Kekerasan Seksual Anak (Kompas, 2007)

Yayasan Samin Kampanye Selama 30 Hari

KOMPAS, 1 Desember 2007

Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia atau Samin akan menggelar kampanye selama 30 hari untuk menentang prostitusi anak, perdagangan anak demi tujuan seksual, serta pornografi anak. Kampanye akan berlangsung pada 1 – 30 Desember dengan pemutaran video klip dan lagu-lagu di beberapa radio dan televisi di Kota Semarang, Solo, Banyumas, Wonosobo, dan Yogyakarta.

Dalam kampanye di daerah-daerah yang dinilai rawan eksploitasi anak tersebut, Samin bekerjasama dengan Yayasan Setara, Sari, Forbi, dan Insan. “Kami ingin mengubah paradigma, anak yang terlibat dalam kekerasan seksual tetap merupakan korban. Kampanye melalui musik dinilai lebih efektif karena daya jangkaunya lebih luas,” ujar Koordinator Program Samin Odi Shalahuddin, Jumat (30/11).

Koordinator Pelaksana Kampanye Wilayah DI Yogyakarta Bagus Wicaksono berharap masyarakat bisa sadar terhadap bahaya eksploitasi seks komersial pada anak. Perdagangan anak di Indonesia telah menembus angka 40.000-70.000 anak per tahun dengan jaringan yang terorganisasi baik.

Penelitian secara nasional pada 2006 menunjukkan sebanyak 30 persen dari pekerja seks komersial masih berumur di bawah usia 18 tahun. Kasus pornografi yang melibakan anak juga terus terjadi. Karena penyebarannya bersifat individual, kasus pornografi anak sulit terungkap.

Kematian

Menurut Bagus, kesadaran masyarakat masih bekum memadai. Hal ini antara lain terlihat dari maraknya penyebaran materi pornografi anak yang seharusnya bisa difilter oleh masyarakat.

Odi menambahkan kasus HIV/AIDS juga mengancam anak-anak yang dieksploitasi secara seksual. Di DIY, misalnya, telah terjadi kematian anak jalanan yang didampingi Samin karena HIV/AIDS. Pada 2007 seorang anak jalanan meninggal dunia karena penyakit tersebut, sedangkan pada 2006 tercatat kematian dua anak.

Pada 1999, menurut Penanggung Jawab Yayasan Setara Hening Budiyanti, terdapat 46,9 persen anak jalanan yang terlibat prostitusi anak di Semarang. Mereka juga cenderung terlibat penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Akibatnya, angka penderita penyakit menular seksual pun cukup tinggi.

“Permintaan pelacur anak-anak tinggi terutama karena mitos bisa awet muda dan tidak beresiko terkena HIV/AIDS. Prostitusi anak sulit terungkap karena cenderung terselubung. Anak tetaplah korban sehingga tidak boleh diadili,” kata Odi. (WKM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *