Ketika Anak-anak Bersuara dalam Peringatan 25 tahun KHA

Gubernur bersama anak2_a

Walaupun kondisi tubuh belum begitu nyaman, ruang pertemuan dengan anak-anak dan para aktivis pendamping anak, mampu mengusir ketidaknyamanan menjadi kegembiraan. Itulah yang saya alami saat hadir dalam acara peringatan 25 Tahun KHA di Semarang yang berlangsung pada tanggal 22-23 November 2014.

Saat berjumpa dengan anak-anak yang berasal dari kelompok anak jalanan, mantan anak yang berkonflik dengan hukum, anak korban kekerasan seksual, anak kampung urban, dan anak-anak dari pedesaan, ini mengingatkan pada ruang-ruang pertemuan pada tahun 1990-an, tatkala anak-anak pinggiran berjuang untuk hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal mana, beberapa tahun terakhir, menjadi peristiwa yang langka.

Selain itu, kehadiran para aktivis dari berbagai kota di Jawa Tengah, mengingatkan pula pada ruang pertemuan yang pernah digelarpada tahun 2002, tatkala berbagai organisasi masyarakat sipil berhimpun dalam Forum Masyarakat Peduli Anak Jawa Tengah yang memperingati hari Anak selama satu bulan penuh di berbagai kota, dan pada puncaknya dilaksanakan jamboree anak yang melibatkan hampir seribu anak dari berbagai pelosok Jawa Tengah.

Selain itu, acara ini, menjadi semacam reuni dari para pendekar pejuang anak, yang pernah bekerjasama dalam perhelatan besar semacam Jambore Gema Merdeka di Tanah Gempa yang berlangsung selama delapan hari di Yogyakarta yang melibatkan lebih dari 10,000 anak di tahun 2006, Jambore anak Merdeka di Kaliurang tahun 2007, dan Temu Anak Nasional Anti Perdagangan Manusia di tahun 2008,

Perwakilan anak dari Sembilan kota/Kabupaten dari tiga propinsi, berkumpul di Hotel Saraswati Semarang, mereka mendiskusikan tentang situasi kehidupan yang dialami, membangun mimpi-mimpi perubahan atas kehidupan yang lebih baik, dan menggagas upaya-upaya untuk mencapainya. Hasil diskusi ini, dirumuskan kembali oleh tim yang beranggotakan perwakilan dari setiap kelompok menjadi Deklarasi Anak.

Selain itu, melalui workshop teater, kepenulisan, gambar dan musik, mereka  menyuarakan situasi dan pandangan-pandangannya ke dalam karya. Hasil yang diperoleh dipamerkan dan dipentaskan pada puncak acara di tanggal 23 November yang bertempat di halaman kantor gubernur Jawa Tengah.

Peserta bertambah banyak dengan hadirnya anak-anak dari tujuh Sekolah Dasar yang telah mempersiapkan karya-karya mereka dalam ruang pameran, dan pementasan.

Acara semakin semarak dengan hadirnya Gubernur Jawa Tengah, dan para pejabat teras yang berbaur bersama anak-anak tanpa batas. Dialog dua arah antara anak-anak dengan Gubernur benar-benar terjadi. Ganjar Pranowo, tanpa rasa rikuh langsung duduk di tengah-tengah kerumunan anak, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Tidak seperti pejabat pada umumnya, tajuknya “dialog” namun yang berlangsung malah ceramah yang membosankan.

Ganjar mampu melontarkan joke-joke segar yang membangkitkan semangat anak-anak. Tepuk tangan meriah membahana tatkala sang Gubernur langsung mengenakan kaos acara yang diserahkan oleh seorang perwakilan anak.

Pada kesempatan itu, Ganjar Pranowo juga memberikan pesan tertulis yang berbunyi: Mereka (Anak-anak Kita) butuh cinta dan perhatian. Gandeng tangan bersama untuk anak-anak Indonesia yang lebih baik.

Anak-anak melalui perwakilannya, membacakan hasil rumusan deklarasi anak, yang kemudian naskah deklarasi tersebut diberikan kepada Gubernur Jawa Tengah.

 “Seharusnya ada workshop lagi yang melibatkan banyak kelompok anak, bersama SKPD-SKPD dan juga Gubernur,” usul Gubernur yang mendapatkan respon kegembiraan dari anak-anak. Nah, ini menjadi PR, bagi SKPD atau Organisasi Non Pemerintah untuk menindaklanjuti usulan yang telah dilontarkan ini.

Penulis: Odi Shalahuddin

Sumber: Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *