Jogja, kota layak anak dipertanyakan (Harian Jogja, 2009)

HARIAN JOGJA, Sabtu Pahing, 5 Desember 2009, Halaman 22

  • Razia anak jalanan belum selesai

Oleh : Miftahul Ulum

JOGJA: Gelar kota layak anak yang diperoleh Kota Jogja dipertanyakan sebab razia anak jalanan dan buruh anak menjadi masalah laten di kota ini.

“Kasus penahanan, pemenjaraan terhadap anak jalanan masih memprihatinkan. Sehingga gelar kota layak anak tidak tepat disandang Kota Jogja,” kata Fathuddin Muchtar, peneliti yayasan Samin, organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang kampanye pemenuhan hak anak, Jumat (4/12).

Berdasar data Samin, sepanjang 2007 penahanan, penangkapan anak di Kota Jogja mencapai 90 kasus. Setahun berselang, pada 2008 kasus meningkat menjadi 120 kasus. Anak jalanan sering menjadi korban utama penahanan dan penangkapan aparat.

Selain penahanan, pembantu rumah tangga yang terdiri dari anak-anak di Kota Jogja disinyalir tinggi. Terlebih permintaan terhadap pembantu rumah tangga ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Fathuddin menilai, gelar kota layak anak yang disandang Jogja terlalu mengecilkan masalah.

Terlebih gelar tersebut hanya didasarkan pada penilaian kebijakan. Kebijakan pembangunan fasilitas layak anak menjadi ukuran utama suatu kota dinilai layak bagi anak.

Perihal kasus perdagangan anak, Fathuddin mensinyalir Kota Jogja dijadikan kota transit perdagangan. Terlebih secara nasional, kota yang berada di DIY seperti Gunung Kidul dan Bantul menjadi kota asal korban perdagangan.

“Korban mayoritas didasari faktor ekonomi,” katanya. Kondisi ekonomi sebagai latar belakang perdagangan anak terjadi pula di Jawa Tengah.

Hening Budiyawati, peneliti Setara Merdeka, organisasi non pemerintah yang konsen terhadap advokasi perdagangan anak menguraikan, tawaran pekerjaan menjadi modus utama perdagangan anak.

“Masyarakat harus lebih selektif memilih pekerjaan guna menghindari kasus perdagangan anak, “ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *