.

Untuk LSM Setara Jalan Tumpang Raya 94 Sampangan tidak mendapatkan bantuan dana APBD. Mustohar mengatakan LSM tersebut menolak bantuan dari Pemkot karena sudah mendapatkan bantuan dana dari NGO luar negeri.

Mustohar mengatakan, data jumlah anjal di Kota Semarang yang sudah masuk pembinaan LSM dan RSPA ada 898 anak. Mereka yang masih mempunyai orang tua ada 747 anak dan tidak punya orangtua 41 anak. Karena masih banyak yang punya orang tua, program yang dilakukan pemkot dan RSPA tidak hanya kepada anjal. Orang tua para anjal juga dilibatkan dalma program pengentasan. Caranya dengan memberikan bantuan modal usaha ketrampilan kepada orangtua.

“Banyak yang masih punya orang tua, 90 persen lebih. Jadi program yang kita lakukan untuk mengentaskan anjal juga berlaku ke orang tua dengan memberikan bantuan modal,” ujarnya.

Kasubbag Rehabilitasi Sosial Wardoyo menambahkan untuk pemberdayaan orang tua anjal hasil kerjasama degnan ‘RSPA pada 2005 lalu telah diberikan bantuan modal Rp 1 juta kepada 60 orang. Bantuan modal yang dikelola RSPA diberikan juga kepada 60 anjal. Di luar kerjasama dengan RSPAm pemkot juga memberikan bantuan kepada 20 anjal masing-masing sebesar Rp 500 ribu. Pada 2006 diberikan bantuan modal kepada 20 orang tua masing-masing Rp 750 ribu. (dhi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *