Sumber: Suara Merdeka Cyber News, 6 September 2004, 

Yogyakarta, CyberNews. Keluarga korban perdagangan anak perempuan yang dijadikan pekerja seks komersial di Batam diancam akan dibunuh oleh orang-orang tidak dikenal. Mereka diduga merupakan kaki tangan pelaku utama perdagangan anak yang saat ini kabur ke Malaysia.

Salah seorang aktivis Yayasan Setara Semarang, Hening  Budiyawati mengungkapkan hal itu di sekretariat Serikat Anak Merdeka Indonesia (Samin) Yogyakarta, Senin (6/9). Melihat kondisi tersebut, beberapa lembaga swadaya masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kemudian mengevakuasi korban dan keluarganya di tempat yang dirahasiakan.

”Akhir-akhir ini korban dan keluarganya mendapat teror dan intimidasi dari orang-orang yang diduga kaki tangan pelaku perdagangan anak,” ujar Hening. Dia menjelaskan, korban adalah seorang anak perempuan asal Banjarnegara bernama Tas (14). Pada bulan Juni 2004 lalu, korban diiming-imingi oleh Par untuk bekerja di Batam. Keduanya lantas berangkat ke sana dan ternyata ditempatkan di sebuah tempat hiburan karaoke di Kampung Pelita, Batam.

Di karaoke itu, Tas tidak sendirian. Sudah ada beberapa anak dan perempuan muda lain. Dari cerita antarmereka ternyata gadis-gadis belia tersebut telah dijual dengan harga Rp 1.500.000 oleh pemilik karaoke. Korban bersama seorang temannya berusaha melarikan diri tapi ketahuan satpam dan akhirnya dikurung selama sehari semalam di kamar tanpa lampu dan tidak diberi makan.

Dari situlah berawal penderitaan Tas. Selama enam minggu di sana dia di-booking 13 kali oleh lelaki hidung belang. Bahkan sebelumnya dia juga diperkosa oleh salah seorang yang mengaku saudara pelaku utama perdagangan anak-anak.

”Akibat melayani dan diperkosa itulah dia terinfeksi penyakit kelamin. Untuk berobat saja harus utang pada pemilik karaoke yang harus dibayar dengan terus bekerja di sana,” papar Ning. 

Lari

Kisah perdagangan anak untuk prostitusi sampai ke telinga para aktivis LSM di Batam. Mereka berupaya mengeluarkannya dari “neraka jahanam” dengan berpura-pura mem-booking korban. Setelah lolos, mereka melaporkan ke aparat kepolisian setempat.

Kendati demikian, penderitaan Tas belum berakhir. Dia diminta menyelesaikan persoalan yang menimpanya secara damai dan kekeluargaan. Di kantor polisi setempat itulah datang seseorang mengaku sebagai manajer karaoke tempat korban dipekerjakan menjadi pekerja seks komersial, dan mengintimidasi agar tidak melanjutkan kasus tersebut.

Karena tidak ingin proses berbelit-belit, korban menuruti keinginan pihak karaoke untuk berdamai. Setelah itu dia dan kakaknya pulang kampung tapi singgah dulu di Yogyakarta. ”Perdagangan anak dan perempuan adalah tindak pidana yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Inilah anehnya hukum kita, sering sekali terjadi privatisasi hukum pidana,” keluh Moh Farid, salah seorang anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia juga aktivis SAMIN Yogyakarta.

Didampingi kuasa hukumnya, Buyung Ridwan SH, korban lantas melaporkan kejadian yang menimpanya ke Kepolisian Resor Banjarnegara. Polisi menindaklanjuti dengan menangkap salah seorang pelaku. Namun pelaku utama belum tertangkap dan diduga lari ke Malaysia.

”Kami berharap aparat kepolisian mengungkap tuntas kasus tersebut apalagi keluarga korban sudah mendapat ancaman sampai bakal dibunuh jika tidak mencabut laporan,” tegas Buyung. ( agung priyo wicaksono/cn05 )

Sumber:  http://suaramerdeka.com/cybernews/harian/0409/06/dar4.htm