MINGGU PAGI, No. 12 Tahun 51, Minggu I Oktober 1998, Halaman 5

  • Anjar (10) : Seharusnya Kelas 3 SD
  • Yono (15) : Dipukul 3 Pemuda

AKIBAT krismon, jumlah anak jalanan membengkak. Satu riset, di Semarnag menyebut akhir 1996 jumlah anak jalanan yang terdata sekitar 500 orang. Pertengahan 1997, naik menjadi 700 anak. Kemudian melonjak drastis setelah krismon. Hingga Maret 1998, terdata lebih dari 2000 anak.

Data yang dikutip Odi Shalahuddin, aktivis dari Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (Samin) itu, juga menunjuk : anak jalanan pendatang dari luar Semarang, keberadaannya kian tergusur oleh anak jalanan penduduk setempat. “Sekarang didominasi anak setempat. Kalau diprosentase, yang dari luar kota tinggal sekitar 20 persen dari keseluruhan anak jalanan Semarang,” kata relawan yang telah 4 tahun menyelami komunitas anak jalanan Semarang itu.

Penyebab naik tajamnya populasi anak jalanan jelas: karena himpitan ekonomi. Mereka turun ke jalan mencari uang di sektor informal. Menjadi pengasong, jual koran, ngamen atau tukang semir.

SALAH SATU CONTOH Anjar (10). Bocah bocah hitam kurus itu mengaku baru Juli kemarin turun kejalan.

“Terpaksa, mas. Orang tua saya buruh proyek bangunan. Kerjanya tak menentu, apalagi sekarang sepi. Sedang jumlah saudara saya lima,” ceritanya. Anjar seharusnya sekarang kelas 3SD. Tapi karena keluarga tak mampu, padahal belum satu pun dari saudaranya mentas, bocah kecil itu terpaksa meninggalkan sekolahdan kampung halamannya di Banjarnegara. “Saya ke sini diajak Yusuf, teman tetangga kampung. Dia lebih dulu hidup di Yogya,” katanya sendu.

Siang Anjar jualan koran. tempatnya berpindah-pindah, disekitar Shopping Center dam PKU Muhammadiyah. Malam menyemir sepatu, dengan sasaran para pengunjung lesehan sepanjang Malioboro. Tapi meski telah bekerja siang malam, hasilnya paling banter Rp 5ribu!

“Hanya pas untuk makan tiga kali. Cari uang susah, mas. Saingannya banyak dan mereka jauh lebih tua dan lebih berpengalaman,” katanya lagi.

Soal tempat tinggal, bagi Anjar tak ada masalah. Paling sering tidur di open house <P> yang dusediakan yayasan di kampung Cokrodirjan. Selter tersebut memang disediakan untuk anak jalanan yang ingin tinggal sementara.

Sudah sekitar 4 bulan Anjar berpisah dengan keluarga. Sebanarnya ingin pulang kampung. Sukur bisa melanjutkan sekolah. “Tapi kalau pulang kampung, makan apa? Untuk sementara enak begini!” sambungnya.

SARJONO (16)nlain lagi. Tujuh tahun anak asal Tegal ini hidup dijalan. Pernah di Jakarta, Surabaya dan terakhir di Yogya. Dibanding dua kota besar itu, hidup menggelandang di Yogya jauh lebih enak. Itu dulu. “Sekarang mggak begitu enak. Susah cari duit,” keluhnya.

Sarjono mengaku, sebelum krisis moneter, dari ngamen sehari bisa membawa pulang antara Rp 25 sampai Rp 30 ribu.

“Sebelum krisis, rata-rata penghasilan anak jalanan yang profesinya ngamen di perempatan jalan, memang segitu. Saya mengaku terus terang saja,” katanya sambil mengisap rokok.

“Benar. Saya pun bisa dapat duit segitu kalau mau kerja sehari,” sahut Yono (15) ketika kedua anak itu ketemu ‘MP’ di Kampus Anak Jalanan, Plosokuning Minomartani Ngemplak Sleman.

Hasilnya cukup besar. Tapi sayang, uang hasil jerih payah itu habis untuk foya-foya. “Soalnya saya suka beli pakaian dan makan fried chiken, baginya sih, menikmati gaya hidup orang kaya. Jadinya nggak sempa nabung!” kata Yono, anak yatim piatu dari Jombang.

Yono yang sudah empat tahun menggelandang, mengaku, sekarang merupakan puncak masa sulit mencari duit. Tempat-tempat mangkal strategis, seperti perempatan Demangan, kini telah dikuasai anak-anak kampung. “Kemarin saya dipukuli ramai-ramai oleh 3 pemuda. Mereka menggusur daerah operasi saya dengan kekerasan. Saya nggak bisa melawan, karena tampang mereka serem,” cerita anak berpawakan kecil dan berkulit kuning ini.

“Anak-anak kampung pada turun kejalan. Lahan yang sekiranya subur, mereka rebut. Malah, mahasiswa pun sekarang banyak yang ngamen seperti kami. Berarti kehadiran mereka mengurangi rejeki kami,” sela Sarjono.

Baik Yono maupun Sarjono yang kini sering mangkal di perempatan ring road Condong Catur itu mengaku, sekarang paling banter sehari hanya bisa dapat uang Rp 3ribu. “Buat makan saja kurang,” kata anak-anak yang tinggal di selter Girli di Krangkungan Condong Catur ini.

Untungnya, kini kedua anak itu punya usaha sampingan. Sarjono jualan kaos oblong. Sedang Yono berkat keikutsertaannya dalam program kursus keterampilan yang diadakan Girli, kini sering dapat order membuat aksesoris berupa kalung dan gelang. “Kami sudah jenuh hidup di jalan.

Dengan cara ini semoga bisa menjadi jalan pembuka menuju kehidupan normal,” kata Sarjono. Dar