Korban Keadaan (Suara Merdeka, 1997)

KORBAN KEADAAN

Oleh : Sri Mulyadi

SUARA MERDEKA, 31 Mei 1997, Halaman VI

ANAK  jalanan
Ujudnya nyata korban keadaan
Jauh dari sapaan kawan
Yang muncul justru umpatan  

Tiada tempat mengadu
Tempat curahkan isi kalbu
Tanpa kasih ayah dan ibu
Perlakuan padanya terkesan palsu  

Anak jalanan
Sekedar bertahan mencari makan
Tiada tersentuh program kesejahteraan
Seringnya justru jadi objek penelitian  

KALIMAT Min Pedhet itu mengalir begitu saja ketika dia menginjakkan kaki d iteras rumah sahabatnya, Sastro Gudel. Pengucapan kalimat Itu, kadang diselingi dengan tekanan pada kata-kata tertentu, seperti penyair yang tengah membacakan hasil karyanya.

Sastro Gudel mengamati dari dalam rumahnya dengan perasaan heran, karena lain dibandingkan dengan biasanya. Setelah kata-kata yang meluncur makin amburadul, akhirnya dia menyapa, dan konsentrasi Min Pedhet pun buyar.

“Kamu itu mengganggu konsentrasi saja, Tro,” gerutunya bersungut-sungut.

“Habis, kamu itu kayak seniman karbitan, baca puisi di teras sebagai persiapan di perhelatan akbar yang dihadiri para pejabat.”

“Yang berpuisi itu siapa? Itukan hanya permainan penekanan kata supaya obrolan kita bervariasi, sehingga tidak membosankan.”

***

“KOK kamu bisa beranggapan demikian! Memangnya kamu itu pakar atau pengamat? Jangan-jangan kamu itu sekedar latah atau sirik. Karena, banyak orang membicarakan masalah anak jalanan, kemudian kamu ikut-ikutan. Seperti halnya orang yang tinggal di Timor Timur tiga bulan, sudah berani mengomentari Timtim.”

“Saya tahu, memang kamu itu kadang doyan omong. Tapi berkomentar, itukan tidak sembarang cuap-cuap. Bukan untuk diri sendiri, tetapi orang lain harus mendapat nilai tambah. Jika tidak, pasti mereka tidak mau mendengar atau membaca, seperti menyodorkan album foto kepada orang tetapi gambarnya tidak ada dalam album itu, tak akan memperoleh respons positif.”

“Soal manfaat, kan relatif, Tro. Saya kan Cuma ingin ikut urun rembuk mengenai anak jalanan, bukan soal politik. Jadi kalau kepeleset pun, resikonya paling dicaci oleh anak-anak yang eksistensinya ‘tidak dikehendaki’ banyak pihak itu.”

“Terserah kamu sajalah. Saya, sebagai sahabat, akan berusaha menjadi partner bicara yang baik. Dan kayak-nya omonganmu kok menarik juga. Tadi ada istilah eksistensinya tak dikehendaki segala. Itu maksudnya apa?”

“Ya, seperti kamu ketahui sendiri to, Tro. Berbagai komentar yang muncul itu – meskipun banyak yang terhenti sebatas komentar – kan hampir semua intinya bagaimana menemukan jalan keluar untuk mengentaskan mereka. Kehadirannya kan memang dirasa mengganggu. Terutama yang daerah operasinya di perempatan lampu bang-jo, sebagai peminta atau pengamen.”

“Masyarakat banyak yang merasa “dipojokkan”. Jika memberi, berarti secara nalar tidak mendidik; namun kalau tidak, melihat perjuangan mereka dalam mempertahankan hidup, ya kasihan juga. Apalagi, agama juga mengajurkan kita mengasihi anak-anak seperti itu. Belum lagi jika ditarik ke lubuk hati yang lebih dalam, dan dikaitkan dengan anak, adik, atau saudara yang seusia mereka di rumah.

***

“SALAH sendiri to, Min. Menghadapi anak jalanan saja pakai melibatkan perasaan. Cuek aja, kan beres.”

“Jangan gitu to, Tro. Coba kalau kamu menghadapi sendiri. Kita ini kan orang Timur, yang peka terhadap hal-hal demikian. Belum lagi jika ada bumbu rasa khawatir. Kalau tak memberi takut kendaraan digores atau mungkin diancam, sebab di antara mereka kan ada pula yang berpenampilan dan bertampang sangar. Maka, lengkaplah keterpojokan itu.”

“Kenyataannya, kan memang demikian to, Min. Seperti berita di koran itu, ada penghuni jalanan yang nekat merusak mobil.”

Mbok jangan digebyah-uyah, anak jalanan karakternya pasti demikian. Yang merusak itu, kan orang jalanan. Lagi pula, yang berbuat negatif seperti itu kan hanya sebagian kecil saja.”

“Bukan salah yang menilai to, Min. Kan ada perumpamaan karena nila setitik rusak susu sebelanga. Itu kan bisa saja demikian, akibat nilai setitik rusak “susu” anak jalanan. Apalagi, “nila”-nya kadang beberapa titik.”

“Terserahlah, Tro, bagaimana penilaianmu. Namun, sebaiknya kita jangan terjebak kepada penggeneralisasian anggapan seperti itu. Perlu pikiran jernih. Meskipun mereka hidup di lingkungan yang serta keras, belum tentu adatnya pasti liar, nggak bisa diatur, nakal, tak bisa dipercaya, dan atribut negatif lain.”

“Mereka itu, kan korban keadaan. Kondisi keluarga yang amburadul, lembaga-lembaga sosial belum banyak yang mampu menangani secara tuntas, dampak pembangunan yang belum merata, tangan pemerintah belum mampu menjangkau sebagian dari mereka, dan sebagainya.”

***

“SAYA, kadang juga heran lho,Min. Ngapain banyak pihak kebingungan terhadap kehadiran anak jalanan. Mereka itu belum tentu identik dengan orang susah. Di antaranya, juga tak sedikit yang merasa senang hidup di jalanan. Biasa berlaku semaunya, tak ada pihak mana pun yang ngaru-biru atau mengganggu. Bahkan, pada ciblek (anak jalanan yang jadi pelacur), merasa bangga. Bisa hidup layaknya orang kaya. Jika nasib mujur, bisa naik mobil bagus, dan diajak tidur di hotel berbintang.”

“Komentarmu itu memang tidak salah, Tro. Penilaianmu terhadap anak jalanan memang bisa multidimensi, dari berbagai sudut pandang. Tergantung kita menggunakan kacamata apa. Kondisi ciblek, tentu beda dengan yang jadi pengemis. Keadaan pengemis, juga berbeda dengan yang berjualan koran atau penyemir, dan sebagainya.”

“Namun, jika kita menggunakan kacamata umum, mereka memang berbeda dibanding dengan anak lain. Paling tidak, mengenai pendidikan, unggah-ungguh, atau sopan-santun. Dalam menerjemahkan makna cinta kasih sesama, mereka pun tentu berbeda dengan anak yang sejak kecil direngkuh orang tua dan hidup di lingkungan keluarga baik-baik. Dengan demikian, kalau kita sepakat bahwa mereka dikategorikan sebagai anak “berpenyakit”, obatnya pun kayaknya juga perlu berlainan”.

“Selama ini, kan sudah banyak para pakar yang mengedepankan pendapatnya untuk memecahkan masalah itu to, Min. Jadi, kalau yang berwenang memang berkeinginan menuntaskan, ambil saja alternatif yang mereka sodorkan. Baik berdasar pengalaman, peraturan, hasil penelitian, atau lainnya.”

“Alternatif itu juga bisa, Tro. Namun persoalannya, kan tidak sesederhana itu. Kalau pemecahannya cuma didasarkan asumsi para peneliti dan pengamat, bisa jadi tidak klop. Sebab, bukan tidak mungkin yang oleh para pakar dianggap benar, bagi para anak jalanan juga demikian.”

“Kalau begitu, ya sulit, Min!”

“Jika tidak sulit, ya tidak mungkin sampai berlarut-larut, Tro. Makanya, menurut saya, bila perlu semua pihak yang tersentuh oleh masalah itu baik pekerja sosial, psikolog, pejabat, maupun mahasiswa dikumpulkan untuk membicarakan persoalan tersebut. Anak jalanan sendiri, nampaknya mutlak diikutkan; sebab yang tahu persis tentang mereka, ya mereka sendiri. Sehingga, sekali waktu perlu dijadikan subjek, bukan selamanya jadi objek. Paling tidak “kakak asuh”, atau semacam pengasuh dan pengisi majalah anak jalanan(Jajal) di Yogyakarta itu.”

***

YANG mau memprakarsai saja siapa, Min. Masalah lain yang lebih mendesak  diselesaikan, juga segudang.”

Mbok jangan pesimis begitu to, Tro. Anak jalanan itu kan juga anak bangsa Indonesia. Kalau mereka menginjak dewasa dan jadi pemuda, predikatnya kan juga sebagai tulang punggung negara. Apa itu namanya tidak mendesak dan perlu prioritas?”

“Jika terlambat penanganannya, bisa jadi mereka kembali menjadi korban keadaan. Karena keadaan lingkungan sekitarnya terdiri dari para penjahat, sangat memungkinkan anak-anak itu juga akan mengikuti jejak seniornya. Dan secara kejiwaan, mungkin saja anak-anak itu setelah dewasa memendam rasa dendam akan masa kecilnya yang terlunta-lunta. Sehingga, dorongan menerabas untuk cepat kaya sangat kuat. Jika sudah demikian, larinya ke mana kalau tidak lewat jalan pintas pula.”

“Analisismu itu bisa saja ada benarnya. Namun sekali lagi, siapa yang akan memprakarsai?”

“Siapa tahu dalam seminar penanganan anak jalanan di Semarang yang diprakarsai Program Studi Psikologi dan Pusat Studi Wanita (PSW) Lembaga Penelitian Undip, 2 Juni 1997, bisa menemukan pemecahan masalah. Kecuali itu, kalau saja ada yang mengajukan proposal – baik untuk menemukan cara jitu penanganan maupun realisasinya –, saya yakin tokoh seperti Pak Wali Kota Semarang, Soetrisno Suharto, akan mendukung sepenuhnya.

Sebab, perhatian beliau terhadap anak jalanan sangat besar. Dengan demikian, pembicaraan mengenai anak jalanan tak hanya terhenti sebatas pembicaraan, tetapi ada tindak lanjutnya.”

“Mudah-mudahan, Min. Dan yang bersedia di depan tak sebatas Wali Kota, tetapi juga tokoh agama, pejabat lain, termasuk yang di lingkungan Departemen Sosial, ilmuwan, hartawan, dan sebagainya.

“Seandainya diadakan pondok pesantren khusus bagi anak jalanan, seperti yang diperuntukkan bagi anak nelayan di Pangkep, Sulawesi Selatan, kayaknya juga tidak ada jeleknya lho, Min.”

“Di sana itu, sebelum anak-anak memperoleh bekal yang cukup tak dilepas ke laut. Sedangkan biaya pembinaan dan pendidikan selama di pondok, ditanggung oleh pemerintah lewat APBD.”

“Gagasanmu masuk akal juga, Tro.” Kata Min Pedhet mengakhiri pembicaraan. (41s).

– Sri Mulyadi, wartawan Suara Merdeka di Semarang. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *