SUARA MERDEKA, 6 Februari 1998, Halaman 1

PENGANTAR REDAKSI : Anak-anak jalanan kembali membuat sensasi. Setelah menjadi “musuh” para pemakai jalan karena dianggap sering mengganggu arus lalu lintas, kali ini sebagian dari mereka memperlihatkan gaya pacaran bebas: tanpa risi berpelukan dan berciuman di tempat umum. Fenomena itu jelas menumbuhkan anggapan bahwa free sex sangat dekat dengan kehidupan mereka. Wartawan Suara Merdeka, Ganug Nugroho Adi, turun ke jalan dan mencoba mengungkap seputar kehidupan biologis para “anak bangau” itu dalam dua tulisan.

______________________________________________________________

MALAM membawa udara basah. Hujan deras yang turun selepas maghrib masih menyisakan gerimis. Di sebuah taman kota, sepasang remaja belasan tahun berjingkat. Yang laki-laki memeluk bahu teman perempuannya, seolah ingin melindungi dari gerimis.

Dua pasang kaki masih berjingkat, menyeberangi sebuah jalan protokol yang mulai lengang, lalu mengendap-endap memasuki pagar sebuah bangunan. Hap hap! Mereka pun lenyap di kegelapan sambil terus berpelukan.

Malam itu udara dingin. “Kami nggak punya rumah. Karena itu, banyak kegiatan yang seharusnya dilakukan dalam ruang tertutup, kami lakukan di mana saja, asal gelap. Gelap dan sepi, itulah dinding kami,” ujar seorang dari mereka.

Sampai disini, tampaknya belum ada yang tahu, apa sebenarnya yang mereka maksudkan dengan kalimat “kegiatan yang harus dilakukan dalam ruang tertutup.”

Dan inilah cerita lengkap tentang mereka. Sepasang remaja belasan tahun yang baru saja masuk pagar sebuah bangunan itu ternyata anak-anak tanpa tempat tinggal – biasa disebut anak jalanan. Amat mengejutkan jika yang merea maksud dengan “kegiatan yang dilakukan dalam ruang tertutup” itu ternyata hubungan seks.

Bocah-bocah belasan tahun itu sudah mengenal seks? ”Saya kenal Yanti (bukan nama sebenarnya-Red) sudah lama, karena sering ketemu pas ngamen atau membantu angkat-junjung barang di Pasar Johar. Sekitar dua tahun lalu, saya memang nggak merasa apa-apa kalau tidur di sebelahnya, nggak nafsu.

Selama ini kami memang tinggal seatap bersama kawan-kawan lain di sekitar jembatan Berok. Tapi kok sekarang jadi lain dan kebetulan dia juga. Ya sudah, semuanya terjadi,” ungkap Ucok (16), seorang anak jalanan yang ditemui Suara Merdeka saat ngamen di Jl. Pemuda.

Remaja tanggung asal Kuningan, Jabar, itu menuturkan pula, sebagian besar anak jalanan memang tak memiliki tempat tinggal tetap. Karena itu mereka, baik laki-laki maupun perempuan, biasanya tinggal bersama-sama. Entah di bawah jembatan, emper toko, entah bangunan kosong. Pokoknya, bareng-bareng. Tidak ada di antara mereka yang tinggal sendiri.

“Karena sering bersama, mungkin kami saling jatuh cinta. Ini kalau bisa disebut cinta, karena saya juga nggak mengerti benar cinta itu apa,” tambah Ucok.

Cinta, kasih sayang, atau apa pun namanya bagi mereka tampaknya memang bukan sesuatu yang perlu dipikirkan benar. Seks bebas, pada akhirnya, begitu akrab dengan kehidupan anak-anak jalanan.

Tidak Murahan

Bagaimana tak bisa disebut sebagai seks bebas jika ternyata seorang anak jalanan tak hanya memiliki satu pasangan. Sebut saja Ramli (15), pemulung yang sering beroperasi di sekitar Tanah Mas.

“Saya pernah (berhubungan seks) dengan Yanti, Rini, Titin dan Sri. Kadang-kadang saya ngasih yang sedikit (Rp 2.000), tapi kadang-kadang hanya ngasih sebungkus nasi.”

Semurah itukah “harga” mereka? “Nggak. Jangan anggap saya murahan. Saya melakukannya suka sama suka kok. Kalau ada orang luar yang ngajak, belum tentu saya mau meskipun dibayar Rp 50 ribu,” tangkis Titin (14), sedikit jengkel.

Pengetahuan gadis berkulit agak bersih itu tentang seks berawal dari pengalaman buruk. Tahun lalu, ketika tinggal bersama ibunya di Jakarta (sebagai pemulung), seorang laki-laki yang sudah dia anggap sebagai ayah sendiri merenggut kehormatannya. Bahkan, perbuatan yang menorehkan luka di jiwanya itu terulang hampir tiap hari.

“Karena itu saya minggat, numpang gerbong barang hingga akhirnya sampai disini (Semarang).”

Di mata Titin, Ramli memang pahlawan. “Dia itu perhatian sekali. Kalau saya akan tidur, dia selalu mencari koran atau kain untuk alas dan selimut. Ramli juga sering ngasih nasi atau uang, lama-lama saya suka padanya. Ya sudah, sejak enam bulan lalu kami pacaran,” tuturnya polos.

Kehidupan yang serba keras, bebas, dan liar, tampaknya sangat mempengaruhi ekspresi pacaran mereka. Tak seperti remaja seusia mereka (punya orangtua, rumah, dan sekolah), bagi anak-anak jalanan pacaran tak cukup hanya dengan menulis surat cinta, nonton film, atau makan bersama.

“Kalau ketemu biasanya ya ‘begituan’. Hampir setiap hari, malah,” tambah Titin malu-malu.

Dimana mereka biasa kencan? “Ya di mana-mana, yang penting gelap,” sahut Ramli.

Tapi, menurut remaja gondrong itu, biasanya mereka kencan di Lawangsewu. Selain gelap, juga sepi. “Banyak teman yang kencan di sana. Kami tahu tempat itu aman juga dari teman-teman. Kalau malam, tempat itu memang sepi dan gelap.”

Selain Lawangsewu, menurut beberapa anak jalanan, tempat rendezvous lain yang “aman” adalah Pasar Johar dan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Kalau di gerobak Tugu Muda itu?

“Itu hanya mesra-mesraan biasa.”

Nggak malu dilihat orang?”

“Kan tertutup gerobak. Kalau mereka (orang-orang) tahu, berarti mereka ngintip. Tapi sekarang kami nggak boleh di sana lagi, gara-gara ada foto di koran itu.”

Tukar Pasangan

Setelah berhubungan sejauh itu, apalah mereka juga berpikir untuk meresmikan hubungan dalam sebuah perkawinan? Beberapa anak jalanan memandang perkawinan sesuatu yang masih jauh.

Betapa tidak, syarat paling gampang untuk datang ke penghulu pun belum mereka penuhi, yakni masalah usia. Karena masih di bawah usia 17 tahun, mereka juga belum punya KTP.

“Tapi saya juga belum berpikir ke sana. Kecil-kecil kok menikah, lucu!” kata Ucok.

Karena itu, gaya pacaran mereka yang bebas agaknya merupakan akibat langsung dari hari-hari keras yang harus mereka lalui. Kehidupan anak-anak jalanan yang umumnya jauh dari bingkai agama dan norma, menjadikan sosialisasi mereka dengan lingkungan – termasuk dengan lawan jenis – sedikit longgar.

Terbukti, hubungan seks dalam masa pacaran ternyata tak otomatis menumbuhkan kesetiaan yang membati buta. Putus hubungan dari kekasih, bagi mereka, tetap merupakan sesuatu yang wajar.

“Sebelum dengan Sri, saya pernah pacaran dengan Surti. Putus ya cari lagi,” kata Jayus (16), enteng sekali.

Bagi perempuan anak jalanan, persoalannya tentu tak sesederhana Jayus, meskipun pada akhirnya menerima kenyataan pahit bahwa mereka bukan lagi gadis yang utuh.

“Di mana-mana laki-laki memang seperti itu, nggak anak jalanan, nggak anak gedongan. Dan cewek memang selalu rugi. Tapi percuma menyesal,” ujar Titin.

Cerita Jayus yang putus pacar, kemudian menjalin kasih dengan Sri, tampaknya kisah klise, karena biasa terulang dan terjadi pada siapa saja tanpa pandang status sosial. Tapi Ramli punya cerita menarik, bahkan mungkin bisa membuat sebagian orang mengelus dada.

Dia bercerita pernah bertukar pasangan dengan pacar dua temannya, Joko dan Barno. Ketiga remaja itu, dengan alasan ingin “mencoba” pasangan teman, nekat “barter”. Ironisnya, pacar mereka pun menyanggupi.

“Gampangnya, kalau saya akan ‘memakai’ Ningsih, saya harus izin Joko sebagai pacarnya. Demikian pula sebaliknya, kalau Joko ingin kencan dengan Titin, dia harus dapat izin dari saya. Semuanya nggak bayar,” jelas Ramli.

Bentuk “percobaan” yang lain adalah “jajan” di lokalisasi. “Kalau pas punya banyak uang, saya mandi, pinjam pakaian bersih milik teman, lalu ke lokalisasi.”

Tidak Semuanya

Tentu saja tak semua anak jalanan menjalani seks bebas. Bocah-bocah penjual koran di Jl. Pandanaran, misalnya, membantah hidup liar seperti itu. “Sumpah kami nggak sebebas itu. Cerita-cerita jelek tentang kami memang pernah kami dengar, tapi kami nggak. Jadi, jangan dipukul rata semua anak jalanan seperti mereka,” ujar Jarot (15).

Beberapa anak jalanan yang tergabung dalam Paguyuban Anak Jalanan Semarang (PAJS) juga membantah “keliaran” tersebut.

“Banyak dari kami yang bekerja dan bersikap baik-baik, tapi mengapa kami selalu mendapat cap yang jelek karena ada kelompok lain yang berbuat kurang pantas? Padahal, mereka belum tentu berasal dari kelompok kami. Mengapa tindakan kami yang positif nggak pernah dilihat?” ujar seorang anggota PAJS. (Bersambung)

                                                               

 Tulisan Terkait