Jumlah Anak Jalanan Cenderung Meningkat (Radar Semarang, 2008)

Radar Semarang, Senin, 21 Juli 2008 

SEMARANG – Meski sudah lama coba diatasi dengan berbagai macam cara dan program baik pemerintah maupun Non Government Organization (NGO/LSM), tampaknya fenomena anak jalanan (anjal) terus menjadi tema global. Di Kota Semarang sendiri, beberapa tahun penanganan tidak kunjung membuahkan hasil.

Hening Budiyawati, Pengurus Harian Setara, mendefinisikan anak jalanan adalah seseorang berumur di bawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian waktunya atau seluruh waktunya di jalanan. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya.

Unicef memperkirakan ada sekitar 100 juta anak jalanan di dunia. Di Asia, menurut perkiraan Childhope Asia, sebuah NGO yang berbasis di Philipina, memperkirakan ada sekitar 25 sampai 30 juta anak jalanan. Di Indonesia, data Departemen Sosial tahun 1998 menunjukkan ada sekitar 50.000 anak jalanan.

Kondisi ini diperparah efek krisis ekonomi yang telah meningkatkan jumlah anjal yang dikalkulasi sebesar 400 persen.

Bagaimana di Semarang? Kanwil Departemen Sosial Jawa Tengah pada 1999 mencatat ada sekitar 1.500 anjal di Semarang. Sumber lain memperkirakan sekitar 2.000 anak jalanan (Tabloid Manunggal, edisi V/Thn XVII/April-Mei 1998). Sebelum krisis terjadi (1997), Persatuan Anak Jalanan Semarang (PAJS) memperkirakan ada 700 teman sebayanya di jalanan Kota Lumpia ini. Dengan demikian, terjadi peningkatan jumlah hampir 200 persen.

Data terbaru pada 2007, Yayasan Setara mencatat selama tiga tahun terakhir ini di Kota Semarang terdapat 416 anak jalanan. Dan di 2008 ini, survei terbaru belum dirilis Setara. Namun dikhawatirkan kecenderungannya kembali meningkat. Penyebabnya jelas, dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memperngaruhi meningkatnya harga bahan pokok diyakini juga meningkatkan jumlah keluarga miskin sebagai penghasil anak jalanan.

“Secara kasat mata, mungkin kita atau orang-orang bisa melihat di perempatan dan sudut Kota Semarang. Jumlah anak jalanan sekarang ini cenderung meningkat. Apalagi di saat liburan sekolah, banyak anjal baru yang memanfaatkan waktu luang dengan mengemis di jalan,” tutur Hening.

Selain itu, ia juga menyebutkan waktu pergantian tahun ajaran sebagai waktu bertambahnya anjal-anjal baru. Dari hasil pengalamannya selama bertahun-tahun mengamati anak jalanan di Semarang, ia menyimpulkan sebagian para lulusan SD atau SMP memilih tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Tingginya biaya sekolah menyebabkan mereka berpikir realistis dan pragmatis, yaitu mencari uang. Ya, tapi masalahnya, di saat keterampilan belum memadai dan para pengusaha jelas tak mau dijerat hukum karena memperkerjakan anak di bawah umur, maka mereka pun terpaksa bekerja sekenanya. Menjual apa saja, dari penjual asongan hingga penjual rasa kasihan.

Berapa jumlah peningkatannya? Secara pasti, Hening belum dapat menyebutkan. “Tapi kalau kemarin-kemarin sekitar 10-an anak per titik, sekarang bisa dua kali lipatnya, jadi 20-an anak,” taksirnya.

Mereka menyebar di berbagai titik kota Semarang. Di antaranya di sekitar Tugu Muda, kawasan Simpang Lima, pasar Johar, Bundaran Kalibanteng, Perempatan Metro, Pasar Karangayu, dan ADA Banyumanik.

Pekerjaannya bermacam-macam. Menurut data penelitian PAJS, mereka yang bekerja sebagai pengamen ada sekitar 41,1 persen, tukang semir 22,2 persen, penjual koran 15,6 persen, ciblek 7,8 persen, dan sisanya bekerja apa saja. Termasuk menjadi mayeng (pemungut barang sampah).

Menurut Ketua PAJS Winarto, asal anak-anak jalanan itu terbanyak dari Kota Semarang sendiri yaitu sebesar 60 persen. Sedang daerah lainnya atau luar Kota Semarang “menyumbang” 40 persen anjal, misalnya Purwodadi atau Demak.

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan mereka di jalan? Setara mencatat penyebabnya antara lain akibat persoalan keluarga di rumah, faktor ekonomi, tak cocok dengan teman di lingkungan rumah, serta lantaran pengaruh teman.

Sedang dilihat dari domisili, anak jalanan meliputi dua kategori. Pertama, anak jalanan yang masih tinggal dengan orangtuanya atau keluarganya (children in the street), dan anak jalanan yang benar-benar lepas dari keluarganya serta hidup sembarangan di jalanan (children of the street). (dib/wah) 

Sumber : http://www.jawapos.co.id/radar/index.php?act=detail&rid=14500

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *