Korban Penculikan Alami Shock Berat (Radar Semarang, 2010)

RADAR SEMARANG, Rabu, 17 November 2010

SEMARANG – Korban dugaan penculikan, Ayu Fatnia Wijanarsih, 16, hingga kemarin masih mengalami shock. Ayu akhirnya ditemukan polisi dan ayahnya, Supardjo, di belakang Pasar Ungaran, Kabupaten Semarang, dalam kondisi lemas pada Senin (15/11) malam.

Seperti diberitakan koran ini, Ayu diduga diculik oleh dua pria dan satu wanita sejak Kamis (11/11) malam. Si penculik meminta tebusan Rp 100 juta. Ancaman tersebut disampaikan oleh Ayu melalui pesan singkat ke nomor handphone beberapa teman dan kerabatnya.

Yang menarik, Ayu akhirnya mengaku bisa lepas dari orang yang menyekapnya di Kendal. Dia lantas meminta dijemput di Pasar Ungaran. Sebelumnya Ayu minta dijemput di Gunungpati.

Polisi Masih Meragukan

Benarkah Ayu korban penculikan? Hingga kemarin, Polrestabes Semarang masih meragukan. Kasat Reskrim Polretabes AKBP Asep Jenal Ahmad mengatakan, meski Ayu sudah diketemukan, pihaknya belum bisa memastikan apakah korban benar-benar diculik atau hanya meninggalkan rumah.

“Kita belum mengetahui secara pasti apakah korban benar-benar diculik atau bukan. Sebab kita belum bisa meminta keterangan lebih lanjut dari korban, karena kondisinya masih lemah,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (16/11) kemarin.

Namun, kata Jaenal, pihaknya tetap mendalami kasus tersebut. Menurut Jaenal, untuk, mengetahui motif penculikan polisi harus mendapatkan informasi langsung dari korban. “Kamis (18/11) rencananya akan kita panggil.”

Disinggung keberadaan korban selama disekap oleh para pelaku, Jaenal sedikit memberikan bocoran. Dari hasil pelacakan menggunakan Base Transceiver Station (BTS), korban sempat berada di daerah Jawa Barat. “Pada Senin (15/11) korban sudah berada di Semarang, hingga akhirnya ditemukan.”

Kepada polisi, Ayu meminta olah tempat kejadian perkara (TKP) ditunda, hingga dia sudah benar-benar siap. Sedianya polisi akan langsung melakukan olah TKP. Namun, Ayu menolak, dengan alasan kondisinya masih lemas. Sebelumnya, Ayu sempat divisum di RS Bhayangkara, Majapahit. Setelah itu, Ayu diperbolehkan pulang.

Oleh polisi, Ayu juga sempat diajak menelusuri lokasi penyekapan. Namun saat tiba di Kaliwungu, Ayu mengalami muntah-muntah. Sehingga penelusuran ditunda.

Kemarin, koran ini mendatangi rumah Ayu di jalan Karanganyar Empu Sendok RT 4/ RW 1, Banyumanik. Menurut ayah Ayu, Supardjo, seharusnya hari ini (Selasa, 16/11), anaknya diminta melanjutkan penelusuran.

Namun Ayu minta diundur. Gadis pendiam itu meminta waktu dua hari lagi, dengan alasan kondisi tubuhnya masih lemas. “Dia (Ayu) minta dua hari lagi. Kata Ayu, dia masih shock,” ujar Supardjo.

Pagi kemarin, Ayu hanya berdiam di kamar Tiwi, salah seorang penyewa kamar kos lain. Tiwi merupakan kawan dekat Ayu. Seperti diketahui, keluarga Ayu menghuni kamar kos di sebuah rumah di Karanganyar Empu Sendok Rt 4/ RW 1.

Saat diminta keluar kamar oleh ayahnya untuk menemui wartawan, Ayu berteriak tak mau. “Emoh! Emoh! Emoh!”

Supardjo menduga anaknya masih shock, dan belum sanggup untuk bercerita. Yang menarik, saat (Senin, 15/11) lalu diminta polisi menelusuri lokasi penyekapan, Ayu menolak ditemani ayahnya. Dia pilih didampingi Rusdi, suami Tiwi.

Meski mengaku masih shock, jelang siang Ayu sudah tampak keluar kamar dan beraktivitas sehari-harinya. “Tadi sudah mau keluar dari kamar. Dia sudah mau duduk di depan teras depan rumah kos. Sudah bisa senyum sedikit,” tutur sang ayah.

Hanya, kata Supardjo, anaknya masih belum mau menjelaskan apa-apa. “Kalau saya tanya kronologis peristiwa, jawabannya malah ngalor ngidul tidak jelas.” Ayu hanya berkata dirinya disekap 2 pria dan 1 wanita. Ayu juga tak diberi makan selama 4 hari.

Beberapa kerabat serta teman Supardjo sempat datang untuk menjenguk Ayu. Namun, hingga sore hari, teman-teman Ayu belum ada yang datang menjenguk.

Ditanya soal kabar telah terjadi pencabulan, Supardjo membantah.

“Saya tidak pernah menyatakan kalau anak saya diperkosa, apalagi digilir,” ucap pria yang sekarang sudak tak bekerja itu. Ayu juga mengaku tak diapa-apakan penculik.

“Ayu tidak mengatakan kalau dia diperkosa. Itu seharusnya menunggu hasil visum, yang menurut polisi, baru bisa didapat seminggu kemudian.” Supardjo meminta polisi mengusut tuntas kasus yang menimpa anaknya.

“Ini pekerjaan rumah untuk polisi,” ujar pria tengah baya itu. Dia juga penasaran dengan motif orang-orang yang telah menyekap putrinya. (mg9/isk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *