Sinar Harapan, 13 Maret 2003 

JAKARTA—Masih segar dalam ingatan kasus perkosaan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap anak tirinya di Bogor pertengahan Februari 2004 lalu. Kepada petugas, pelaku perkosaan tersebut, Yadi, warga Cidokom, Gunung Sindur, Bogor, mengaku sudah memperkosa anak tirinya sejak Agustus 2003.

Korban tak berani menolak karena diancam tak akan diberi uang jajan. Kasus tersebut hanyalah satu dari ratusan kasus yang pernah terjadi dan menjadi fenomena ”gunung es” terhadap kekerasan seksual yang hingga kini masih belum juga tercairkan. Di Jakarta, perkosaan terhadap anak juga bukan hal langka.

LBH Apik Jakarta dalam laporan akhir tahunnya menyebutkan, dari 239 kasus kekerasan seksual yang terjadi pada Januari–Oktober 2003, sekitar 50 persen di antaranya menimpa anak-anak. Data itu mencakup kasus perkosaan, sodomi, paedofilia, percabulan, dan pelecehan seksual. Sementara itu, dari 32 kasus kekerasan seksual yang terjadi bulan April 2002, 28 kasus atau 87,5 persen di antaranya terjadi pada anak di bawah umur.

Realitasnya, kekerasan seksual terhadap anak bisa jadi jauh lebih tinggi dari angka di atas.

Harus diingat, perkosaan adalah hal yang sensitif, sulit diungkapkan atau dibuktikan. Tak ubahnya gunung es yang dari permukaan air seringkali hanya terlihat puncaknya, data kasus perkosaan yang tercatat barangkali hanya mewakili sebagian kecil dari realitas yang sesungguhnya.

Kekerasan seksual pada anak seringkali meninggalkan bekas traumatis yang sulit dihilangkan. Demikian dikemukakan Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), ketika ditemui SH, Selasa (9/3).

”Jangan diharapkan (dampak) perkosaan itu mudah disembuhkan. Saya membantu beberapa orang yang menjadi korban perkosaan ketika mereka masih anak-anak, dan banyak di antara mereka yang masih merasa dendam, takut menikah, merasa rendah diri, dan berbagai trauma lain akibat perkosaan itu, meski kini mereka sudah dewasa atau bahkan sudah menikah. Luka akibat perkosa-an itu sangat sulit disembuh-kan,” ujar Seto Mulyadi, yang akrab dipanggil Kak Seto ini.

Selain itu, perkosaan terhadap anak juga menjadi salah satu faktor munculnya prostitusi. Setidaknya itulah yang dikatakan Hening Budiyati, aktivis Yayasan Setara—yayasan yang melakukan pendampingan terhadap anak jalanan di Semarang—ketika ditemui dalam kesempatan berbeda.

”Sebanyak 30 persen dari anak perempuan jalanan yang saya teliti,

kehilangan keperawanan mereka adalah akibat perkosaan oleh orang-orang yang mereka kenal, dan hampir dari setengah anak jalanan perempuan yang saya teliti (46,4 persen) berada masuk prostitusi,” ujarnya.

Yuni (bukan nama sebenarnya), salah seorang pekerja seks komersial yang ditemui SH di Panti Sosial Kedoya, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu, juga mengemukakan perkosaan yang ia alami semasa masih anak-anak sebagai penyebab keterlibatannya dalam prostitusi.

”Waktu masih SMP, saya diperkosa oleh ayah tiri saya. Setelah itu, saya pikir kepalang basah, saya sekalian jadi begini,” ujarnya.

Jika perkosaan terhadap anak menimbulkan dampak yang demikian luas, tentu tak ada salahnya jika kita mencoba mencermati faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perkosaan terhadap anak. Dengan demikian, setidaknya kita bisa memperkecil kemungkinan terjadinya musibah serupa.

Baik Kak Seto maupun Kepala Unit Reserse Intelijen Polsek Cengkareng Inspektur Satu Suprianto mengatakan penyebab utama terjadinya perkosaan terhadap anak adalah tersedianya peluang atau kesempatan.

Ajari Anak Melawan

Cengkareng, daerah dengan tingkat perkosaan tertinggi di Jakbar, merupakan daerah dimana banyak terdapat kompleks petak-petak sewaan yang biasanya amat padat. Fasilitas seperti kamar mandi, biasanya digunakan oleh beberapa keluarga sekaligus. ”Bisa dibayangkan, semua aktivitas satu keluarga dilakukan dalam ruangan petak rumah kontrakan yang hanya seluas 3×4 meter, mereka tidur juga beramai-ramai dalam satu ruangan. Kamar mandi dipakai beramai-ramai oleh sejumlah rumah petak. Dalam lingkungan seperti itu, peluang terjadinya perkosaan relatif lebih besar. Bisa dikatakan, salah satu faktor terjadinya perkosaan adalah kemiskinan,” papar Suprianto.

Hal tak jauh berbeda disampaikan Kak Seto. ”Semua hal bisa terjadi karena ada peluang,” tegas Kak Seto. Karena itu, menurutnya, orang tua harus memberikan perhatian lebih terhadap keamanan anak-anak mereka. Ia juga mengingatkan anak belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri tanpa bantuan orang dewasa.

”Perlindungan terhadap anak harus ditingkatkan, karena selama ini keteledoran orang tua juga turut berperan. Hal itu tak hanya berlaku untuk anak perempuan, tetapi juga anak laki-laki. Orang tua kadang tidak sadar bahwa bahayanya terlalu tinggi,” katanya.

Selain itu, Kak Seto menganjurkan orang tua supaya mengajarkan anaknya untuk berani mengatakan tidak atau menentang ketika si anak mendapatkan bujukan yang mengarah kepada kemungkinan terjadinya tindak kekerasan seksual. Sebagai contoh, di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di Jakarta Selatan, murid-muridnya diajarkan untuk melawan, berteriak, berontak terhadap suatu keadaan yang memungkinkan mereka untuk berontak.

Ia juga mengingatkan agar anak tidak terlalu mempercayai orang-orang yang memiliki hubungan dekat, karena pelaku perkosaan justru biasanya adalah orang yang dekat dengan anak. Pernyataan Kak Seto itu didasarkan pada data Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang menyebutkan bahwa sebanyak 69 persen dari kasus kekerasan seksual anak dilakukan oleh orang yang dikenal baik oleh korban.

Sebanyak 17,2 persen di antara kasus yang terjadi dilakukan oleh orang tua korban (incest). Pada tahun 1999, misalnya, tercatat 289 kasus kekerasan seksual terhadap anak, 129 kasus dilakukan oleh ayah korban dan 160 kasus dilakukan oleh guru si anak.

”Perkosaan juga bisa terjadi antarkeluarga, dalam bentuk incest. Itu bisa terjadi, mungkin oleh ayah, saudara sepupu atau paman, mungkin juga kakek, atau orang-orang terdekat seperti tetangga. Karena peluangnya sangat tinggi,” katanya.

”Orang Jakarta yang sibuk, stres, seringkali nggak sempat mengawasi itu. Selain itu lingkungan juga serba lu-lu, gue-gue. Di daerah mungkin tidak begitu rawan, tapi di Jakarta yang sempit dan berdesak-desakan seperti di daerah Setia Kawan, Grogol, memungkinkan terjadi seperti itu. Orang tua juga seringkali sibuk dan berpikir bahwa anak bisa melindungi diri mereka sendiri. Nah, itulah yang salah,” paparnya lagi.

Tampaknya sepele, tapi barangkali, kewaspadaan itulah yang diperlukan, agar perkosaan terhadap anak tak terulang lagi. ”Pelaku tindakan seksual pada anak itu bisa siapa saja, termasuk Saudara sendiri. Biasanya orang kalau sudah kejadian, baru berkata ‘masak tega sih, nggak disangka’. Tapi saat itu, nasi sudah menjadi bubur,” Kak Seto mengingatkan. (SH/ruth hesti utami)

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0403/13/sh02.html