Kompas, Minggu, 29 Agustus 1999

IA lari dari rumah ke Simpanglima, Semarang. Tiga hari jadi pengemis, ia lantas diajak seorang ibu ke Sunankuning, sebuah lokalisasi wanita tuna susila di kota itu. Dipaksa melayani oom-oom, sementara bayarannya diambil mami (begitu panggilan sang mucikari), Rina sakit hati. Tak tahan. Belakangan melarikan diri lagi.”Saya kembali ke jalan,” ujar remaja berusia 16 tahun ini, ketika ditemui di jalan protokol Semarang, pekan lalu. Lalu, untuk bertahan hidup, “Saya terpaksa menerima tawaran ‘main’ dari jalanan.”

Kisah Rina terdengar klasik. Begitu terus dari masa ke masa, dari satu tempat ke tempat lain. Ibunya meninggal saat ia berusia enam tahun. Beberapa tahun kemudian ayahnya kawin lagi. Kehadiran ibu tiri mengubah kehidupannya, karena saat lulus SMP, dia dipaksa orangtuanya menikah dengan lelaki tua yang kaya.

“Saya berontak. Saya lari dengan pacar saya. Tetapi, ia renggut keperawanan saya. Saya tidak sanggup menerima kenyataan ini. Saya memutuskan lari ke Semarang,” ujarnya.

Dan Rina pun hingga kini terdampar di jalanan Kota Semarang, menjajakan dagangan: tubuhnya sendiri. Ia sadar, risiko sangat tinggi. “Saya pernah digilir lebih dari satu orang di dalam mobil. Setelah selesai, saya diturunkan begitu saja di jalan tanpa dibayar. Pedih rasanya, waktu itu,” aku Rina.

Kapokkah Rina? Tidak. Profesinya terus dijalankan. Sementara itu, ia juga memimpikan kehidupan normal: berkeluarga, suatu kali kelak. Untuk itu, ia cari pacar. Untung dapat. Dan pacar tetapnya itu, katanya, mau menikahinya (meskipun, perempuan yang tinggal di rumah kos-kosan ini mengaku masih melayani pelanggan).

Tetapi, mungkin perjalanan tidak akan mulus sebab, “Orangtua pacar saya tidak tahu siapa saya sesungguhnya. Saya takut sekali kalau sampai mereka menghina saya, karena itu saya tidak banyak berharap.”

***

RINA hanyalah satu dari ratusan anak jalanan perempuan di Semarang. Mereka masih di bawah umur, tetapi terpaksa melacurkan diri di jalanan. Hampir setiap malam mereka turun ke jalan, menunggu tawaran lelaki hidung belang.

Fenomena anak jalanan perempuan yang dilacurkan atau melacurkan diri, bagi orang Semarang bukan sesuatu yang baru. Sejak tahun 1997, keberadaan mereka menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan masyarakat, juga Pemda Kodya Semarang.

Di Semarang, ada panggilan khusus untuk mereka. Ciblek. Jika diindonesiakan, artinya burung kecil yang lincah. Sebutan ini kemudian berkembang sebagai singkatan daricilik-cilik betah melek (anak kecil yang sanggup tidak tidur semalaman).

Belakangan, ciblek malah dianggap sebagai akronim cilik-cilik iso digemblek. Artinya, anak kecil yang bisa dijadikan simpanan atau diajak berkencan dengan imbalan.

Usia 16 tahun seperti Rina sama dengan siswi kelas 1 atau 2 SMU. Masih terlalu muda untuk terjun menjajakan diri. Tetapi, ternyata masih banyak pelacur cilik lain yang berusia jauh lebih muda dari Rina.

Yayasan Setara Semarang dalam penelitian tahun 1999, misalnya, menemukan anak perempuan jalanan yang melacurkan diri pada usia amat muda, 10 tahun. Ek, begitu namanya disingkat, baru duduk di bangku kelas 6 salah satu SD di Semarang. Umurnya kini 11 tahun. Tetapi, tidak seperti teman-temannya yang saban malam sibuk menggarap PR, Ek kelayapan memperdagangkan seksualitasnya.

Mungkin Ek tak akan begini, kalau tidak diperkosa tetangganya di sebuah rumah kosong pada usia 9 tahun. Ketika beban mentalnya hendak dibagi kepada ibunya, bukan dekapan yang diperoleh, tetapi hardikan. Ek bingung. Ia tak tahan. Setahun kemudian, ia lari ke jalanan, semula sebagai pengamen. Berikutnya, jadi pelacur.

Orangtuanya tahu, tetapi diam saja. Akibatnya, Ek semakin terjerumus, bahkan tak jarang menjadi korban kekerasan seksual.

“Saya melakukannya karena saya ingin mempunyai uang banyak untuk keluarga dan bisa beli televisi, sepeda motor atau perabotan rumah,” ungkap Ek kepada Hening Budiyawati, pendamping anak jalanan Semarang.

Yayasan Setara menemukan 28,5 persen anak yang hidup di jalanan berusia 12 tahun. Tempat mereka mangkal pun tidak sulit ditemui. Anak jalanan perempuan bisa ditemui di kawasan Simpanglima, Pasar Johar, Pasar Karangayu, Tugu Muda, Terminal Terboyo, Stasiun Poncol, Manggala, Pasar Bulu, dan banyak tempat lain. Dari lokasi tersebut, Simpanglima dan Pasar Johar tempat paling stragis bagi anak jalanan perempuan.

***

BANYAK orang berpikir, kemiskinan merupakan faktor dominan yang menyebabkan anak jalanan perempuan dilacurkan. Dari pengalaman yang diungkapkan anak jalanan perempuan, problem keluarga dan kekerasan seksual yang dialami merupakan faktor dominan yang mendorong mereka terjun ke jalan.

Selama tiga tahun terakhir, jumlah anak perempuan yang memilih hidup di jalanan terus meningkat. Penelitian Yayasan Duta Awam tahun 1997 menemukan 7,8 anak jalanan perempuan dilacurkan. Penelitian Pusat Studi Wanita (PSW) Undip tahun 1998 menemukan jumlah anak yang dilacurkan meningkat mencapai 28 persen.

Peningkatan yang cukup tajam terjadi tahun 1999, ketika Yayasan Setara Semarang, menemukan 46,4 persen anak perempuan jalanan diindikasikan kuat sebagai anak yang dilacurkan.

Bahkan jumlah anak jalan perempuan yang terjun dalam dunia pelacuran, diduga lebih besar dari angka penelitian yang ada. Sejumlah anak masih tertutup dan tidak langsung mengakui keterlibatan mereka dalam dunia prostitusi. Umumnya, mereka baru berani mengakui secara jujur setelah beberapa kali ditemui.

Secara pasti, jumlah anak jalanan perempuan sebenarnya di Semarang, belum diperoleh. Namun, menurut Winarso, Ketua Pengurus Harian Yayasan Setara Semarang, dari sekitar 2.000 anak jalanan di Semarang, anak jalanan perempuan berkisar 100-200 orang.

Memang, tidak semua anak jalanan perempuan sepenuhnya berada di dunia pelacuran. Sejumlah anak masih melakukan kegiatan lain seperti mengamen, menjual koran, dan lain-lain untuk mendapatkan uang. Tetapi, kadang-kadang mereka juga menawarkan jasa seksual. (sonya hellen sinombor)

Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/9908/29/utama/keci01.htm